Headline

Pemerintah pelajari seluruh risiko menyusul putusan MA AS.

Kolaborasi sebagai Fondasi

Azrifa Safiranda Guru Sekolah Sukma Bangsa Pidie
23/2/2026 05:05
Kolaborasi sebagai Fondasi
(MI/Duta)

SEMBILAN puluh hari setelah banjir melanda Aceh, beberapa anak kembali duduk di bawah tenda biru yang difungsikan sebagai ruang kelas darurat. Tidak ada papan tulis yang utuh, tidak ada dinding yang kukuh. Namun, proses belajar tetap berlangsung.

Pemandangan itu mengajarkan satu hal penting: pendidikan tidak pernah berdiri sendiri. Ia hidup dari kolaborasi sebab yang terguncang oleh bencana bukan hanya bangunan fisik, melainkan juga rasa aman, harapan, dan bayangan masa depan anak-anak. Pada saat seperti itulah pendidikan darurat menemukan maknanya. Ia bukan sekadar memastikan kegiatan belajar tetap berlangsung dan bukan pula hanya menggantikan ruang kelas yang hilang. Pendidikan darurat ialah kerja kemanusiaan, sebuah ikhtiar untuk memulihkan manusia, menjaga harapan, dan menegaskan bahwa masa depan masih ada.

Kita bisa membayangkan sebuah sekolah dengan atap bocor, guru mengajar di bawah tenda, dan anak-anak duduk dengan fasilitas seadanya. Dalam kondisi seperti itu, mengapa proses belajar tetap bisa berlangsung? Jawabannya sederhana: karena banyak tangan bekerja bersama. Warga membantu membersihkan lingkungan sekolah, aparat desa membuka jalur distribusi bantuan, relawan mengatur kegiatan anak, orangtua memastikan kehadiran, dan guru menjaga ritme pembelajaran. Tidak ada yang menonjol sebagai pahlawan tunggal. Kebersamaan itulah yang menjaga harapan tetap hidup.

 

PEMULIHAN MELALUI PENDIDIKAN<

Bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor kini semakin sering menyapa berbagai wilayah Indonesia, termasuk Aceh. Setiap peristiwa hampir selalu meninggalkan dampak serupa: bangunan rusak, kegiatan belajar terhenti, anak-anak kehilangan rutinitas yang selama ini memberi rasa aman. Pengalaman demi pengalaman akhirnya mengajarkan satu hal penting, pemulihan pendidikan tidak pernah cukup jika hanya mengandalkan sekolah atau pemerintah. Ia membutuhkan gotong royong, membutuhkan kesediaan banyak pihak untuk saling menopang.

Bencana meruntuhkan lebih dari sekadar tembok. Ia juga memecah rasa percaya diri dan kestabilan emosi. Anak-anak menjadi kelompok paling rentan karena mereka belum sepenuhnya mampu memahami apa yang terjadi. Pendidikan darurat kemudian hadir untuk mengembalikan martabat itu: memberikan kembali struktur hari, menghadirkan figur dewasa yang peduli, dan menegaskan bahwa masa depan belum hilang.

Pengalaman panjang Aceh setelah tsunami 2004 memberikan pelajaran yang tak ternilai. Banyak sekolah darurat berdiri dari tenda sederhana, papan bekas, dan tenaga sukarela warga. Tidak semua memiliki fasilitas memadai, tetapi mereka memiliki sesuatu yang jauh lebih penting: kepercayaan bersama bahwa pendidikan harus terus hidup. Warga lokal, relawan, pemerintah, media, hingga lembaga internasional bergerak dalam tujuan yang sama: anak-anak harus tetap punya ruang belajar. Tanpa kepercayaan, bangunan mungkin dapat didirikan, tetapi harapan tidak akan pernah tumbuh.

 

KOLABORASI DAN PEMULIHAN

Semangat yang sama kembali ditegaskan dalam pembekalan relawan pendidikan untuk sekolah-sekolah darurat yang diselenggarakan Yayasan Sukma di Sekolah Sukma Bangsa. Relawan diingatkan sejak awal bahwa mereka bukan aktor tunggal yang datang membawa jawaban cepat atas persoalan yang rumit. Mereka hadir bukan sebagai penyelamat, melainkan sebagai bagian dari ekosistem besar yang sudah lebih dulu hidup: ada masyarakat, orangtua, tokoh adat, perangkat desa, guru lokal, dan tentu saja anak-anak itu sendiri.

Kesadaran itu penting sebab dalam situasi pascabencana, yang paling dibutuhkan bukan hanya bantuan, melainkan juga rasa memiliki. Program sebaik apa pun akan mudah runtuh ketika masyarakat merasa menjadi penonton di rumah mereka sendiri. Sebaliknya, ketika warga dilibatkan, ketika orangtua diajak berbicara, ketika tokoh lokal dihormati, ruang belajar darurat berubah menjadi milik bersama, dijaga, dirawat, dan diperjuangkan keberlanjutannya.

Relawan, karena itu, berperan sebagai penghubung. Mereka menjembatani kebutuhan anak dengan kapasitas komunitas, menyelaraskan bantuan dengan kearifan lokal, serta memastikan setiap intervensi tumbuh dari dialog, bukan instruksi sepihak. Tanpa cara pandang itu, pendidikan darurat berisiko menjadi kegiatan sesaat: ramai di awal, menghilang ketika dukungan pergi, tanpa meninggalkan jejak yang menguatkan.

Paulo Freire pernah mengingatkan bahwa pendidikan selalu bersifat dialogis. Ia hidup dari hubungan antarmanusia. Pendekatan yang merasa paling tahu justru sering kali menjauhkan masyarakat dari rasa memiliki. Dalam situasi krisis, mendengar menjadi sama pentingnya dengan bertindak. Berjalan bersama jauh lebih bermakna daripada berjalan paling depan.

 

PENGHUBUNG DALAM PEMULIHAN

Kita juga belajar bahwa trauma anak pascabencana tidak pernah berdiri sendiri. Ia berkaitan dengan kecemasan orangtua, perubahan lingkungan, dan ketidakpastian yang terus berlangsung. Karena itu, menghadirkan kegiatan belajar tanpa membangun komunikasi dengan keluarga sering kali tidak cukup. Anak membutuhkan kehadiran orang dewasa yang konsisten, yang bisa dipercaya, yang tidak datang dan pergi tanpa kejelasan. Konsistensi itu hanya mungkin terwujud melalui kerja tim dan koordinasi yang kuat.

Di situlah kolaborasi berubah menjadi etika. Prinsip do no harm mengingatkan bahwa niat baik saja tidak memadai. Tanpa pemahaman konteks sosial dan budaya, bantuan justru bisa melukai. Relawan harus hadir sebagai penghubung, bukan pemisah. Sikap menghargai adat, pilihan kata dalam berbicara, hingga cara melibatkan tokoh lokal merupakan bagian dari membangun modal sosial bernama kepercayaan.

Dalam keadaan darurat, pendidikan memang sering melampaui kurikulum. Ia hadir lewat permainan yang membuat anak tertawa kembali, lewat rutinitas sederhana yang memunculkan rasa normal, lewat percakapan hangat yang menumbuhkan keberanian. Namun, fleksibilitas itu menuntut relawan yang mampu bekerja secara kolektif, saling belajar, dan tidak merasa paling benar sendiri.

Aceh mungkin memiliki sejarah panjang dengan bencana, tetapi pelajaran dari sini berbicara kepada Indonesia secara luas. Kita hidup di wilayah rawan. Kita akan terus berhadapan dengan situasi tak terduga. Karena itu, pertanyaan terpenting bukan lagi apakah krisis akan datang, melainkan apakah kita siap untuk berjalan bersama ketika ia tiba. Masa depan anak-anak tidak pernah dibangun satu tangan yang paling kuat. Ia lahir dari banyak tangan yang saling menggenggam. Di situlah pendidikan menemukan wajahnya yang paling manusiawi.

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya