Headline
Pemerintah pelajari seluruh risiko menyusul putusan MA AS.
Pemerintah pelajari seluruh risiko menyusul putusan MA AS.
Kumpulan Berita DPR RI
TIDAK semua keberangkatan dimulai dengan surat tugas. Sebagian justru lahir dari sesuatu yang lebih sunyi, dari panggilan hati yang tidak bisa ditunda. Tiga bulan yang lalu, itulah yang dilakukan Febby Gracella Lusikooy, seorang guru dari Sekolah Sukma Bangsa Sigi, Sulawesi Tengah. Tanpa instruksi, tanpa penugasan resmi, ia meminta izin kepada atasannya untuk berangkat menjadi relawan pendidikan di desa terdampak bencana di Aceh.
Ia bahkan telah menyiapkan diri untuk kemungkinan terburuk. Dalam sesi wawancara, ia menyatakan siap jika tidak mendapat ongkos perjalanan pulang-pergi dari Sulawesi Tengah ke Aceh. Ia juga siap jika, sepulang dari tugas relawan, ia tidak lagi menjadi bagian dari sekolah tempatnya mengabdi. Keputusan itu bukan pilihan ringan, melainkan keberanian moral. Ia berangkat dengan satu niat: membantu anak-anak tetap belajar di tengah keterpurukan bencana.
Keputusan Febby, begitu ia biasa dipanggil, memaksa kita bertanya ulang tentang makna menjadi pendidik. Apakah guru hanya mereka yang mengajar di ruang kelas dengan papan tulis yang kering dan atap kukuh? Ataukah guru ialah mereka yang bersedia hadir, bahkan ketika ruang kelas itu hanya berupa tenda bocor?
HARAPAN DI TENDA
Setelah mengikuti pembekalan, Febby ditugasi di Pante Cempa, Aceh Tamiang, di sekolah yang berdiri dalam wujud tenda darurat. Di dalamnya, anak-anak dari kelas 1 hingga kelas 6 belajar bersama dalam satu ruang sama. Tak ada sekat, batas usia, atau kenyamanan minimal pendidikan.
Ketika hujan deras turun, air merembes masuk. Terkadang, sekolah harus diliburkan karena kondisi tidak memungkinkan. Namun, libur bukan berarti berhenti belajar. Febby dan para relawan justru mendatangi rumah anak-anak satu per satu, memastikan hubungan mereka dengan pendidikan tidak terputus. Di situlah pendidikan menunjukkan esensinya, yaitu—menurut Parker J Palmer (1998)—bukan soal gedung atau fasilitas, melainkan relasi dan kehadiran.
Namun, tantangan terbesar bukanlah mengajar dalam keterbatasan fisik. Tantangan terbesar ialah mengelola perasaan. Febby harus belajar menahan kesedihan ketika melihat anak-anak datang dengan pakaian seadanya, dengan buku yang terbatas, dengan kehidupan yang baru saja diguncang kehilangan. Namun, pada saat yang sama, ia juga menyaksikan sesuatu yang lebih kuat dari kesedihan: harapan. Anak-anak itu tetap datang. Mereka tetap ingin belajar. Harapan itulah yang menjaga sekolah tetap hidup.
GURU SEKALIGUS PENYEMBUH LUKA
Peran Febby di desa itu melampaui definisi guru dalam pengertian sempit. Ia tidak hanya mengajarkan membaca, menulis, dan berhitung. Ia juga menjadi bagian dari proses pemulihan.
Setiap sore, mereka membuka kelas tambahan: bahasa Inggris, membaca, menulis, berhitung, menari, dan mengaji. Anak-anak datang dengan antusiasme yang sulit dijelaskan. Bahkan ketika para guru sudah kelelahan, semangat anak-anak justru menjadi sumber energi baru.
Belajar ialah bentuk harapan; selama anak-anak masih ingin belajar, mereka masih percaya pada masa depan.
Dalam konteks pascabencana, pendidikan bukan sekadar proses akademik. Ia ialah proses pemulihan psikologis. Ia membantu anak-anak membangun kembali rasa normal, rasa aman, dan rasa percaya bahwa hidup mereka belum berakhir.
Febby, dengan demikian, bukan hanya mengajar. Ia membantu kampung itu menemukan kembali denyut kehidupannya.
BELAJAR MENJADI KEPALA MADRASAH
Menariknya, Febby sendiri tidak memiliki pengalaman mengajar di sekolah dasar sebelumnya. Namun, di sekolah tenda itu, ia justru ditunjuk menjadi kepala madrasah darurat.
Ia belajar manajemen sekolah secara langsung, bukan dari buku, melainkan dari kenyataan. Ia belajar bagaimana mengatur kelas yang heterogen, bagaimana menjaga motivasi anak-anak, dan bagaimana menciptakan suasana belajar yang tetap menyenangkan.
Setiap hari, ia juga belajar berbagai ice breaking karena anak-anak selalu meminta bermain. Permintaan sederhana itu sebenarnya mengandung makna yang dalam. Anak-anak tidak hanya membutuhkan pengetahuan. Mereka membutuhkan kegembiraan. Mereka membutuhkan alasan untuk kembali merasa menjadi anak-anak. Mungkin, di situlah pendidikan menemukan bentuknya yang paling manusiawi.
TOLERANSI TUMBUH DARI KETULUSAN
Ada satu pengalaman lain yang memperlihatkan wajah pendidikan yang lebih luas, pendidikan tentang kemanusiaan. Febby, yang beragama Kristen, mengajar di sebuah madrasah ibtidaiah. Namun, perbedaan itu tidak pernah menjadi penghalang.
Para guru dan kepala sekolah tidak pernah memaksanya untuk menyesuaikan diri secara simbolis. Anak-anak memang bertanya dengan polos, “Kakak kok tidak berhijab?” Namun, pertanyaan itu dijawab dengan jujur dan sederhana, menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan keberagaman. Di sini, toleransi tidak diajarkan sebagai konsep abstrak. Ia hidup dalam perjumpaan sehari-hari. Warga desa juga menunjukkan kebaikan yang tulus. Bahkan pada bulan puasa, mereka tetap mengundang Febby untuk makan siang di tenda mereka jika ia membutuhkan. Kebaikan itu tidak lahir dari kesamaan identitas, tetapi dari kesamaan kemanusiaan.
JENDELA YANG TERBATAS
Suatu hari, seorang ibu bertanya kepada Febby, “Dek, Sulawesi itu di Jakarta, ya? Kami cuma tahu Medan dan Jakarta.”
Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi mengandung kenyataan yang getir. Ia menunjukkan betapa akses terhadap pengetahuan masih timpang. Betapa sebagian warga negara masih hidup dalam keterbatasan informasi tentang dunia di luar lingkungan mereka.
Namun, alih-alih menjadi alasan untuk menghakimi, kenyataan itu justru menjadi pengingat tentang pentingnya kehadiran guru. Guru bukan hanya membawa pelajaran. Mereka membawa jendela dunia. Di desa itu, Febby menjadi salah satu jendela tersebut.
PENDIDIKAN SEBAGAI TINDAKAN KEBERANIAN
Kisah Febby ialah kisah tentang keberanian yang sunyi. Ia tanpa seremoni, tanpa panggung, tanpa janji imbalan. Namun, justru di situlah letak maknanya.
Di tengah sistem pendidikan yang sering terjebak dalam administrasi, regulasi, dan formalitas, tindakan Febby mengingatkan kita pada esensi pendidikan yang sesungguhnya. Menurut Paulo Freire (1968), pendidikan ialah tindakan keberpihakan. Ia keputusan untuk hadir, terutama ketika kehadiran itu paling dibutuhkan.
Di bawah tenda bocor, di tengah desa yang sedang memulihkan diri, pendidikan tetap berlangsung. Bukan karena sistem memaksanya, melainkan karena ada individu memilih untuk peduli. Di situlah harapan dimulai, dari satu orang yang memutuskan untuk datang, ketika yang lain memilih menunggu.
SEMBILAN puluh hari setelah banjir melanda Aceh, beberapa anak kembali duduk di bawah tenda biru yang difungsikan sebagai ruang kelas darurat.
Penundaan ini murni merupakan langkah taktis untuk menjaga stabilitas anggaran di tengah pemotongan dana transfer dari pusat.
PENDIDIKAN bermutu tidak pernah lahir dari ruang hampa. Ia tumbuh dari tangan-tangan guru yang bekerja dengan dedikasi, ketenangan batin, dan rasa aman dalam menjalani profesinya.
DALAM dunia yang kian terhubung dan kompleks, keberagaman bukan lagi sekadar realitas sosial, melainkan juga sebuah keniscayaan historis dan antropologis.
Peran guru BK dan kepala sekolah sangat krusial dalam membantu siswa menentukan arah studi serta karier masa depan mereka.
SEMBILAN puluh hari setelah banjir melanda Aceh, beberapa anak kembali duduk di bawah tenda biru yang difungsikan sebagai ruang kelas darurat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved