Headline

Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.

BRIN: Indonesia Punya Peluang Ikut Misi Observatorium di Bulan

Atalya Puspa    
13/3/2026 13:29
BRIN: Indonesia Punya Peluang Ikut Misi Observatorium di Bulan
Kepala Pusat Riset Antariksa BRIN Emanuel Sungging Mumpuni.(Dok. Antara)

BADAN Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memaparkan peluang bagi Indonesia untuk terlibat dalam kolaborasi misi observatorium astronomi di bulan. Kolaborasi ini dinilai penting sebagai langkah awal memperkuat kapasitas riset antariksa nasional.

Kepala Pusat Riset Antariksa BRIN Emanuel Sungging Mumpuni mengatakan pengamatan astronomi selama ini umumnya dilakukan dari permukaan bumi dengan teleskop atau kamera yang diarahkan ke langit. Namun, ke depan pengamatan tersebut juga dapat dilakukan langsung dari bulan.

“Maka pada pagi ini, kita akan membuka wawasan terlebih dahulu dan mempelajari peluang-peluang itu,” kata Emanuel dalam keterangan resmi, Jumat (13/2). 

Kolokium tersebut menghadirkan astronom dari Institut Teknologi Bandung, Chatief Kunjaya, yang juga menjabat sebagai Board of Director International Lunar Observatory Association (ILOA). Ia menjelaskan, pengamatan astronomi dari bulan memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan dari bumi.

Menurutnya, pengamatan gelombang radio dari bumi kerap terganggu oleh berbagai intervensi sinyal radio lain. Sebaliknya, jika dilakukan dari bulan, gangguan tersebut dapat diminimalkan karena permukaan bulan dapat menghalangi interferensi gelombang radio dari bumi.

“Ketika kita ingin mengamati gelombang radio alam semesta ini dari bumi, akan banyak gangguan intervensi gelombang radio lain. Sedangkan jika ditempatkan di bulan, intervensi dari bumi dapat terhalang,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan bahwa bulan memiliki wilayah yang gelap permanen di bagian bawah kawah dengan suhu sangat rendah. Kondisi ini memungkinkan kamera pengamatan bekerja tanpa memerlukan sistem pendingin tambahan.

Selain itu, permukaan bulan relatif stabil dan minim pergerakan sehingga memungkinkan pembangunan sistem pengamatan seperti Very Long Baseline Interferometer (VLBI). 

Atmosfer bulan yang sangat tipis juga membuat cahaya bintang dapat terlihat lebih jelas dibandingkan dari orbit rendah bumi.

Dalam paparannya, Kunjaya juga menyinggung keberhasilan proyek ILO-X yang berhasil mendarat di bulan menggunakan wahana Nova-C. Meski demikian, saat pendaratan salah satu kaki wahana menabrak batu sehingga perangkat kamera berada dalam posisi miring dan pengamatan menjadi kurang optimal.

“ILO-X terbukti sukses karena telah bisa mendarat di bulan dan mengirimkan foto hasil pengamatan. Namun saat mendarat salah satu kaki pesawat menabrak batu sehingga kamera mengamati dalam posisi miring dari bawah,” katanya.

Proyek ILO-X disebut sebagai percobaan awal sebelum pengembangan proyek utama yaitu ILO-1 dan ILO-2. Pada proyek selanjutnya, diperlukan kamera yang mampu bergerak otomatis agar pengamatan dapat dilakukan lebih optimal.

Kunjaya menilai Indonesia memiliki peluang untuk berkontribusi dalam misi tersebut, termasuk dalam pengembangan instrumen kamera pengamatan untuk proyek ILO-2.

“Dengan terus berpartisipasi dalam program ILOA, Indonesia memiliki kesempatan untuk turut mengeksplorasi angkasa luar lebih jauh,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa manfaat dari kegiatan tersebut mungkin tidak terasa secara langsung saat ini, tetapi akan berdampak penting bagi pengembangan sains dan teknologi di masa depan.

“Indonesia harus mempersiapkan diri terutama dalam hal capacity building karena berpotensi berpartisipasi dalam misi observatorium astronomi di bulan,” katanya. (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya