Headline

Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.

Longsor Sibio-bio Sisakan Duka, Tujuh Warga masih Hilang sejak Bencana Sumatra

Januari Hutabarat
20/2/2026 15:06
Longsor Sibio-bio Sisakan Duka, Tujuh Warga masih Hilang sejak Bencana Sumatra
Opernius Laoly (kiri), suami korban hilang Mitaria Telaumbanua, bersama Obadia Zebua (kanan), suami korban hilang Yuliadi Telaumbanua, menunjukkan kesedihan atas hilangnya anggota keluarga mereka dalam bencana longsor di Desa Sibio-bio, Kecamatan Sibabangu(MI/Januari Hutabarat)

BENCANA longsor melanda Desa Sibio-bio, Kecamatan Sibabangun, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, pada 25 November 2025 sekitar pukul 11.00 WIB. Tiga bulan berlalu, tujuh warga masih hilang namun upaya penanganan pascabencana dinilai belum optimal.

Desa Sibio-bio dihuni sekitar 200 kepala keluarga dan akses utamanya berupa jembatan gantung yang menghubungkan wilayah itu dengan Muara Sibuntuon. Kondisi tersebut membatasi mobilitas warga, termasuk saat terjadi keadaan darurat.

Tujuh warga yang dinyatakan hilang masing-masing Mitaria Telaumbanua, 36, Johanes Sehati Laoly, 14, Jesen Jaluhu, 40, Yuliadi Telaumbanua, 42, Radina Mendrofa, 58, Olifia Zebua, 18, dan Yostoni Laoly, 44.

Opernius Laoly, suami Mitaria Telaumbanua sekaligus ayah Johanes Sehati Laoly, mengatakan keluarganya masih menunggu kepastian nasib kedua anggota keluarganya tersebut. “Anak saya tinggal bersama saya tiga orang, sedangkan istri dan anak saya yang nomor tiga sampai sekarang belum diketahui keberadaannya,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Obadia Zebua, 44, yang kehilangan istrinya, Yuliadi Telaumbanua. Ia menuturkan pencarian sempat dilakukan secara swadaya oleh warga, namun belum membuahkan hasil. Yuliadi tidak kunjung ditemukan.

Keluarga korban menilai sejak bencana terjadi belum ada langkah maksimal dalam pencarian. Mereka pun menegaskan korban yang hilang merupakan korban longsor, bukan banjir.

Upaya pencarian sebenarnya sempat dilakukan oleh pihak kecamatan pada 12 Februari 2026. Namun, kegiatan tersebut mendapat penolakan dari sebagian warga. Mereka kecewa karena metode pencarian yang digunakan masih bersifat manual, sehingga dianggap tidak efektif.

Selain mempertanyakan proses pencarian, warga juga mengeluhkan bantuan tunai yang hingga kini belum mereka terima. Sebagai bentuk kepasrahan atas nasib anggota keluarga yang belum ditemukan, sejumlah keluarga bahkan telah melakukan tabur bunga di lokasi longsor.

Kehilangan tempat tinggal

Penderitaan warga kian bertambah karena sebagian dari mereka juga kehilangan tempat tinggal. Warga mendesak adanya tindakan konkret, baik untuk melanjutkan pencarian secara serius maupun memulihkan kondisi sosial-ekonomi masyarakat terdampak.

Sementara itu, Kepala Desa Sibio-bio, Dami Anus Jendrato, telah dihubungi melalui pesan WhatsApp pada Jumat (20/2/2026). Konfirmasi tersebut mencakup pertanyaan mengenai langkah darurat saat kejadian, alasan mengapa pencarian dinilai tidak maksimal, serta kendala yang dihadapi di lapangan.

Ia juga dimintai penjelasan mengenai transparansi penggunaan Dana Desa dalam tiga tahun terakhir, khususnya terkait anggaran mitigasi bencana, dana tanggap darurat, serta alokasi untuk kegiatan bimbingan teknis (Bimtek). Namun, hingga berita ini diturunkan, Dami belum memberikan jawaban. (JH/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya