Headline

Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.

Mahasiswa Kedokteran Universitas Syiah Kuala Juarai Penelitian Internasional EAMSC 2026 di Nepal

Amiruddin Abdullah Reubee
22/1/2026 14:42
Mahasiswa Kedokteran Universitas Syiah Kuala Juarai Penelitian Internasional EAMSC 2026 di Nepal
Dua mahisiswi anggota tim im delegasi FK USK yang sukses meraih Juara I (1st Winner) Scientific Poster Competition dalam ajang bergengsi East Asian Medical Students’ Conference (EAMSC) 2026 yang berlangsung di Nepal, Januari 2026.(MI/Amirruddin Abdullah Reubee)

LIMA mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala (FK USK) berhasil meraih prestasi gemilang di panggung dunia. Tim delegasi FK USK sukses meraih Juara I (1st Winner) Scientific Poster Competition dalam ajang bergengsi East Asian Medical Students’ Conference (EAMSC) 2026 yang berlangsung di Nepal bulan ini.

Kemenangan ini diraih melalui riset mendalam terkait kesehatan mental tenaga kesehatan yang bertajuk Innovative Esketamine Nasal Spray as Adjunctive Therapy for Treatment-Resistant Depression: A Systematic Review and Meta-Analysis on Its Potential Use in Healthcare Workers. Lima mahasiswa tangguh yang tergabung dalam satu tim penelitan itu masing-masing bernama, Salwa Keisha, Nazira Evanda, Naja Nurilhaqqi Araz Albani, Putri Suhaila, dan Najwa Alifa.

Isu itu tergolong sangat strategis dan penting untuk dunia medis zaman sekarang. Melalui pendekatan systematic review dan meta-analysis, mereka mengkaji efektivitas penggunaan semprot hidung esketamin sebagai terapi tambahan bagi penderita depresi yang resisten terhadap pengobatan konvensional. Fokus penelitian ini diarahkan secara khusus pada tenaga kesehatan, kelompok rentan yang mengalami tekanan psikologis berat, burn out (kelelahan fisik dan mental), hingga depresi akibat beban kerja yang ekstrem. Inovasi ini selaras dengan tema besar EAMSC 2026, yakni Mental Health and Wellbeing, Addressing the Silent Crisis.

“Penelitian ini kami susun sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan mental rekan sejawat dan tenaga kesehatan yang sering kali terabaikan, padahal mereka adalah garda terdepan dalam sistem pelayanan kesehatan,” kata Salwa, mewakili tim mahasiswa USK Aceh.

Hebatnya, prestasi ini tidak diraih dengan mudah. Tim FK USK harus bersaing ketat dengan delegasi dari berbagai universitas ternama berkelas dunia. Misalnya dari Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Hongkong, Singapura, dan Tailan. Juri tingkat internasional itu menilai, karya mahasiswa USK lebih unggul karena relevansi topiksangat kuat. Kemudian ketajaman metodologi penelitian, serta kontribusi nyata diskursus kesehatan mental berbasis bukti ilmiah (evidence-based medicine).

Kehadiran mereka dalam ajang ini adalah bagian dari delegasi Asian Medical Students’ Association (AMSA) USK di bawah naungan AMSA Indonesia. Lima orang anak didik dari Universitas kebanggaan masyarakat Aceh itu membuktikan aktifnya peran mahasiswa kedokteran Aceh dalam jaringan akademik Internasional. Prestasi membanggakan ini mendapat apresiasi tinggi dari pimpinan universitas negeri tertua di provinsi berjulukan Serambi Mekah tersebut.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kewirausahaan USK Profesor Mustanir, kepada Media Indonesia, Kamis (22/1) mengatakan, perolehan prestasi luar biasa ini tercermin kualitas pembinaan mahasiswa. Sehingga mereka tampil dan mampu bersaing di level kelas dunia.

"Prestasi di Nepal ini membuktikan mahasiswa Universitas Syiah Kuala mampu menghadirkan kontribusi ilmiah yang relevan terhadap isu global. Kami berkomitmen mendukung pengembangan potensi mahasiswa agar terus berani membawa almamater kampus kebanggaan ini ke panggung dunia,” Wakil Rektor lulusan Doktor Kyushu University, Jepang itu. Adapun Wakil Dekan Kemahasiswaan, Alumni, dan Kemitraan FK USK Rina Suryani Oktari menuturkan, perolehan juara ini sebagai wujud dari keunggulan akademik yang dibarengi dengan kepekaan sosial.

“Karya ini menunjukkan bahwa mahasiswa kami tidak hanya cerdas secara teori, tetapi juga peka terhadap isu kesehatan dunia. Ini adalah inspirasi bagi seluruh sivitas akademika," tutur Rina Sayang Oktari yang juga anggota ahli kelompok referensi global Darurat Kesehatan dan Manajemen Risiko Bencana WHO. (MR/E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya