Headline
Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.
Kumpulan Berita DPR RI
TIONGKOK semakin serius dalam ambisinya mendaratkan astronot di Bulan sebelum akhir dekade ini. Sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Nature Astronomy pada 9 Maret 2026, mengungkapkan wilayah Rimae Bode menjadi kandidat prioritas utama sebagai lokasi pendaratan bersejarah tersebut.
Kawasan yang terletak di sisi dekat Bulan (near side) ini dipilih karena menawarkan kombinasi langka antara keamanan teknis dan nilai ilmiah yang sangat tinggi. Peneliti dari China University of Geosciences, Profesor Jun Huang, menyebut wilayah ini sebagai sebuah "museum geologi" yang menyimpan rahasia masa lalu satelit alami Bumi tersebut.
Dari 106 kandidat awal, Rimae Bode terpilih masuk dalam 14 besar karena memenuhi persyaratan teknik yang ketat. Lokasinya berada di dataran vulkanik dekat khatulistiwa Bulan, yang menjamin paparan sinar matahari yang stabil untuk pasokan energi serta mempermudah komunikasi langsung dengan Bumi.
Lebih dari sekadar keamanan pendaratan, Rimae Bode adalah "harta karun" bagi para peneliti. Kawasan ini memiliki bentang alam yang beragam, mulai dari aliran lava kuno, saluran lava (rilles), hingga material sisa tumbukan kawah.
"Wilayah ini menawarkan pemandangan beragam berupa dataran vulkanik dan dataran tinggi kuno, yang memungkinkan astronot mengambil sampel mulai dari abu vulkanik yang meletus dari bagian dalam Bulan hingga puing-puing dampak kuno yang masif dalam satu area yang dapat dijelajahi," ujar Huang kepada Space.com.
Salah satu temuan paling menarik yang diharapkan dari lokasi ini adalah deposit mantel gelap yang terdiri dari abu vulkanik dan manik-manik kaca. Material ini meletus dari kedalaman Bulan miliaran tahun lalu.
"Sampel-sampel ini bertindak sebagai 'utusan' dari mantel Bulan, menawarkan kesempatan langka untuk menganalisis secara langsung komposisi kimia dari jantung terdalam Bulan, informasi yang biasanya tersembunyi di bawah kerak setebal bermil-mil," tambah Huang.
Penelitian terhadap material ini diyakini mampu merekonstruksi sejarah vulkanik Bulan, membantu ilmuwan memahami bagaimana Bulan mendingin, serta memberikan gambaran tentang evolusi planet berbatu lainnya, termasuk Bumi.
Misi ini nantinya akan menyertakan sebuah kendaraan penjelajah (rover) tidak bertekanan untuk membantu mobilitas astronot. Oleh karena itu, para kru yang terpilih akan menjalani pelatihan geologi yang intensif. Tiongkok baru-baru ini telah menyelesaikan pelatihan analog di lingkungan gua sebagai simulasi misi masa depan.
Huang menekankan bahwa astronot harus mampu membedakan batu biasa dengan "emas ilmiah", seperti butiran kaca vulkanik kecil yang membawa petunjuk tentang interior dalam Bulan.
Meskipun pemilihan lokasi akhir masih terus berlanjut, Tiongkok terus mematangkan infrastrukturnya. Pesawat luar angkasa generasi terbaru, Mengzhou, dijadwalkan melakukan penerbangan orbital penuh pertamanya akhir tahun ini menggunakan roket Long March 10A. (Space/Z-2)
NASA memberi lampu hijau misi Axiom Mission 5 ke ISS pada 2027. Misi ini menandai peralihan eksplorasi orbit Bumi ke sektor komersial.
Dua robot mungil mirip karakter Pixar sukses menemukan es air dalam simulasi permukaan Bulan di fasilitas DLR Jerman. Teknologi ini diharapkan mendukung misi Artemis.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved