Headline

Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.

Dampak Banjir Bandang belum usai, Kini Warga Khawatir Peningkatan Aktivitas Gunung Burni Telong

Amiruddin Abdullah Reubee
01/1/2026 13:29
Dampak Banjir Bandang belum usai, Kini Warga Khawatir Peningkatan Aktivitas Gunung Burni Telong
Gunung Berapi Burni Telong tertutup awan pada Kamis (31/12/2025).(MI/Amiruddin Abdullah Reubee)

DAMPAK banjir bandang pada Rabu 26-27 November 2025 lalu hingga kini masih belum tertangani. Namun, kekhawatiran masyarakat provinsi Aceh masih belum berakhir. Aktivitas Gunung Burni Telong di Kecamatan Timang Gajah, Kabupaten Bener Meriah, terpantau meningkat.

Ketakutan itu setelah Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMG) Badan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada Rabu (30/12) sekitar pukul 22.45 WIB, mengumumkan kenaikan status gunung berapi di Tanah Gayo itu dari level II (waspada) menjadi level III (siaga). 

Karena kepanikan yang dilatarbelakangi masih trauma banjir bandang bulan lalu, warga di empat desa di lereng Burni Telong sudah bergerak mengungsi ke tempat lain yang dianggap aman. 

Sekitar 2.500 orang warga dari Desa Bandar Lampahan, Pantang Pediangan, Rembenu, dan Damaran Baru, Kecamatan Timang Gajah, mengungsi ke gedung Universitas Syiah Kuala (USK) kampus Bener Meriah di Lampahan, Kecamatan Timang Gajah. Ada juga pengungsi dari Simpang Balik dan Ronga-Ronga. 

Mulai dari Selasa (30/12) malam hingga Kamis (1/1), ribuan pengungsi itu masih bertahan di gedung USK yang berjarak sekitar 8 km dari Gunung Burni Telong. Mereka takut pulang ke rumah yang berjarak 4 hingga 5 km dari gunung api itu. Bahkan kini telah membangun dapur umum sementara di pekarangan gedung USK Bener Meriah. 

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kewirausahaan USK, Profesor Mustanir, kepada Media Indonesia, mengatakan ada sekitar 10 orang mahasiswa relawan USK juga sempat mengungsi pada Rabu malam. Mereka adalah para relawan USK kampus 1 Darussalam Benda Aceh yang turun membantu korban banjir bandang di Bener Meriah dan awalnya mendirikan pos di sekitar 5 km dari gunung berapi Burni Telong. 

"Mereka sempat mengungsi juga menjauh dari Burni Telong. Malam itu sempat menumpang di rumah serang bidang kesehatan warga Timang Gajah," tutur Mustanir. 

Relawan Mahasiswa USK Banda Aceh yang turun ke Bener Meriah, Rafi Gustian, kepada Media Indonesia, mengatakan sejak Selasa malam hingga Rabu (31/12) pagi sedikitnya sudah 16 kali terjadi gempa vulkanis dari aktivitas gunung api Burni Telong. Sesuai penelusuran Media Indonesia, kekuatan gempa berkisar pada magnitudo 3,9 hingga 4,5.

Adapun kondisi Gunung Burni Telong pada hari Kamis banyak tertutup awan. Tidak ada semburan atau keluar asap menjulang. Hanya saja warga merasakan gempa lebih sering dari biasanya. 

Mahasiswa asal Provinsi Lampung yang kuliah di USK itu juga mengatakan sepanjang hari Kamis, warga sekitar Burni Telong umumnya berhenti aktivitas. Sebagian mereka bertahan di lokasi pengungsian. 

Di saat terjadi gempa bumi sering terjadi kepanikan dan keresahan. Lalu pergerakan transportasi di jalan sekitar Kecamatan Timang Gajah dan jalur Bener Meriah-Takengon, Kabupaten Aceh Tengah, sempat macet. 

"Agendanya sebelumnya kami relawan peduli korban banjir. Rencananya Kamis siang sudah berakhir tugas ngepos di sini. Setelah peningkatan status Burni Telong, bertahan lagi. Kamis siang harus membantu pengungsi di gedung USK Timang Gajah, sekitar 8 km dari Burni Telong," tutur Rafi Gustiar, mahasiswa Fakultas Hukum USK Banda Aceh yang juga Ketua Umum Unit Kegiatan Mahasiswa Bakti Sosial Pembangunan Desa. 

Sejarah Gunung Burni Telong

Catatan Media Indonesia, nama burni telong berasal dari bahasa gayo yakni burni adalah gunung. Sedangkan telong yaitu terbakar. 

Setelang digabungkan dua kalimat ini burni telong berarti gunung yang terbakar. Konon dinamakan gunung terbakar karena gunung ikon wisata pendakian di Berner Meriah itu memiki kawah api pada lereng bahunya. 

Menurut catatan sejarahnya, Gunung Burni Telong pernah meletus atau erupsi sekitar lima kali. Masing-masing adalah tahun 1837, 1839, 1856, 1919 dan 7 Desember 1924. Hingga Desember 2025, Burni Telong sudah tidur pulas selama 101 tahun tanpa batuk atau berteriak. Namun, sesekali gunung itu hanya bernafas asap putih. 

Gunung yang menjulang tinggi dan sering ditaklukkan para wisatawan pendaki handal itu memiliki ketinggian 2.617 meter di atas permukaan laut (mdpl). Namun, ada pula versi lain yang mengatakan ketinggian gunung itu adalah 2.624 mdpl. (MR/E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya