Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
DUA robot mungil menyerupai karakter film animasi Pixar terlihat merangkak di permukaan Bulan, setidaknya dalam simulasi yang dilakukan badan antariksa Jerman (DLR). Dalam uji coba ini, kedua rover tersebut menjalankan misi penting, mencari jejak es air yang kelak dibutuhkan astronot dalam program eksplorasi Bulan Artemis.
Air menjadi komponen vital untuk kebutuhan hidup, memasak, hingga bahan bakar roket. Jika sumber air di Bulan bisa ditemukan lebih dulu oleh robot, beban logistik yang harus dibawa dari Bumi akan jauh berkurang. Selain itu, waktu astronot dapat dialihkan untuk menuntaskan misi-misi ilmiah lainnya.
Robot pertama, Lightweight Rover Unit 1 (LRU1), yang memiliki tampilan mirip WALL-E, memetakan permukaan Bulan buatan di Luna Analog Facility, Cologne. Kamera panoramanya memungkinkan ia melihat dalam spektrum cahaya tampak maupun panjang gelombang lain untuk mengidentifikasi mineral atau potensi es.
LRU1 juga menarik trailer berisi radar penembus tanah untuk memeriksa kondisi bawah permukaan. Rover kedua, LRU2, mengikuti jalur yang telah dipetakan pasangannya. Setelah menerima data lokasi, LRU2 menggunakan lengan robotik dan laser untuk melakukan spektroskopi guna menganalisis sampel batuan. Teknik ini penting karena es air pernah ditemukan tersimpan dalam kristal kaca vulkanik atau butiran mineral.
Menurut Nicole Schmitz dari DLR Institute of Space Research, mobilitas menjadi kunci dalam menghadapi kondisi ekstrem di Bulan. “Gabungan berbagai metode memberikan keuntungan,” ujarnya. Ia menambahkan misi uji coba pertama ini menunjukkan bahwa “semua elemen bekerja.”
Schmitz memimpin kampanye Polar Explorer, yang juga didukung tim fasilitas uji coba. Dari simulasi tersebut, kedua rover berhasil menemukan es air yang menjadi target utama. Para peneliti kini meninjau data lebih mendalam untuk mempersiapkan uji berikutnya. Informasi dari simulasi ini juga akan dibandingkan dengan pengujian sebelumnya di Gunung Etna pada 2022.
Simulasi terbaru menghadirkan tantangan tambahan, termasuk gua lava buatan. Beberapa sumber air baru terdeteksi berkat jaringan kabel seismik yang dipasang di bawah regolit setinggi tiga meter. Getaran dari “gempa Bulan” buatan membantu mengungkap keberadaan air tersebut.
Belum ada jadwal peluncuran resmi untuk tim rover ini. Namun, para peneliti berharap Polar Explorer dapat dipilih untuk misi masa depan menggunakan wahana pendarat Argonaut dari Badan Antariksa Eropa (ESA).
Misi Argonaut, yang ditargetkan meluncur paling cepat pada 2031. Misi ini dirancang untuk membawa teknologi navigasi, energi, dan komunikasi guna mendukung program Artemis. (Space/Z-2)
NASA hadapi dua tekanan. Pusat ilmiahnya di Goddard Space Flight Center dirampingkan dan rencana pendaratan manusia di Bulan tertunda.
Penelitian terbaru mengungkap longsor unik di Bulan, Light Mantle di Lembah Taurus-Littrow, kemungkinan dipicu puing dari tumbukan kawah Tycho.
Laporan tahunan ASAP memuji kemajuan yang dicapai NASA, juga mengingatkan tentang tantangan keselamatan terkait misi-misi besar, termasuk Artemis.
Program Artemis NASA bertujuan mendaratkan perempuan pertama dan orang kulit berwarna pertama di Bulan sekaligus membangun eksplorasi berkelanjutan sebagai fondasi misi ke Mars.
Intuitive Machines memperkenalkan Moon RACER, kendaraan luar angkasa inovatif yang dirancang untuk mendukung eksplorasi Bulan dalam program Artemis NASA.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved