Headline
Gara-gara Yaqut, Noel ikut ajukan jadi tahanan rumah.
Gara-gara Yaqut, Noel ikut ajukan jadi tahanan rumah.
Kumpulan Berita DPR RI
TELESKOP Luar Angkasa James Webb (JWST) terus memberikan teka-teki baru bagi para astronom. Salah satu temuan paling menarik akhir-akhir ini adalah populasi objek misterius yang dijuluki "Little Red Dots" (LRD) atau Si Bintik Merah Kecil.
Awalnya, para ilmuwan menduga bintik-bintik merah ini adalah lubang hitam raksasa yang sedang "makan" dengan rakus di fajar alam semesta. Namun, sebuah studi terbaru yang dirilis melalui arXiv menawarkan hipotesis yang jauh lebih mengejutkan. LRD mungkin bukanlah lubang hitam, melainkan proses kelahiran gugus bola (globular clusters) yang masif.
LRD menjadi misteri karena karakteristik cahayanya yang unik, yaitu spektrum berbentuk "V" yang menunjukkan perpaduan antara ultraviolet biru dan cahaya optik merah. Fenomena ini terjadi karena cahaya dari objek tersebut merenggang akibat ekspansi alam semesta (redshift), menandakan kita sedang melihat objek dari masa ketika alam semesta masih sangat muda.
Meskipun teori lubang hitam sempat mendominasi, para peneliti menemukan sifat LRD sangat berbeda dengan populasi lubang hitam yang selama ini dikenal. Hal ini mendorong tim ilmuwan untuk mengajukan ide berani, LRD adalah "situs konstruksi" kosmik bagi ribuan bintang.
Dalam model baru ini, cahaya terang LRD berasal dari populasi bintang yang sangat muda. Namun, ada aktor utama yang diduga bertanggung jawab atas intensitas cahayanya, yakni Bintang Supermasif (Supermassive Star/SMS).
SMS adalah bintang hipotetis yang ukurannya jauh lebih besar, lebih panas, dan lebih terang daripada bintang biasa, namun memiliki usia yang sangat singkat. Kehadiran SMS dianggap sebagai mercusuar yang memandu pembentukan seluruh gugus bintang di sekitarnya.
"Penjelasan elegan ini menghubungkan banyak hal yang sebelumnya tidak terjawab," tulis peneliti dalam laporannya. Salah satunya adalah kepadatan jumlah LRD yang terpantau sangat konsisten dengan populasi gugus bola yang kita lihat di alam semesta lokal saat ini.
Meski menjanjikan, teori ini belum sepenuhnya sempurna. Model atmosfer bintang saat ini masih kesulitan menjelaskan suhu LRD yang terpantau lebih dingin dan lebih terang daripada prediksi teori SMS. Para astronom mengakui mereka perlu menyempurnakan cetak biru kosmik ini, termasuk memasukkan model untuk bintang yang suhunya di bawah 7.000 Kelvin.
Langkah selanjutnya dalam detektif galaksi ini adalah mencari "sidik jari" kimiawi. Jika observasi masa depan menemukan pola kelimpahan helium, nitrogen, serta korelasi khusus antara natrium dan oksigen, maka itu akan menjadi bukti kuat LRD memang cikal bakal gugus bola.
Jika terbukti benar, LRD bukan sekadar titik merah di lensa kamera. Mereka akan menjadi kapsul waktu yang membuka jendela langsung ke era pembentukan bintang pertama dan memberikan pemahaman baru tentang astrofisika ekstrem di masa lalu yang sangat jauh. (Space/Z-2)
Teleskop James Webb (JWST) temukan titik merah misterius di luar angkasa. Benarkah ini bukti kelahiran lubang hitam supermasif dari awan gas purba?
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved