Headline
Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.
Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.
Kumpulan Berita DPR RI
SELAMA ini, kemampuan untuk berimajinasi dan membayangkan sesuatu yang tidak ada secara fisik dianggap sebagai ciri khas yang hanya dimiliki manusia. Namun, sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Science, 5 februari lalu, mematahkan asumsi tersebut.
Para ilmuwan dari Johns Hopkins University, Amerika Serikat, berhasil mendemonstrasikan bahwa kera besar memiliki kapasitas kognitif untuk "bermain pura-pura" (play pretend), sebuah tonggak sejarah yang menunjukkan bahwa kehidupan mental mereka jauh lebih kaya daripada yang kita duga sebelumnya.
Untuk membuktikan teori ini, para peneliti merancang serangkaian eksperimen yang menyerupai pesta teh anak-anak.
Subjek utamanya adalah Kanzi, seekor bonobo berusia 43 tahun yang dikenal memiliki kemampuan komunikasi luar biasa melalui simbol.
Dalam suasana yang terkontrol, seorang peneliti duduk berhadapan dengan Kanzi di sebuah meja yang berisi peralatan kosong, seperti teko dan cangkir transparan.
Dalam salah satu tes, peneliti berakting seolah-olah menuangkan "jus imajiner" dari teko kosong ke dalam dua cangkir, lalu berpura-pura membuang isi dari salah satu cangkir tersebut.
Saat ditanya, "Di mana jusnya?", Kanzi secara konsisten menunjuk ke arah cangkir yang seharusnya masih berisi jus imajiner tersebut.
Hebatnya, Kanzi tetap bisa melacak keberadaan objek tak kasat mata itu meskipun posisi cangkir ditukar-tukar. Peneliti juga memastikan bahwa Kanzi sadar objek tersebut tidak nyata.
Ketika disuguhkan pilihan antara jus sungguhan dan jus imajiner, Kanzi hampir selalu memilih jus yang asli, membuktikan bahwa ia mampu membedakan antara realitas dan imajinasi.
Penemuan ini dianggap sebagai momen krusial dalam dunia sains, serupa dengan saat Jane Goodall pertama kali menemukan bahwa simpanse bisa menggunakan alat.
Christopher Krupenye, asisten profesor di Johns Hopkins, menyatakan bahwa temuan ini bersifat transformatif karena menunjukkan bahwa imajinasi bukanlah hak eksklusif spesies manusia.
Kemampuan untuk berpikir melampaui "saat ini dan di sini" adalah elemen kritis yang selama ini dianggap sebagai pemisah utama antara manusia dan hewan lainnya.
Data yang diperoleh menunjukkan bahwa kera mampu menghasilkan ide tentang objek pura-pura di dalam pikiran mereka, sekaligus memahami bahwa objek tersebut tidak benar-benar ada.
Penemuan ini mengisyaratkan bahwa akar evolusi imajinasi mungkin sudah ada sejak 6 hingga 9 juta tahun yang lalu, pada nenek moyang bersama antara manusia dan kera besar.
Hal ini menantang pandangan lama yang menganggap hewan hidup secara "robotik" dan hanya terpaku pada apa yang ada di depan mata mereka.
Keberhasilan Kanzi dalam melacak jus dan anggur imajiner membuka pintu bagi penelitian lebih lanjut mengenai aspek imajinasi lainnya pada kera. Para ilmuwan kini tertarik untuk mengeksplorasi apakah primata juga mampu membayangkan peristiwa masa depan atau memikirkan apa yang sedang terjadi di dalam pikiran individu lain. (SciTechDaily, euronews/Z-1)
SENI memiliki dampak besar bagi tumbuh kembang anak, baik dari sisi motorik maupun kognitif. Aktivitas seperti menggambar atau mewarnai bisa melatih motorik halus.
OTAK anak memiliki tempat khusus untuk berimajinasi. Imajinasi merupakan salah satu aspek penting dalam masa tumbuh kembang anak.
IMAJINASI merupakan cermin pikiran anak-anak yang muncul secara spontan dan penuh rasa ingin tahu.
MENTERI HAM Natalius Pigai menilai kekhawatiran publik akan kembalinya sistem dwi fungsi ABRI dan otoritarianisme dalam pemerintahan Prabowo Subianto, hanyalah imajinasi belaka.
Dewi Lestari mengatakan imajinasi sangat berguna bagi para konten kreator, khususnya dalam hal menulis fiksi. Daya berimajinasi dapat diasah dengan memperbanyak membaca buku.
Reaksi emosional selama ini kerap dianggap persoalan selera pribadi, dipengaruhi oleh DNA masing-masing individu merespons karya seni.
STUDI dari Spanyol melakukan sebuah penelitian untuk mencoba membantu diagnosis penyakit Alzheimer pada usia 50 tahun. Percobaan itu dilakukan dengan melakukan tes darah.
AHLI biologi dari Hebei University, Tiongkok, Ming Li bersama rekan-rekannya melakukan penelitian dan menemukan bahwa rambut bisa mendeteksi Parkinson
Stimulasi 40Hz setiap hari mampu menjaga fungsi kognitif pasien, bahkan menurunkan biomarker utama penyakit Alzheimer.
LIMA mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala (FK USK) berhasil meraih prestasi gemilang di panggung dunia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved