Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Peneliti Kembangkan Aplikasi AI untuk Ungkap Jejak Kaki Dinosaurus

Abi Rama
28/1/2026 22:35
Peneliti Kembangkan Aplikasi AI untuk Ungkap Jejak Kaki Dinosaurus
Ilustrasi(freepik)

PARA ilmuwan mengembangkan sebuah aplikasi berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) bernama DinoTracker yang dirancang untuk membantu mengidentifikasi dinosaurus melalui jejak kaki yang mereka tinggalkan jutaan tahun lalu. Aplikasi ini diharapkan dapat memberikan pendekatan baru dalam studi paleontologi, khususnya dalam menafsirkan fosil tapak kaki dinosaurus.

Penelitian ini dilakukan oleh tim ilmuwan yang dipimpin oleh Prof Steve Brusatte dari University of Edinburgh bersama Dr Gregor Hartmann dari Helmholtz-Zentrum, Jerman. Hasil riset mereka dipublikasikan dalam jurnal _Proceedings of the National Academy of Sciences_ dan dilansir oleh The Guardian.

Mengapa Jejak Kaki Sulit Diidentifikasi?

Selama ini, upaya mengaitkan jejak kaki dinosaurus dengan spesies tertentu kerap diibaratkan seperti mencocokkan sepatu kaca Cinderella dengan pemiliknya. Namun, menurut Brusatte, pendekatan tersebut tidak sesederhana itu. Bentuk jejak kaki tidak hanya dipengaruhi oleh struktur kaki dinosaurus, tetapi juga oleh kondisi tanah seperti pasir atau lumpur, serta cara kaki tersebut bergerak saat menginjak permukaan.

DinoTracker AI

Berbeda dari sistem sebelumnya, DinoTracker tidak dilatih menggunakan jejak kaki yang sudah lebih dulu diberi label oleh manusia. Tim peneliti justru memasukkan sekitar 2.000 siluet jejak kaki dinosaurus tanpa label ke dalam sistem AI. Dari data tersebut, AI kemudian mempelajari sendiri tingkat kemiripan dan perbedaan antarjejak berdasarkan sejumlah ciri yang dianggap penting.

Hasilnya, para peneliti menemukan delapan karakteristik utama yang mencerminkan variasi bentuk jejak kaki, seperti bentangan jari, luas permukaan kaki yang menyentuh tanah, hingga posisi tumit. Karakteristik inilah yang digunakan sistem untuk mengelompokkan jejak-jejak yang dinilai serupa.

Teknologi tersebut kemudian dikembangkan menjadi aplikasi DinoTracker yang dapat diakses secara gratis. Melalui aplikasi ini, pengguna dapat mengunggah siluet jejak kaki dinosaurus, melihat tujuh jejak lain yang paling mirip, serta memanipulasi bentuk jejak untuk memahami bagaimana perubahan pada karakteristik tertentu memengaruhi hasil pencocokan.

Menurut Hartmann, meskipun para ahli masih perlu memverifikasi faktor lain seperti usia fosil dan material tempat jejak tersebut terbentuk, sistem AI ini mampu mengelompokkan jejak kaki sesuai dengan klasifikasi para pakar manusia hingga sekitar 90 persen.

Salah satu temuan menarik dari riset ini adalah dukungan AI terhadap pengamatan lama para paleontolog mengenai adanya jejak kaki dari periode Trias dan awal Jura yang tampak sangat menyerupai jejak burung. Padahal, usia jejak tersebut sekitar 60 juta tahun lebih tua dibandingkan fosil burung tertua yang pernah ditemukan, yakni Archaeopteryx.

Brusatte menilai temuan ini menunjukkan bahwa kemiripan tersebut bukan sekadar hasil dugaan. Namun, ia menegaskan bahwa kesimpulan tersebut belum final. Ia menduga jejak tersebut kemungkinan besar dibuat oleh dinosaurus pemakan daging yang memiliki kaki menyerupai burung, yang mungkin merupakan leluhur burung, tetapi belum bisa disebut sebagai burung sejati.

Pandangan lebih kritis juga disampaikan oleh Dr Jens Lallensack dari Humboldt University of Berlin, yang tidak terlibat dalam penelitian ini. Ia menilai salah satu keterbatasan sistem baru tersebut adalah karakteristik yang dianalisis AI belum tentu sepenuhnya mencerminkan bentuk kaki dinosaurus itu sendiri. Menurutnya, jejak yang tampak seperti burung bisa saja terbentuk akibat cara kaki dinosaurus theropoda tenggelam di tanah yang lunak.

Meski masih menyisakan perdebatan, kehadiran DinoTracker dinilai sebagai langkah maju dalam pemanfaatan kecerdasan buatan untuk membantu mengurai misteri kehidupan purba, khususnya dalam memahami jejak kaki dinosaurus yang selama ini sulit diinterpretasikan secara pasti.

Sumber: The Guardian



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Reynaldi
Berita Lainnya