Headline

Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.

Tiga Bulan Pascabanjir, Anak SD di Aceh Tengah masih Belajar di Tenda

Amiruddin Abdullah Reubee
03/3/2026 19:23
Tiga Bulan Pascabanjir, Anak SD di Aceh Tengah masih Belajar di Tenda
Siswa SD Negeri 11 Linge, di Desa Pantan Nangka, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah sedang belajar di tenda darurat.(MI/AMIRUDDIN ABDULLAH REUBEE)

NASIB malang anak-anak korban banjir besar Sumatra masih saja terus menghantui kehidupan mereka. Cita-cita ingin menggapai masa depan cerdas dan cemerlang ternyata tersandung penderitaan tidak berkesudahan. 

Misalnya, puluhan siswa SD Negeri 11 Linge, di Desa Pantan Nangka, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh, sudah 3 bulan lebih mereka harus belajar di bawah tenda darurat. Setelah bencana banjir 24-27 November 2025, hingga kini belum ada tanda-tanda akan di bangun sekolah sementara (sentara) atau sekolah baru. 

"Meskipun bulan Ramadan dan dalam suasana berpuasa, aktivitas belajar tetap berlangsung," kata Zupariah, kepala SD 11 Linge, Aceh Tengah, kepada Media Indonesia, Senin (2/3). 

Namun kondisinya cukup memprihatinkan. Setiap hari mereka harus belajar sambil duduk lesehan di dalam tenda terpal. Begitu juga dengan kondisi lantai yang hanya menggelar terpal plastik warna oranye di atas tanah. Karena tidak ada jendela lebar, dinding terpal bagian depan dan arah belakang harus dibuka lebar. Saat menjelang siang terik matahari, suasana didalamnya cukup panas. 

Wajah para bocah itu tampak berkeringat. Begitu juga sangat guru yang mengajar. Seperti bolu dalam oven memasak kue. 

Bagian lantai yang langsung di atas tanah sangat mudah basah ketika hujan. Lalu karena atap terpal yang tidak ada plafon tentu cukup mengeluarkan keringat kala terik matahari. Tidak ada bangku atau kursi tempat duduk sebagaimana layaknya fasilitas pendidikan standar. Ketika hendak menulis dan mencatat pelajaran, anak-anak harus secara tengkurap di lantai terpal plastik. 

Lalu, ketersediaan panpan tulis berbahan triplek mica (triplek kilap) cukup terbatas. Tidak boleh memakai dalam waktu bersamaan, tapi harus bergantian antar kelas kelompok belajar. Bila satu kelompok kelas sedang menggunakan papan tulis, tentu kelas kelompok belajar lainnya harus menunggu giliran. Kemudian papam tulis itu harus mengangkat atau membawa ke tengah kelompok sedang belajar lainnya yang juga duduk lesehan melingkar. 

Sekolah hanya bisa berlangsung berkisar 2-3 jam yaitu mulai masuk pukul 08.00 Wib hingga pukul 11.00 Wib. Menjelang siang siswa/siswi tidak sanggup lagi bertahan. Sayangnya anak yang sudah kelas IV itu umumnya berpuasa. Jadi ketika suasana panas, mereka mudah dehidrasi karena terkuras cairan tubuh. 

"Belajar hanya sekitar 2 hingga 3 jam dalam sehari. Itupun saat cuaca mengizinkan. Kalau hujan bawahnya basah masuk air dari luar, ketika terik mata hari, suasana panas menyengat," tutur Zupariah. 

Zupariah berharap, kondisi keprihatinan ini segera akan berakhir. Karena kondisi ini sangat terganggu kenyamanan belajar. 

Bukan saja anak yang hilang fokus, namun guru pun penuh beban. Apalagi kondisi cuaca berubah-ubah yaitu masih sering turun hujan dan terkadang terik matahari. 

Budayawan dari Universitas Syiah Kuala (USK) Aceh, Doktor M Adli Abdullah mengatakan, semakin lama kondisi anak-anak sekolah terabaikan fasilitas belajarnya, potensi ketertinggalan mereka bertambah melebar. Hal itu merupakan ancaman kebodohan berkepanjangan. 

"Kondisi pendidikan sekarang adalah wajah bangsa masa akan datang. Apa yang kita tanam terhadap generasi anak hari ini, cerminan berlipat ganda akan dituai masa depan bangsa" tutur Adli Abdullah yang juga Dosen Senior di USK. (H-1) 

 

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Denny parsaulian
Berita Lainnya