Headline

Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.

Optimasi Inaktivasi virus untuk Produksi Vaksin Lokal Penyakit Mulut dan Kuku

M Iqbal Al Machmudi
26/2/2026 12:26
Optimasi Inaktivasi virus untuk Produksi Vaksin Lokal Penyakit Mulut dan Kuku
Petugas kesehatan hewan mempersiapkan vaksin Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dalam spet injeksi untuk disuntikkan ke ternak sapi milik warga di Desa Sukowetan, Karangan, Trenggalek, Jawa Timur, Senin (2/2/2026).(ANTARA/Destyan Sujarwoko)

PENYAKIT Mulut dan Kuku (PMK) atau Foot and Mouth Disease (FMD) merupakan salah satu ancaman serius bagi peternakan sapi, kambing, dan babi karena penularannya yang sangat cepat serta potensi kerugian ekonomi dan gangguan keamanan pangan. 

Penelitian terbaru di Indonesia menunjukkan bahwa wabah yang terjadi sejak 2022 mendorong kebutuhan mendesak untuk vaksin yang sesuai dengan virus lokal.

Dosen Kedokteran Hewan universitas Airlangga (Unair) Fedik Abdul Rantam mengatakan salah satu tahap penting dalam produksi vaksin inaktif adalah inaktivasi virus yaitu mematikan virus agar tidak menyebabkan penyakit, namun tetap menjaga bagian antigenik yang mampu merangsang kekebalan hewan. 

"Jika virus tidak benar dinonaktifkan, risiko keamanan muncul; jika inaktivasi terlalu ekstrem, antigen bisa rusak dan vaksin menjadi kurang efektif," kata Fedik dalam keterangannya, Kamis (26/2).

Tim peneliti RCVTD-ITD Unair menggunakan isolat lokal virus FMD tipe O, strain GR12, yang diperoleh dari wabah di Gresik, Jawa Timur. Virus tersebut dikultur pada sel BHK-21 kemudian diuji empat formulasi kombinasi dua bahan kimia inaktivasi: Formaldehyde (FA) dan Binary Ethylenimine (BEI), dengan formulasi F1: 0,04 % FA + 2 mM BEI
F2: 0,10 % FA + 1 mM BEI
F3: 0,10 % FA + 2 mM BEI
F4: 0,20 % FA + 1 mM BEI

Inaktivasi dilakukan pada suhu 37 °C, dengan pengambilan sampel setelah 24 h, 48 h, dan 72 h masa inkubasi inaktivasi. Validasi dilakukan melalui tiga kali “blind passage” pada sel untuk memeriksa efek sitopatik (CPE).

Hasil menunjukkan bahwa semua kombinasi mulai menunjukkan pengurangan efek sitopatik setelah 48 h dan 72 h. Namun hanya formulasi F4 (0,20 % FA + 1 mM BEI) dengan masa inkibasi 72h yang berhasil menonaktifkan virus secara lengkap dimana tidak ada CPE setelah 72 h pada tiga kali passage.

Menariknya, menaikkan konsentrasi BEI dari 1 mM ke 2 mM ternyata tidak mempercepat atau meningkatkan inaktivasi secara signifikan jika FA terlalu rendah. Ini menegaskan bahwa kombinasi optimal bahan dan dosis sangat penting.

Temuan ini memberi dasar teknis untuk produksi vaksin lokal terhadap FMD di Indonesia, yaitu bahwa kombinasi 0,20 % FA dan 1 mM BEI selama 72 h pada 37 °C bisa menjadi protokol standar untuk strain GR12. Hal ini memungkinkan efisiensi produksi dan peningkatan keamanan vaksin.

Penelitian lanjutan diperlukan untuk mengevaluasi integritas antigen virus atau respons imun setelah vaksinasi dan untuk memastikan vaksin yang dihasilkan efektif secara in vivo.

Kesimpulannya yakni dengan strategi yang tepat untuk inaktivasi virus lokal, upaya vaksinasi FMD bisa lebih efektif, aman dan relevan secara geografis. Bagi peternak dan pemangku kebijakan, hal ini berarti satu langkah konkret menuju pengendalian wabah yang lebih baik dan keberlanjutan produksi ternak di Indonesia. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya