Headline

Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.

Ilmuwan Rusia Hidupkan Lagi Tanaman Berusia 32 Ribu Tahun, Menjadi yang Tertua di Dunia

Muhammad Ghifari A
03/3/2026 22:35
Ilmuwan Rusia Hidupkan Lagi Tanaman Berusia 32 Ribu Tahun, Menjadi yang Tertua di Dunia
Tumbuhan berbuah (di sebelah kiri) dan berbunga dari Silene stenophylla yang diregenerasi dari jaringan buah fosil.(Dok. S. Yashina et al)

SEBUAH penemuan luar biasa datang dari tim peneliti Rusia yang berhasil menghidupkan kembali tanaman berbunga asal Siberia, Silene stenophylla, dari biji yang telah terkubur selama 32 ribu tahun. Bunga tersebut saat ini menjadi tanaman tertua di dunia.

Timbunan biji ini ditemukan di dekat tepi Sungai Kolyma, terkubur di dalam liang tupai zaman es pada kedalaman 38 meter di bawah lapisan permafrost, dikelilingi oleh fosil tulang mammoth, bison, dan badak berbulu. 

Meskipun biji-biji yang sudah matang telah rusak diduga sengaja dirusak oleh tupai agar tidak berkecambah di dalam liang, beberapa biji yang belum matang ternyata masih mengandung materi tanaman yang layak untuk tumbuh.

Dalam studi terbarunya, tim tersebut mengekstrak jaringan dari biji yang membeku, menempatkannya dalam botol laboratorium, dan secara mengejutkan berhasil menumbuhkan tanaman tersebut hingga berbunga serta menghasilkan biji sendiri setelah satu tahun. 

Menanggapi keberhasilan ini, ahli botani Peter Raven yang merupakan Presiden Emeritus Kebun Raya Missouri memberikan apresiasinya. "Saya tidak melihat kesalahan mendasar dalam artikel tersebut," kata Peter Raven, meskipun ia menambahkan sebuah catatan penting bahwa, "Meskipun ini adalah laporan yang luar biasa sehingga tentu saja Anda ingin mengulanginya."

Keberhasilan regenerasi ini membawa harapan baru bagi dunia botani, karena lapisan es abadi atau permafrost kini terbukti bisa menjadi tempat penyimpanan kumpulan gen kuno bagi spesies yang telah punah. 

Elaine Solowey, seorang ahli botani dari Institut Studi Lingkungan Arava di Israel yang sebelumnya memegang rekor menghidupkan pohon kurma berusia 2.000 tahun, memberikan pandangannya mengenai potensi masa depan temuan ini. 

"Tentu saja, beberapa tanaman yang dibudidayakan pada zaman dahulu dan telah punah, atau tanaman lain yang dulunya penting bagi ekosistem tetapi telah hilang, akan sangat bermanfaat saat ini jika dapat dihidupkan kembali," ujar Solowey.

Lebih jauh lagi, penemuan ini memiliki implikasi besar bagi proyek pelestarian benih global, seperti Gudang Benih Global Svalbard di Norwegia, yang selama ini mengandalkan teknik pembekuan. 

Solowey menekankan betapa pentingnya pemahaman tentang daya tahan benih di suhu ekstrem dengan menyatakan, "Setiap informasi yang diperoleh tentang benih yang telah dibekukan dan cara mencairkannya serta menumbuhkannya sangat berharga." 

Senada dengan hal tersebut, Peter Raven menambahkan bahwa jika manusia berhasil mengungkap rahasia kondisi alami yang menjaga benih tetap hidup selama puluhan ribu tahun, maka "Jika Anda melakukannya sendiri, Anda akan dapat melestarikan benih untuk waktu yang lebih lama."

(NatGeo/H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya