Headline

Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.

Menghitung Hari Jelang Ramadan, Akses Jalan ke Lokasi Terdampak Banjir Gayo Lues masih Terputus

Amiruddin Abdullah Reubee
16/2/2026 23:55
Menghitung Hari Jelang Ramadan, Akses Jalan ke Lokasi Terdampak Banjir Gayo Lues masih Terputus
Warga melintasi Sungai yang jembatannya rusak di jalur Blang Kejeren-Kecamatan Pining, Kabupaten Gayo Lues.(MI/Amiruddin Abdullah Reubee)

MESKI klaim pemerintah pemulihan pascabanjir Sumatra sudah membaik, sayangnya di lapangan masih seperti pungguk merindukan bulan. Bahkan hingga menjelang bulan Ramadan kehidupan warga terdampak bencana banjir pada 25-26 November 2025 lalu itu sangat memperihatinkan. 

Cukup panjang akses badan jalan atau jalur darat yang belum tersambung dan puluhan jembatan dalam kondisi rusak atau hanyut ke sungai. Akibatnya, pasokan bahan pokok sangat sulit dan pemasara hasil pertanian juga terkendala luar biasa. 

Sesuai penelusuran Media Indonesia, Minggu (15/2) di Kecamatan Pining, Kabupaten Gayo Lues misalnya, harga bahan pokok di lokasi bekas banjir itu cukup tinggi. Itu karena akses jalur darat dari dan ke Blang Kejeren, Ibu Kota Kabupaten Gayo Lues-Kecamatan Pining masih sangat ekstrem. 

Hanya motor trail atau sepeda motor yang didesain khusus dan mobil bertebaran mesin Handel 4x4 yang mampu menembus pedalaman itu terpencil di tengah pengunungan tersebut. Itupun harus menyeberangi sungai, karena beberapa jembatan rangka baja telah hanyut terbawa banjir.

"Itupun kalau tidak hujan deras. Begitu turun hujan, arus sungai naik sehingga tidak bisa lagi menyeberang. Tidak ada hujan pun kalau mobil biasa bisa kandas atau terbawa arus," kata Kepala Desa Pasir Putih, Kecamatan Pining, Kamaruddin, kepada Media Indonesia

Dikatakannya, akibat sulitnya akses jalan, harga berbagai bahan pokok dan kebutuhan keluarga masih cukup tinggi. Misalnya harga telur Rp100.000/papan (30 butir), gula pasir Rp25.000/kg dan minyak goreng Minyakita Rp21.000/liter.

Adapun untuk memenuhi kebutuhan beras, warga penyintas banjir itu masih mengandalkan dari sisa bantuan beberapa waktu lalu. Itu diharapkan mencukupi sampai Lebaran nanti. 

Lalu harga gas elpiji 3 kg (elpiji melon) berkisar Rp35.000-Rp40.000/tabung dan bahan bakar Pertamax Rp18.000-Rp20.000/liter. Untuk komunikasi jarak jaur para warga harus menggunakan jaringan starlink dari batuan relawan kemanusiaan. 

"Itu pun dipasang di menasah (kantor kepala desa). Untuk menelepon harus mendekat sekitar radius 30 meter baru ada jaringan," tutur Kamaruddin. 

Dalam rangka menghadapi bulan Ramada,n warga Kecamatan Pining mengharapkan Pemerintah Provinsi Aceh menggelar pasar murah bahan pokok. Itu untuk meringankan beban mereka dalam kondisi sulit pascabanjir yang diapit bulan puasa. 

Para penyintas banjir di pedalaman Aceh itu merasa terpinggirkan kala mengetahui dalam sepekan terakhir ada pergelaran pasar murah di lokasi lain. Dalam benak mereka terpikir kalaulah pasar bahan pokok bersubsidi itu sampai ke lokasi itu sungguh seperti lailatul qadar di bulan Ramadan. 

"Saya hari ini sengaja menempuh jarak 45 km melewati jalan ekstrem dan pendakian terjal dari Desa Pasir Putih Kecamatan Pining untuk turun ke Ibu Kota Blang Kejeren. Tujuannya adalah untuk mencari informasi dari pemerintah Kabupaten Gayo Lues, apakah ada bantuan bahan pokok atau pasar murah untuk warga kami. Lalu mencari tahu apakah benar ada bantuan daging Mameugang jelang Ramadan," tambah Kamaruddin. (MR/E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik