Headline
Pemudik diminta manfaatkan kebijakan WFA.
Kumpulan Berita DPR RI
FENOMENA astronomi Pink Moon diprediksi akan mencapai puncaknya pada 2 April 2026. Secara teknis, puncak fase purnama ini terjadi pada pukul 09.12 WIB (02.12 UTC). Namun, keindahan bulan purnama ini tetap dapat dinikmati dalam rentang waktu 12 jam sebelum atau sesudah waktu puncak tersebut.
Bagi pengamat di Indonesia, fenomena ini dapat disaksikan dengan mata telanjang di seluruh wilayah, sejajar dengan pengamat di kota-kota besar dunia seperti New York, London, Beijing, dan Tokyo.
Saat terbit di ufuk timur, Pink Moon akan bersinar terang di atas Spica, bintang paling cemerlang di konstelasi Virgo.
Menjelang tengah malam, posisi Bulan akan melengkung di atas cakrawala selatan sebelum akhirnya terbenam di barat sesaat setelah matahari terbit.
Selain sang rembulan, langit malam 2 April juga akan dihiasi oleh objek-objek menarik lainnya:
Anda tidak memerlukan alat bantu seperti teleskop untuk melihat Pink Moon karena ukurannya yang besar dan cahayanya yang sangat terang.
Namun, bagi Anda yang ingin mengabadikan momen ini, penggunaan kamera DSLR dengan lensa telefoto atau kamera ponsel modern sangat disarankan untuk mendapatkan detail permukaan bulan yang maksimal.
Pastikan Anda mencari lokasi dengan pandangan luas ke arah cakrawala dan cuaca yang cerah untuk pengalaman pengamatan terbaik. (Z-1)
Penemuan 'Little Red Dots' oleh teleskop James Webb memicu perdebatan astronom. Benarkah itu lubang hitam rakus, atau justru kelahiran gugus bintang purba?
Rencana SpaceX dan Reflect Orbital meluncurkan jutaan pusat data serta cermin raksasa ke orbit memicu kemarahan astronom. Langit malam terancam berubah selamanya.
Teleskop Hubble NASA berhasil menangkap citra paling tajam komet antarbintang 3I/ATLAS. Objek misterius ini melaju hingga 209.000 km/jam dan berasal dari luar tata surya.
Ledakan supernova ternyata hanya memancarkan 1% energi dalam bentuk cahaya. Sisanya dibawa neutrino, partikel misterius yang membuka rahasia inti bintang.
Bintang kuno PicII-503 ditemukan sebagai “kapsul waktu” dari awal alam semesta. Komposisi uniknya memberi petunjuk tentang bintang pertama dan evolusi galaksi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved