Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
SUNGGUH lama dan sangat perih penderitaan ribuan warga Kecamatan Pining, Kabupaten Gayo Lues, Aceh. Setelah diterjang banjir dahsyat pada 25-26 November 2025 lalu, hingga kini mereka harus bertahan dalam kekhawatiran yang tidak jelas ujung rimbanya.
Padahal mereka juga suku bangsa dan anak negeri yang menjunjung tinggi Panji Nusantara Ibu Pertiwi. Tidak seharusnya menanggung kesusahan karena keterlambatan atau kelalaian pengelola bangsa. Apalagi bencana yang mereka telan adalah buah karya keserakahan atau kesewenang-wenangan kebijakan dan keserakahan kelompok berkasta.
Bagaimana tidak, hingga hari ke-47 setelah ditimpa bencana, warga Kecamatan Pining, Kabupaten Gayo Lues, masih tidur dalam kegelapan malam. Mereka seperti tinggal dalam lubang gua baru karena belum hidup arus listrik sebagaimana sebelumnya.
Adapun jarak tempuh dari Blang Kejeren, Ibu Kota Kabupaten Gayo Lues, ke Kecamatan Pining sekitar 40 km. Dari sebelumnya perjalanan mobil 1 jam 30 menit sekarang menjadi 3 hingga 4 jam dengan menempuh jalur ekstrem.
Itu pun kalau tidak ada hujan yang berakibat berjatuhan tumpukan sedimentasi longsor tebing gunung atau bukan sedang deras arus sungai. Kalau arus sungai meningkat gagal juga. Seperti Sabtu lalu, 1 unit mobil hardtop 4x4 hanyut terbawa arus saat menyeberang sungai. Pasalnya jembatan rangka baja telah putus terbawa air bah saat itu," tutur Masykur tokon masyarakat Kecamatan Pining.
Sesuai penelusuran Media Indonesia, Senin (12/1) dari 9 Gampong (desa) di kecamatan pedalaman lembah pengunungan itu, 7 di antaranya masih sangat sulit di tembus. Itu karena masih rawan material longsor, badan jalan ambles, dan jembatan putus sehingga sulit dilalui kendaraan.
Dari 7 desa itu, ada 4 di antaranya baru bisa dilalui oleh mobil khusus. Itu termasuk Desa Pining, Ibu Kota Kecamatan Pining. Caranya harus menggunakan mobil double cabin bertenaga 4x4. Meskipun masih sangat sulit ditembus.
Sedangkan 3 desa lagi masih cukup parah kerusakan badan jalan dan putus jembatan. Hanya sepeda motor trail yang bisa menjangkaunya. Masing-masing adalah Desa Lesten, Pasir Putih dan Desa Ekan.
Itu sebabnya harga berbagai bahan pokok di Kecamatan Pining sangat tinggi. Misalnya harga beras kualitas sedang mencapai Rp35.000-Rp38.000/bambu (ukuran 2 liter).
Lalu harga gula pasir mencapai Rp25.000/kg, BBM (Bahan Bakar Minyak) jenis pertalite Rp25.000-Rp30.000/liter (tergantung pengecer).
Bahkan gas elpiji sejak banjir besar akhir November 2025 itu tidak pernah masuk lagi ke pedalaman terpencil itu. Semua pangkalan resmi tutup barang tidak boleh dipasok.
"Kalau gas elpiji masih kosong. Sudah hampir dua bulan menggunakan kayu bakar," kata Masykur.
Lebih ironis lagi, terputusnya jalur transportasi darat Kecamatan Pining-Blang Kejeren, Ibukota Kabupaten Gayo Lues, bukan saja terhenti pasokan bahan pokok dan barang logistik dari luar. Tapi juga mengundang kehancuran perekonomian warga.
Pasalnya hasil pertanian dan perkebunan di wilayah lembah bukit nan subur itu tidak bisa dipasarkan keluar. Misalnya buah durian petani Kecamatan Pining yang sedang panen raya, gagal dipasarkan ke luar Kabupaten Gayo Lues.
Buah durian hasil alam berpohon besar nan tinggi yang memiliki aroma cita rasa khas yang terkenal manis dan nikmat itu jatuh harga. Kalau tahun-tahun sebelumnya banyak agen pengumpul yang masuk menjemput ke lokasi, sekarang sepi tidak ada pembeli.
"Kalaupun ada dibawa ke luar oleh agen-agen muda menggunakan sepeda motor, hanya sebatas ke Kota Blang Kejeren. Itupun paling 30 buah sekali jalan yang membutuhkan waktu 3 sampai 5 jam. Harganya pun yang ukuran langsung sebelumnya Rp5.000/buah, sekarang Rp10.000/4 buah. Begitu juga utuk ukuran besar yang tahun sebelumnya Rp 25.000/buak, sekarang turun menjadi Rp7.000-Rp8.000/buah," kata Syukri Kepala SD 2 Kecamatan Pining.
Hal yang sama juga terjadi hasil bumi panen kakao dan kemiri. Selain hasilnya anjlok akibat banjir, juga sangat merugikan karena tidak bisa di angkut keluar. Lalu pedagang pemgumpul dari luar pun tidak bidaenjemput barang ke kawasan Pining.
"Padahal semua hasil itu sumber perekonomian warga di sini. Ketika jalan putus berlarut-larut perekonomian warga terhenti total," tambah tokoh masyarakat lainnya.
Budayawan Aceh dari Universitas Syiah Kuala (USK) Doktor M Adli Abdullah, melalui Media Indonesia, Senin (12/1) menyampaikan, perbaikan kembali jalur darat kawasan sentra produksi hasil pertanian di Aceh sangat mendesak dilakukan. Pasalnya kawasan dataran tinggi pedalaman bagian tengah dan tenggara seperti Kabupaten Gayo Lues, Aceh Tengah, Bener Meriah, Aceh Tenggara dan pedalaman Lokop hinga Penaron Kabupaten Aceh Timur.
Kawasan-kawasan itu adalah andalan ketahanan pangan untuk Provinsi Aceh dan penopang pasar dalam negeri seperti Sumatra Utara hingga Pulau Jawa. Bahkan hasil kopi gayo di Bener Meriah, Aceh Tengah dan Gayo Lues sudah merambah pasar dunia.
"Kalau lokasi lokasi pertanian dan perkebunan setempat, termasuk Pining Gayo Lues sampai kolap, bukan saja terjadi kekacauan kehidupan warga pedalam itu. Tapi juga berpengaruh besar terhadap perekonomian masyarakat Aceh dan meresahkan ketahanan pangan secara umum," tambah Dosen Senior USK itu. (MR/E-4)
Gerakan ini merupakan sinergi lintas sektor yang melibatkan musisi lintas generasi, komunitas, serta dukungan penuh dari pemerintah dan sektor swasta.
Adapun temanya adalah Integrasi Pendekatan One Health dalam Pemulihan Sosial, Pangan, dan Kesehatan Masyarakat Rentan Pascabencana Banjir di Aceh.
DUA bulan pascabencana hidrometeorologi yang terjadi pada 27 November 2025, sebanyak 40 warga di Sumatra Utara masih dinyatakan hilang.
LAILATUL BARA'AH atau yang akrab disebut Malam Nisfu Syakban di Provinsi Aceh dirayakan dengan penuh khidmat.
BNPB juga menyalurkan bantuan dana tunggu hunian bagi warga yang memilih tinggal sementara di rumah keluarga atau sanak saudara. Bantuan tersebut sebesar Rp600 ribu per bulan.
KONDISI ekonomi korban banjir besar di Aceh benar-benar mengkhawatirkan.
Adapun temanya adalah Integrasi Pendekatan One Health dalam Pemulihan Sosial, Pangan, dan Kesehatan Masyarakat Rentan Pascabencana Banjir di Aceh.
Selain pembersihan bangunan, personel juga melakukan normalisasi pada 42 hektare lahan terdampak agar dapat digunakan kembali oleh masyarakat.
KONDISI ekonomi korban banjir besar di Aceh benar-benar mengkhawatirkan.
Keputusan ini diambil lantaran delapan desa di Aceh Tengah masih terisolasi total akibat kerusakan infrastruktur yang parah pascabencana banjir dan tanah longsor.
Rapat konsolidasi membahas klaster infrastruktur, mencakup jalan, jembatan permanen, jembatan bailey, serta infrastruktur sungai seperti irigasi, daerah aliran sungai hingga sumur bor.
NASIB korban banjir di Provinsi Aceh hingga Rabu (28/1) belum ada perubahan berarti. Sudah 63 hari para penyintas bencana dahsyat itu masih dipenuhi lumpur dalam rumah.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved