Headline
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Kumpulan Berita DPR RI
PADA fajar era nuklir, para ilmuwan menciptakan "Jam Kiamat" (Doomsday Clock) sebagai simbol seberapa dekat umat manusia dengan kehancuran dunia. Kini, hampir delapan dekade kemudian, jarum jam tersebut ditetapkan pada angka 85 detik menuju tengah malam. Ini adalah posisi terdekat dengan kehancuran dalam sejarah jam tersebut sejak didirikan tahun 1947.
Tengah malam dalam metafora ini mewakili titik di mana bumi tidak lagi dapat dihuni oleh manusia.
Setelah sempat tertahan di angka 90 detik pada 2023 dan 2024, Bulletin of the Atomic Scientists memutuskan untuk memajukan jarum jam di tahun 2025. Keputusan ini diambil karena kurangnya kemajuan dalam mengatasi tantangan global, mulai dari risiko nuklir, krisis iklim, ancaman biologis, hingga pesatnya teknologi disruptif seperti Kecerdasan Buatan (AI).
"Umat manusia belum menunjukkan kemajuan yang cukup dalam menghadapi risiko eksistensial yang membahayakan kita semua," ujar Alexandra Bell, Presiden dan CEO Bulletin. "Risiko yang kita hadapi dari senjata nuklir, perubahan iklim, dan teknologi disruptif terus tumbuh. Setiap detik sangat berarti dan kita kehabisan waktu."
Dr. Daniel Holz, ketua dewan sains dan keamanan Bulletin, menyoroti negara-negara besar justru menjadi lebih agresif dan nasionalistik alih-alih bekerja sama. Konflik yang melibatkan negara-negara bersenjata nuklir semakin intensif sepanjang tahun 2025.
Kekhawatiran utama lainnya adalah berakhirnya perjanjian terakhir yang mengatur stok senjata nuklir antara AS dan Rusia pada 4 Februari mendatang. "Untuk pertama kalinya dalam lebih dari setengah abad, tidak akan ada lagi yang mencegah perlombaan senjata nuklir yang tidak terkendali," tegas Holz.
Selain itu, pesatnya penggunaan alat AI yang tidak teregulasi dianggap memperburuk penyebaran disinformasi dan teori konspirasi. Hal ini mengganggu upaya kolektif dunia dalam menangani ancaman bencana lainnya.
Didirikan oleh ilmuwan Proyek Manhattan setelah Perang Dunia II, organisasi ini awalnya berfokus pada ancaman nuklir. Sejak 2007, krisis iklim dimasukkan ke dalam perhitungan. Penentuan waktu dilakukan para ahli, termasuk delapan pemenang Nobel, yang berkonsultasi dengan dewan sponsor yang dulu dibentuk Albert Einstein dan J. Robert Oppenheimer.
Meskipun beberapa pakar menyebutnya sebagai "metafora yang tidak sempurna", Jam Kiamat tetap menjadi perangkat retoris yang penting untuk mengingatkan dunia akan rapuhnya eksistensi manusia.
Sejarah mencatat bahwa jarum jam ini bisa mundur. Titik terjauh dari kiamat terjadi pada tahun 1991, yakni 17 menit menuju tengah malam, setelah penandatanganan perjanjian pengurangan senjata strategis antara AS dan Uni Soviet.
Mantan CEO Bulletin, Rachel Bronson, menekankan bahwa karena manusia yang menciptakan ancaman ini, manusia pula yang bisa menguranginya. "Namun hal itu tidak mudah dan membutuhkan kerja keras serta keterlibatan global di semua lapisan masyarakat," katanya.
Langkah kecil seperti diskusi publik untuk memerangi hoaks hingga perubahan gaya hidup ramah lingkungan "Tanpa fakta, Anda tidak bisa memiliki kebenaran. Tanpa kebenaran, Anda tidak bisa memiliki kepercayaan. Tanpa ketiganya, kita tidak memiliki realitas bersama," ujar Maria Ressa, CEO Rappler. (CNN/Z-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved