Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
BULAN tampak tenang dari kejauhan, namun permukaannya adalah lingkungan yang sangat ganas. Dengan fluktuasi suhu ekstrem, ketiadaan udara, dan debu tajam yang melekat pada segala benda, membangun hunian bagi manusia di sana merupakan tantangan logistik yang nyaris mustahil jika semua material harus dikirim dari Bumi.
Menjawab tantangan tersebut, para ilmuwan kini fokus pada solusi cerdas, membangun dengan apa yang sudah tersedia di sana. Sebuah studi terbaru mengungkapkan regolith, bubuk abu-abu yang menutupi permukaan Bulan, dapat dicairkan dan dibentuk menjadi struktur tahan panas yang kuat menggunakan metode cetak 3D berbasis laser.
Konsep ini dikenal sebagai in-situ resource utilization (ISRU), yaitu pemanfaatan sumber daya lokal di lokasi misi. Dalam uji laboratorium, para peneliti menggunakan simulasi debu Bulan yang disebut LHS-1, yang meniru karakteristik tanah dataran tinggi Bulan yang kaya akan batuan basal gelap.
Menggunakan laser berkekuatan tinggi, tim peneliti melelehkan bubuk halus tersebut lapis demi lapis hingga menyatu menjadi objek padat. Keberhasilan ini menjadi kunci bagi program Artemis NASA, yang bertujuan membangun kehadiran permanen manusia di Bulan pada akhir dekade ini. Dengan mencetak alat dan bangunan langsung di lokasi, risiko kegagalan misi akibat keterlambatan pasokan dari Bumi dapat ditekan drastis.
Mencetak dengan debu Bulan tidak semudah menggunakan plastik di Bumi. Tim menemukan permukaan dasar tempat material dicetak sangat memengaruhi hasil akhir.
"Dengan menggabungkan berbagai bahan baku, seperti logam dan keramik dalam proses pencetakan, kami menemukan bahwa material akhir sangat sensitif terhadap lingkungan," ujar Sizhe Xu, penulis utama studi dari Ohio State University.
Ia menambahkan, "Lingkungan yang berbeda menghasilkan sifat yang berbeda, yang secara langsung memengaruhi kekuatan mekanik dan ketahanan kejut termal dari komponen tertentu."
Selain permukaan, faktor seperti kadar oksigen, daya laser, dan kecepatan cetak juga menentukan stabilitas struktur. Sarah Wolff, asisten profesor teknik mesin dan kedirgantaraan, menekankan sulitnya mereplikasi kondisi ruang angkasa di laboratorium.
"Ada kondisi di luar angkasa yang sangat sulit ditiru. Sesuatu mungkin berhasil di laboratorium, tetapi dalam lingkungan yang langka sumber daya, Anda harus mencoba segalanya untuk memaksimalkan fleksibilitas mesin dalam berbagai skenario," jelas Wolff.
Menariknya, teknologi yang dikembangkan untuk Bulan ini memiliki potensi besar untuk diterapkan di Bumi. Efisiensi material yang dipaksakan oleh kondisi ruang angkasa dapat mengajarkan manusia cara membangun sistem yang lebih berkelanjutan dan minim limbah.
"Jika kita berhasil memproduksi benda-benda di luar angkasa dengan sumber daya yang sangat sedikit, itu berarti kita juga bisa mencapai keberlanjutan yang lebih baik di Bumi," pungkas Wolff.
Eksperimen ini membuktikan bahwa Bulan bukan sekadar tujuan, melainkan laboratorium raksasa untuk menciptakan teknologi masa depan yang lebih efisien, baik di atas sana maupun di rumah kita sendiri. (Earth/Z-2)
Anda tidak memerlukan alat bantu seperti teleskop untuk melihat Pink Moon karena ukurannya yang besar dan cahayanya yang sangat terang.
Amerika Serikat berkomitmen membangun pangkalan permanen di kutub selatan Bulan dengan investasi sebesar US$20 miliar (sekitar Rp338 triliun) selama tujuh tahun ke depan.
NASA resmi mengumumkan rencana ambisius untuk melakukan setidaknya satu kali pendaratan di Bulan setiap tahun, yang akan dimulai pada 2027.
Ilmuwan temukan potensi kacang arab sebagai sumber pangan masa depan utama di Bulan. Cek hasil penelitian NASA terkait ketahanan legum di tanah ekstrem luar angkasa.
BADAN Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memaparkan peluang bagi Indonesia untuk terlibat dalam kolaborasi misi observatorium astronomi di bulan.
Tiongkok melirik kawasan Rimae Bode sebagai lokasi pendaratan misi berawak pertamanya ke Bulan. Wilayah ini disebut menyimpan 'emas ilmiah' dari inti Bulan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved