Headline
Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.
Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.
Kumpulan Berita DPR RI
SETIAP menjelang Ramadan, ruang publik kita selalu dipenuhi narasi tentang kematian. Mimbar-mimbar dakwah, media sosial, hingga percakapan keseharian kembali mengulang tema yang sama: ancaman kubur, dahsyatnya hari Kiamat, dan beratnya hisab. Sayangnya, kematian sering dihadirkan bukan sebagai pengingat yang mencerahkan, melainkan sebagai momok yang menekan batin kolektif umat.
Padahal, dalam khazanah Islam yang matang--sebagaimana diwariskan oleh tradisi keilmuan para tokoh sufi--kematian justru diposisikan sebagai instrumen pendidikan kesadaran, bukan alat teror spiritual. Cara kita memaknai kematian akan menentukan bagaimana kita menjalani Ramadan, bahkan bagaimana kita membangun etika kehidupan berbangsa.
Ketakutan terhadap kematian kerap dianggap sebagai indikator kesalehan. Namun, para ulama mengingatkan tidak semua rasa takut bernilai ibadah. Ada ketakutan yang lahir dari iman, tetapi ada pula ketakutan yang bersumber dari distorsi cara pandang terhadap Allah.
Banyak orang takut mati bukan karena cinta kepada kehidupan akhirat, melainkan karena merasa amalnya tidak cukup dan dosanya terlalu banyak. Tuhan lalu dibayangkan semata sebagai hakim yang menunggu kesalahan, bukan sebagai Rabb Yang Maha Pengasih.
Syekh Ali Jum'ah, mantan Mufti Mesir dan salah satu ulama besar Al-Azhar kontemporer, menegaskan bahwa kesalahan paling umum umat adalah mengira amal sebagai penyelamat utama. "Yang menyelamatkan manusia bukan amalnya, tetapi rahmat Allah. Amal hanyalah sebab untuk mendekat," ujarnya dalam banyak pengajiannya. Ramadan sejatinya hadir untuk meluruskan kesalahan teologis ini.
Islam tidak memandang kematian sebagai akhir kehidupan. Alquran menggunakan istilah tawaff--diambil secara sempurna--bukan dimusnahkan. Ruh tidak lenyap, melainkan berpindah dari satu alam ke alam berikutnya.
Pemahaman ini penting, karena ketakutan berlebihan terhadap kematian sering kali lahir dari anggapan bahwa kematian adalah kegelapan total. Padahal, bagi orang beriman, kematian adalah awal dari kehidupan yang lebih jujur, tanpa topeng sosial dan kepura-puraan duniawi.
Imam Al-Ghazali menyebut kematian sebagai kaca pembesar yang menyingkap hakikat manusia. Ramadan dengan seluruh disiplin spiritualnya sejatinya adalah latihan menghadapi momen tersebut dengan kesadaran bukan kepanikan.
Dalam wacana keagamaan populer, kubur sering digambarkan secara seragam sebagai tempat siksa. Demikian pula hari Kiamat yang selalu diasosiasikan dengan ketakutan kolektif. Padahal, Islam justru menghadirkan narasi yang jauh lebih berimbang.
Hadis-hadis sahih menyebut bahwa kubur bisa menjadi taman surga bagi orang beriman. Alquran dan sunnah juga menjelaskan bahwa pada hari Kiamat banyak manusia berada dalam naungan 'Arsy, duduk di mimbar cahaya, dan berada dalam kondisi aman.
Syekh Yusuf al-Qaradawi--ulama kontemporer yang juga berakar pada tradisi Al-Azhar, Mesir--pernah mengingatkan bahwa agama yang hanya menonjolkan ancaman akan melahirkan generasi putus asa, bukan generasi yang bertanggung jawab. "Islam datang untuk membangun harapan, bukan membunuh masa depan," tegasnya.
Ramadan dalam konteks ini bukan bulan ketakutan massal, melainkan bulan pemulihan makna iman.
Salah satu pesan utama Ramadan adalah terbukanya pintu taubat. Alquran dengan tegas menyatakan bahwa Allah menerima taubat hamba-Nya dan rahmat-Nya meliputi segala sesuatu. Bahkan dalam teologi Ahlus Sunnah, Allah tidak diwajibkan untuk menghukum setiap pelaku dosa. Dia berhak mengampuni siapa pun yang Dia kehendaki.
Pemahaman ini bukan pembenaran atas pelanggaran moral, melainkan fondasi etika tanggung jawab. Orang yang memiliki harapan tidak akan putus asa. Masyarakat yang tidak putus asa adalah masyarakat yang mampu memperbaiki diri.
Di sinilah relevansi Ramadan bagi kehidupan kebangsaan. Bangsa yang terlalu takut pada Tuhan cenderung mudah menghakimi, gemar menyalahkan, dan miskin empati. Sebaliknya, bangsa yang memahami keseimbangan antara keadilan dan rahmat akan lebih adil, inklusif, dan beradab.
Dalam konteks Indonesia yang plural dan demokratis, pemaknaan Ramadan tidak boleh berhenti pada ritual personal. Ia harus menjadi energi moral publik. Kesadaran tentang kematian seharusnya melahirkan kejujuran, bukan kepanikan; tanggung jawab, bukan sinisme.
Ramadan mengajarkan bahwa kekuasaan bersifat sementara, jabatan akan berakhir, dan sejarah akan mencatat siapa yang menggunakan amanah untuk kemaslahatan, bukan sekadar kepentingan sesaat. Kesadaran inilah yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan politik dan sosial kita hari ini.
Ramadan bukan hanya bulan ibadah, tetapi bulan pendidikan peradaban. Ia mengajarkan bagaimana manusia memandang hidup, mati, Tuhan, dan sesama. Kematian, dalam Islam, bukan alat menakut-nakuti rakyat, tetapi cermin untuk membangun keadaban.
Jika Ramadan disambut dengan pemahaman yang utuh--seimbang antara takut dan harap--ia tidak hanya melahirkan individu yang saleh, tetapi juga warga bangsa yang jujur, adil, dan bertanggung jawab. Bangsa yang dibangun di atas kesadaran moral seperti inilah yang kelak mampu bertahan, bukan hanya di hadapan sejarah, tetapi juga di hadapan Tuhan.
Semoga Allah SWT memberi kita kekuatan iman dan takwa. Aamiin.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved