Headline
Tradisi halal bi halal untuk menyempurnakan ibadah puasa Ramadan.
Tradisi halal bi halal untuk menyempurnakan ibadah puasa Ramadan.
Kumpulan Berita DPR RI
DUNIA astronomi saat ini tengah berada dalam kondisi siaga satu. Para ilmuwan dari berbagai belahan dunia melayangkan protes keras terhadap rencana peluncuran puluhan ribu cermin pengorbit dan jutaan pusat data (data center) ke luar angkasa. Proyek ambisius ini dinilai akan menghancurkan pemandangan langit malam dan melumpuhkan observasi ilmiah secara permanen.
Lembaga penelitian bergengsi seperti British Royal Astronomical Society (RAS) dan European Southern Observatory (ESO) telah resmi mengajukan keberatan kepada Komisi Komunikasi Federal AS (FCC).
"Ini benar-benar tidak bisa ditoleransi," ujar Robert Massey, Wakil Direktur Eksekutif RAS kepada Space.com. "Ini adalah penghancuran bagian sentral dari warisan manusia."
Pemicu utama keresahan ini adalah dua proposal besar. Pertama, rencana SpaceX milik Elon Musk untuk meluncurkan satu juta pusat data ke orbit demi mendukung kekuatan komputasi AI. Kedua, startup Reflect Orbital yang berencana meluncurkan 50.000 cermin raksasa (masing-masing selebar 55 meter) untuk memantulkan cahaya matahari ke pembangkit listrik di Bumi.
Jika disetujui, dampak visualnya akan sangat mengerikan. Massey menjelaskan cermin-cermin tersebut bisa beberapa kali lipat lebih terang daripada bulan purnama. Bahkan dari sudut miring, cahayanya akan menyamai Planet Venus, objek tercerah di langit setelah bulan.
Bagi mata manusia, langit tidak akan lagi hitam pekat, melainkan dipenuhi ribuan titik terang yang melintas terus-menerus. Massey memperkirakan kecerahan langit secara global akan meningkat hingga tiga kali lipat, termasuk di wilayah terpencil yang selama ini menjadi suaka langit gelap.
Bagi para astronom, ini bukan sekadar masalah estetika, melainkan ancaman teknis yang nyata. Olivier Hainaut, astronom dari ESO, mengungkapkan bahwa Very Large Telescope di Cile terancam kehilangan 10% hingga 30% piksel pada setiap gambar yang diambil akibat gangguan cahaya pusat data SpaceX.
"Itu adalah kerugian besar," kata Hainaut. Ia menambahkan peningkatan kecerahan langit akibat cermin Reflect Orbital akan memaksa astronom melipatgandakan waktu eksposur kamera hingga tiga kali lipat. "Kami tidak akan bisa mengamati target yang redup lagi. Ini akan menjadi bencana."
Para ahli kini mendesak adanya kebijakan tegas terkait jumlah satelit di orbit. Fabio Felchi, peneliti polusi cahaya dari Italia, menyatakan batas aman sebenarnya sudah terlampaui. Ia menyerukan adanya kebijakan "garis merah" terhadap satelit, sama seperti regulasi terhadap polutan lingkungan lainnya.
Di sisi lain, terdapat kekhawatiran bahwa FCC akan meloloskan aplikasi ini tanpa evaluasi dampak lingkungan yang menyeluruh. "Fakta mereka mempercepat aplikasi ini... tanpa terlibat dalam tinjauan lingkungan penuh, sangatlah mengkhawatirkan," ujar John Barentine, konsultan langit gelap.
Jika ambisi teknologi ini terus melaju tanpa regulasi, hubungan kolektif manusia dengan kosmos dan ekosistem Bumi terancam berubah untuk selamanya. (Space/Z-2)
Elon Musk berencana membangun pabrik satelit AI di Bulan menggunakan sumber daya lunar. Ia mengusulkan penggunaan "ketapel" elektromagnetik untuk meluncurkan satelit.
Keputusan SpaceX memblokir akses Starlink bagi pasukan Rusia membawa dampak fatal. Koordinasi serangan drone Moskow lumpuh, memberi peluang emas bagi serangan balik Ukraina.
Dokumen terbaru Departemen Kehakiman AS mengungkap peran Jeffrey Epstein dalam mengatur hubungan asmara Kimbal Musk, adik Elon Musk, dengan seorang perempuan di jaringannya.
Elon Musk mengumumkan SpaceX beralih fokus ke Bulan sebelum Mars. Targetkan kota mandiri dalam 10 tahun demi selamatkan peradaban manusia.
Ukraina dan SpaceX resmi memblokir terminal Starlink milik Rusia. Akibatnya, sistem komunikasi militer Rusia di garis depan dilaporkan mengalami kegagalan fatal.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved