Headline

Pemerintah tetapkan 1 Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026.

Banjir Hanyutkan 820.000 Hewan Ternak, USK Edukasi Warga Kelompok Pemelihara Sapi di Pidie Jaya

Amiruddin Abdullah Reubee
18/2/2026 13:50
Banjir Hanyutkan 820.000 Hewan Ternak, USK Edukasi Warga Kelompok Pemelihara Sapi di Pidie Jaya
Ilustrasi(MI/AMIRUDDIN ABDULLAH REUBEE)

BANJIR besar Sumatra pada 24-27 November 2025 lalu telah meluluhlantakkan roda kehidupan dan sendi ekonomi masyarakat di Provinsi Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat. Bukan hanya ribuan korban jiwa dan menghancurkan puluhan ribu rumah, tapi ada ketepurukan lain juga tidak kalah besarnya.

Sesuai catatan diperoleh Media Indonesia, misalnya 820.000 ternak kerbau, sapi, kambing dan unggas mati atau hilang terbawa arus banjir kala itu. Kemudian 58 rumah potong hewan rusak, 2.300 alat mesin pertanian hilang dan 74 balai penyuluhan pertanian juga rusak.

Kondisi ini telah berakibat besar terhadap harga daging pada Hari Memeugang (hari penyembelihan) menjelang Ramadan dua hari terakhir. Harga daging kerbau atau sapi pada Mameugang kali ini bahkan mencapai kisaran Rp190.000-Rp 200.000/kg (kilogram).

Karena itu, Fakultas Kedokteran Hewan dan Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala (USK) Aceh, pada akhir pekan laku hingga Senin (16/2) melakukan kegiatan pemulihan peternakan pasca bencana. Lokasinya di kawasan banjir Desa Dayah Kruet Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh.

Kegiatan program mahasiswa berdampak ini didukung oleh Hibah DPPM (BIMA) 2026 melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat USK. Antara lain melakukan pelatihan pembuatan pakan ternak berbasis bahan lokal alami. Peserta juga di edukasi cara memproduksi insektisida (bahan pencegah) popolasi hama penyakit berbahan alami.

Dekan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala, drh. Teuku Reza Ferasyi, Rabu (18/2) mengatakan, para pelatih profesional itu adalah dari dosen atau akademisi Kedokteran Hewan dan Pertanian. Lalu dibantu oleh 50 mahasiswa yang sedang bertugas di lokasi banjir. Adapun yang mendapat pelatihan itu adalah dari Kelompok Laskar Ternak Mandiri dan Kelompok Semangat Putro (PKK).

"Warga peternak diajari pembuatan ransum fermentasi berbahan lokal seperti batang dan daun pisang, pelepah kelapa, serta hijauan sekitar sebagai solusi pakan alternatif pascabencana. Kelompok PKK mendapat pelatihan pembuatan insektisida alami berbahan tanaman lokal bak kala (batang jombrang) untuk pengendalian ektoparasit atau caplak secara ramah lingkungan dan ekonomis," Kata drh Lian Varis Riandi, Ketua program Pemulihan Peternakan Pascabencana melalui Eco-Husbandry Berbasis RANUP (Ransum Fermentasi dan Insektisida Alami).

Wakil Dekan II, Dr drh Mustafa Sabri menuturkan, sebagai bentuk keberlanjutan program, tim menyerahkan hibah alat produksi kepada kelompok mitra melalui Keuchik Gampong (Kepala Desa) Dayah Kruet, Syukri.

“Kami sangat berterima kasih kepada tim dosen dan mahasiswa USK. Program ini sangat bermanfaat bagi peternak dan masyarakat kami, serta membuka peluang usaha baru ke depan,” ujar Syukri.

Kegiatan peduli korban banjir ini dihadiri Ketua Departemen Peternakan, Dr. Ir. Zuraida Hanum, S.Pt., M.Si., IPU, yang memberikan penguatan teknis pada sesi praktik.(H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya