Headline
Serangan terhadap pasukan perdamaian melanggar hukum internasional.
Serangan terhadap pasukan perdamaian melanggar hukum internasional.
Kumpulan Berita DPR RI
MISTERI mengenai perbedaan drastis antara sisi dekat dan sisi jauh Bulan mulai menemui titik terang. Melalui analisis sampel batuan basal yang dibawa pulang misi Chang’e 6 milik Tiongkok, para ilmuwan menemukan bukti kuat hantaman benda langit raksasa di masa purba adalah penyebab utamanya.
Selama ini, sisi dekat Bulan yang menghadap Bumi dikenal dengan pola "Man in the Moon" yang terbentuk dari maria, dataran vulkanik luas berwarna gelap. Sebaliknya, sisi jauh Bulan yang hanya bisa dilihat wahana antariksa hampir tidak memiliki dataran vulkanik tersebut.
Penelitian terbaru yang dipimpin Heng-Ci Tian dari Institute of Geology and Geophysics, Chinese Academy of Sciences, fokus pada rasio isotop kalium dalam sampel basal dari Cekungan South Pole–Aitken (SPA). Cekungan ini merupakan salah satu kawah tabrakan terbesar di tata surya dengan diameter mencapai 2.500 kilometer.
Tim peneliti menemukan rasio isotop kalium-41 (yang lebih berat) terhadap kalium-39 jauh lebih tinggi pada sampel Chang’e 6 dibandingkan sampel yang dibawa oleh misi Apollo dari sisi dekat Bulan.
Setelah menguji berbagai kemungkinan, mulai dari radiasi sinar kosmik hingga kontaminasi meteorit, para ilmuwan menyimpulkan fenomena ini adalah sisa-sisa dari dampak raksasa yang membentuk Cekungan SPA sekitar 4,2 hingga 4,3 miliar tahun lalu.
Suhu dan tekanan ekstrem dari hantaman tersebut memanaskan kerak dan mantel Bulan hingga menyebabkan elemen volatil (elemen dengan titik didih rendah) seperti kalium menguap ke luar angkasa. Karena isotop kalium-39 yang lebih ringan lebih mudah menguap dibandingkan isotop yang berat, maka yang tersisa di lokasi tersebut adalah konsentrasi kalium-41 yang lebih tinggi.
Temuan ini bukan sekadar keingintahuan kimiawi. Penguapan elemen volatil ini secara langsung memengaruhi aktivitas geologi Bulan. Penurunan jumlah elemen volatil di sisi jauh Bulan membatasi terjadinya aktivitas vulkanik karena terhambatnya pembentukan magma. Inilah alasan kuat mengapa sisi jauh Bulan tidak memiliki banyak maria atau dataran vulkanik gelap seperti sisi dekat.
Misi Chang’e 6 sendiri mendarat di kawah Apollo di dalam Cekungan SPA pada 1 Juni 2024, dan berhasil membawa sampel berharga ke Bumi 25 hari kemudian. Temuan ini membuktikan betapa dalamnya dampak tabrakan purba tersebut dalam mengubah struktur interior Bulan.
Hasil penelitian ini telah dipresentasikan pada 12 Januari di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS), memberikan wawasan baru bagi umat manusia tentang sejarah pembentukan satelit alami kita. (Space/Z-2)
Ilmuwan Tiongkok menemukan waktu paling aman bagi manusia untuk beraktivitas di Bulan. Dengan suhu ekstrem dan radiasi tinggi, pemilihan waktu jadi kunci bertahan hidup.
Anda tidak memerlukan alat bantu seperti teleskop untuk melihat Pink Moon karena ukurannya yang besar dan cahayanya yang sangat terang.
Amerika Serikat berkomitmen membangun pangkalan permanen di kutub selatan Bulan dengan investasi sebesar US$20 miliar (sekitar Rp338 triliun) selama tujuh tahun ke depan.
NASA resmi mengumumkan rencana ambisius untuk melakukan setidaknya satu kali pendaratan di Bulan setiap tahun, yang akan dimulai pada 2027.
Ilmuwan temukan potensi kacang arab sebagai sumber pangan masa depan utama di Bulan. Cek hasil penelitian NASA terkait ketahanan legum di tanah ekstrem luar angkasa.
BADAN Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memaparkan peluang bagi Indonesia untuk terlibat dalam kolaborasi misi observatorium astronomi di bulan.
Sampel Bulan dari misi Chang’e 6 Tiongkok mengungkap sisi jauh Bulan memiliki interior lebih dingin hingga 100°C dibanding sisi dekat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved