Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

Peneliti Temukan Jawaban Misteri Sungai Melawan Gravitasi dan Belah Pegunungan

Nadhira Izzati A
28/2/2026 23:15
Peneliti Temukan Jawaban Misteri Sungai Melawan Gravitasi dan Belah Pegunungan
Sungai Green(Doc Noticias Ambientales)

MISTERI geologis yang menyelimuti Sungai Green di Utah, Amerika Serikat, akhirnya terpecahkan. Selama 150 tahun, para ilmuwan bertanya-tanya bagaimana sungai tersebut seolah mampu melawan hukum gravitasi dengan membelah Pegunungan Uinta yang menjulang setinggi 4.000 meter. 

Fenomena langka ini memungkinkan aliran air mengukir Ngarai Lodore sedalam 700 meter tepat di jantung pegunungan, sebuah jalur yang secara logika topografi seharusnya mustahil untuk dilewati.

Kronologi Jalur yang “Mustahil”

Kunci utama untuk memahami kronologi mustahil ini terletak pada perbedaan usia yang mencolok antara formasi batuan dan aliran sungai. Pegunungan Uinta diketahui telah terbentuk sejak 50 juta tahun yang lalu, namun bukti geologis menunjukkan bahwa Sungai Green baru menempuh jalurnya yang sekarang kurang dari 8 juta tahun yang lalu.

Hal tersebut menimbulkan pertanyaan, bagaimana bisa Sungai Green membelah Pegunungan Uinta yang jauh lebih tua? Sedangkan pada kondisi normal, air akan mencari jalur dengan hambatan terendah dan mengalir mengelilingi formasi batuan besar. Tetapi, Sungai Green justru menabrak pegunungan tersebut secara langsung.

Para peneliti menemukan bahwa jawaban dari teka-teki ini tidak berada di permukaan, melainkan jauh di bawah kerak bumi melalui proses yang disebut tetesan litosfer (lithospheric drip).

Apa itu Tetesan Litosfer? Bagaimana Bisa Terjadi?

Proses tetesan litosfer ini terjadi ketika material kaya mineral yang sangat padat berkumpul di dasar kerak bumi hingga lapisan tersebut menjadi terlalu berat untuk ditopang. Akibat gaya gravitasi bawah tanah, fragmen besar ini terlepas dan tenggelam ke dalam mantel bumi. 

Akibatnya, saat massa padat ini tenggelam, ia menyeret permukaan bumi di atasnya ke bawah, menciptakan penurunan tanah sementara secara drastis hingga mengubah ketinggian pegunungan.

Hal tersebutlah yang memungkinkan Sungai Green mengalir melewati area yang sebelumnya merupakan puncak yang tidak dapat diakses. Selama masa penurunan tersebut, sungai terus mengikis batuan dengan sangat kuat sehingga membentuk saluran permanen.

Ketika massa padat di bawah tanah benar-benar terlepas dan tenggelam ke mantel, kerak bumi mengalami pemulihan dan kembali ke posisi semula, namun sungai yang sudah terlanjur mengukir jalur yang dalam tetap berada di sana, menciptakan ilusi sungai yang membelah gunung.

Bukti dari Kedalaman Bumi

Para peneliti menggunakan citra seismik untuk memvisualisasikan bagian dalam planet dan mengkonfirmasi hipotesis mereka.

Mereka mendeteksi anomali dingin dan berbentuk lingkaran sedalam 200 kilometer di bawah pegunungan. Massa ini memiliki diameter antara 50 dan 100 kilometer.

Fragmen tersebut terlepas sekitar dua hingga lima juta tahun yang lalu. Hilangnya fragmen tersebut menjelaskan mengapa kerak bumi di daerah tersebut beberapa kilometer lebih tipis dari yang diperkirakan.

Fluktuasi bentang alam yang mencapai lebih dari 400 meter ini akhirnya memungkinkan integrasi Sungai Green dengan sistem Sungai Colorado.

Dampak bagi Ekosistem Benua

Penyatuan kedua sungai tersebut mengubah batas pemisah benua di Amerika Utara. Peristiwa ini mengubah pemisahan antara cekungan yang mengalir ke Samudra Pasifik dan cekungan yang mengalir ke Samudra Atlantik.

Perubahan tersebut menciptakan batas-batas alami baru bagi fauna lokal. Hal ini secara langsung memengaruhi proses evolusi biologis di wilayah tersebut.

Sumber: Noticias Ambientales, Earth.com



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Reynaldi
Berita Lainnya