Headline

Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.

Ilmuwan Peringatkan Risiko Gempa akibat Bulan Terus Menyusut

Nadhira Izzati A
26/2/2026 22:25
Ilmuwan Peringatkan Risiko Gempa akibat Bulan Terus Menyusut
Ilustrasi bulan(Doc ilmuwan)

SELAMA ini Bulan sering dianggap sebagai benda langit yang mati secara geologis, namun penelitian terbaru mengungkapkan fakta yang mengejutkan. Para ilmuwan dari Center for Earth and Planetary Studies di National Air and Space Museum baru saja merilis peta global pertama yang mendokumentasikan ribuan fitur geologis kecil yang disebut Small Mare Ridges (SMR).

Temuan yang diterbitkan dalam The Planetary Science Journal ini mengonfirmasi bahwa Bulan secara aktif terus menyusut, sebuah proses yang memicu terjadinya gempa bulan atau moonquakes di wilayah yang sebelumnya dianggap stabil.

Berbeda dengan Bumi yang memiliki lempeng tektonik yang saling bertabrakan atau menjauh, Bulan hanya memiliki satu kerak yang utuh dan berkesinambungan. Ketegangan tektonik di Bulan terjadi karena bagian interior atau inti Bulan perlahan mendingin. 

Proses pendinginan tersebut menyebabkan permukaan Bulan mengerut, mirip seperti kulit anggur yang berubah menjadi kismis dan menciptakan tekanan yang luar biasa pada keraknya. Tekanan inilah yang kemudian membentuk kerutan-kerutan raksasa atau patahan di permukaan.

Penelitian yang dipimpin oleh Cole Nypaver dan Tom Watters ini berhasil mengidentifikasi 1.114 segmen SMR baru yang sebelumnya tidak dikenali di wilayah maria, dataran gelap Bulan yang terlihat dari Bumi. Dengan temuan ini, total kerutan yang terdata kini mencapai 2.634 buah. 

Analisis menunjukkan bahwa rata-rata usia kerutan ini adalah sekitar 124 juta tahun, yang dalam skala waktu geologi tergolong sangat muda. Fakta bahwa fitur-fitur ini tersebar luas menunjukkan bahwa aktivitas tektonik akibat penyusutan Bulan terjadi secara global, bukan hanya di area tertentu.

Implikasi dari temuan ini sangat krusial bagi keselamatan misi luar angkasa di masa depan, seperti program Artemis milik NASA. Karena kerutan-kerutan ini terbentuk melalui patahan aktif, para ilmuwan memperingatkan bahwa gempa bulan dapat terjadi di mana pun fitur ini ditemukan. 

Gempa di Bulan bisa berlangsung jauh lebih lama daripada di Bumi karena strukturnya yang kering dan kaku, sehingga getarannya bisa sangat merusak bagi infrastruktur pangkalan atau keselamatan astronaut yang tinggal di sana.

Memahami lokasi-lokasi aktif ini memberikan perspektif baru bagi para ilmuwan untuk menentukan tempat pendaratan yang paling aman. Dengan peta lengkap mengenai penyusutan dan aktivitas seismik ini, misi penjelajahan Bulan diharapkan dapat menghindari risiko bencana tektonik.

Sumber: Science Alert



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Reynaldi
Berita Lainnya