Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Hampir 2 Bulan Banjir Berlalu, Penderitaan Warga di Gayo Lues Belum Berakhir

Amiruddin Abdullah Reubee
13/1/2026 18:20
Hampir 2 Bulan Banjir Berlalu, Penderitaan Warga di Gayo Lues Belum Berakhir
Sebuah mobil relawan pengangkut bantuan untuk korban banjir, kandas oleh arus sungai Pining, Kabupaten Gayo Lues, Provinsi Aceh.(MI/Amiruddin Abdullah Reubee)

SUNGGUH lama dan sangat perih penderitaan ribuan warga Kecamatan Pining, Kabupaten Gayo Lues, Aceh. Setelah diterjang banjir dahsyat pada 25-26 November 2025 lalu, hingga kini mereka harus bertahan dalam kekhawatiran yang tidak jelas ujung rimbanya. 

Padahal mereka juga suku bangsa dan anak negeri yang menjunjung tinggi Panji Nusantara Ibu Pertiwi. Tidak seharusnya menanggung kesusahan karena keterlambatan atau kelalaian pengelola bangsa. Apalagi bencana yang mereka telan adalah buah karya keserakahan atau kesewenang-wenangan kebijakan dan keserakahan kelompok berkasta. 

Bagaimana tidak, hingga hari ke-47 setelah ditimpa bencana, warga Kecamatan Pining, Kabupaten Gayo Lues, masih tidur dalam kegelapan malam. Mereka seperti tinggal dalam lubang gua baru karena belum hidup arus listrik sebagaimana sebelumnya. 

Adapun jarak tempuh dari Blang Kejeren, Ibu Kota Kabupaten Gayo Lues, ke Kecamatan Pining sekitar 40 km. Dari sebelumnya perjalanan mobil 1 jam 30 menit sekarang menjadi 3 hingga 4 jam dengan menempuh jalur ekstrem. 

 Itu pun kalau tidak ada hujan yang berakibat berjatuhan tumpukan sedimentasi longsor tebing gunung atau bukan sedang deras arus sungai. Kalau arus sungai meningkat gagal juga. Seperti Sabtu lalu, 1 unit mobil hardtop 4x4 hanyut terbawa arus saat menyeberang sungai. Pasalnya jembatan rangka baja telah putus terbawa air bah saat itu," tutur Masykur tokon masyarakat Kecamatan Pining. 

Sesuai penelusuran Media Indonesia, Senin (12/1) dari 9 Gampong (desa) di kecamatan pedalaman lembah pengunungan itu, 7 di antaranya masih sangat sulit di tembus. Itu karena masih rawan material longsor, badan jalan ambles, dan jembatan putus sehingga sulit dilalui kendaraan. 

Dari 7 desa itu, ada 4 di antaranya baru bisa dilalui oleh mobil khusus. Itu termasuk Desa Pining, Ibu Kota Kecamatan Pining. Caranya harus menggunakan mobil double cabin bertenaga 4x4. Meskipun masih sangat sulit ditembus. 

Sedangkan 3 desa lagi masih cukup parah kerusakan badan jalan dan putus jembatan. Hanya sepeda motor trail yang bisa menjangkaunya. Masing-masing adalah Desa Lesten, Pasir Putih dan Desa Ekan. 

Itu sebabnya harga berbagai bahan pokok di Kecamatan Pining sangat tinggi. Misalnya harga beras kualitas sedang mencapai Rp35.000-Rp38.000/bambu (ukuran 2 liter). 

Lalu harga gula pasir mencapai Rp25.000/kg, BBM (Bahan Bakar Minyak) jenis pertalite Rp25.000-Rp30.000/liter (tergantung pengecer). 

Bahkan gas elpiji sejak banjir besar akhir November 2025 itu tidak pernah masuk lagi ke pedalaman terpencil itu. Semua pangkalan resmi tutup barang tidak boleh dipasok. 

"Kalau gas elpiji masih kosong. Sudah hampir dua bulan menggunakan kayu bakar," kata Masykur. 

Lebih ironis lagi, terputusnya jalur transportasi darat Kecamatan Pining-Blang Kejeren, Ibukota Kabupaten Gayo Lues, bukan saja terhenti pasokan bahan pokok dan barang logistik dari luar. Tapi juga mengundang kehancuran perekonomian warga. 

Pasalnya hasil pertanian dan perkebunan di wilayah lembah bukit nan subur itu tidak bisa dipasarkan keluar. Misalnya buah durian petani Kecamatan Pining yang sedang panen raya, gagal dipasarkan ke luar Kabupaten Gayo Lues. 

Buah durian hasil alam berpohon besar nan tinggi yang memiliki aroma cita rasa khas yang terkenal manis dan nikmat itu jatuh harga. Kalau tahun-tahun sebelumnya banyak agen pengumpul yang masuk menjemput ke lokasi, sekarang sepi tidak ada pembeli. 

"Kalaupun ada dibawa ke luar oleh agen-agen muda menggunakan sepeda motor, hanya sebatas ke Kota Blang Kejeren. Itupun paling 30 buah sekali jalan yang membutuhkan waktu 3 sampai 5 jam. Harganya pun yang ukuran langsung sebelumnya Rp5.000/buah, sekarang Rp10.000/4 buah. Begitu juga utuk ukuran besar yang tahun sebelumnya Rp 25.000/buak, sekarang turun menjadi Rp7.000-Rp8.000/buah," kata Syukri Kepala SD 2 Kecamatan Pining.

Hal yang sama juga terjadi hasil bumi panen kakao dan kemiri. Selain hasilnya anjlok akibat banjir, juga sangat merugikan karena tidak bisa di angkut keluar. Lalu pedagang pemgumpul dari luar pun tidak bidaenjemput barang ke kawasan Pining. 

"Padahal semua hasil itu sumber perekonomian warga di sini. Ketika jalan putus berlarut-larut perekonomian warga terhenti total," tambah tokoh masyarakat lainnya. 

Budayawan Aceh dari Universitas Syiah Kuala (USK) Doktor M Adli Abdullah, melalui Media Indonesia, Senin (12/1) menyampaikan, perbaikan kembali jalur darat kawasan sentra produksi hasil pertanian di Aceh sangat mendesak dilakukan. Pasalnya kawasan dataran tinggi pedalaman bagian tengah dan tenggara seperti Kabupaten Gayo Lues, Aceh Tengah, Bener Meriah, Aceh Tenggara dan pedalaman Lokop hinga Penaron Kabupaten Aceh Timur. 

Kawasan-kawasan itu adalah andalan ketahanan pangan untuk Provinsi Aceh dan penopang pasar dalam negeri seperti Sumatra Utara hingga Pulau Jawa. Bahkan hasil kopi gayo di Bener Meriah, Aceh Tengah dan Gayo Lues sudah merambah pasar dunia. 

"Kalau lokasi lokasi pertanian dan perkebunan setempat, termasuk Pining Gayo Lues sampai kolap, bukan saja terjadi kekacauan kehidupan warga pedalam itu. Tapi juga berpengaruh besar terhadap perekonomian masyarakat Aceh dan meresahkan ketahanan pangan secara umum," tambah Dosen Senior USK itu. (MR/E-4) 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik