Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
PARA astronot NASA yang tergabung dalam misi Artemis 2 memiliki pandangan unik mengenai warisan mereka. Alih-alih ingin terus dikenang, mereka justru berharap kontribusi mereka nantinya hanya akan menjadi "catatan kaki" di tengah kemajuan pesat penjelajahan luar angkasa masa depan.
Misi Artemis 2 dijadwalkan membawa empat astronot dalam penerbangan selama 10 hari mengelilingi Bulan. Keempat astronot itu Reid Wiseman, Victor Glover, dan Christina Koch dari NASA, serta Jeremy Hansen dari Kanada. Ini merupakan perjalanan manusia pertama ke orbit lunar sejak misi Apollo 17 tahun 1972.
Meskipun momen ini sangat bersejarah, para awak berharap generasi mendatang memiliki alasan untuk tidak terlalu memusingkan kontribusi mereka.
"Saya berharap mereka melupakan semua tentang Artemis 2," ujar Christina Koch kepada Bill Whitaker dalam program CBS 60 Minutes yang disiarkan Minggu (1/2). "Saya pikir itu sedikit ekstrem, tapi kami berbicara tentang warisan kami sebagai pemungkin bagi misi-misi masa depan, mulai dari Artemis 3 hingga Artemis 100, hingga misi ke Mars."
Komentar Koch tersebut diamini oleh komandan misi, Reid Wiseman. Ketika diingatkan bahwa mereka adalah langkah pertama yang krusial, Jeremy Hansen menambahkan, "Ya, tapi lihatlah apa yang akan terjadi selanjutnya. Segalanya akan menjadi sangat luar biasa setelah ini."
NASA menargetkan peluncuran Artemis 2 pada 8 Februari mendatang menggunakan roket Space Launch System (SLS) dari Kennedy Space Center (KSC), Florida.
Namun, keberhasilan target tanggal tersebut sangat bergantung pada penyelesaian serangkaian pemeriksaan prapeluncuran. Salah satunya adalah uji pengisian bahan bakar SLS yang krusial di Pad 39B KSC yang berlangsung hari ini (2/2). Jika peluncuran pada 8 Februari tertunda, NASA telah menyiapkan jendela cadangan pada 10 dan 11 Februari, dengan kemungkinan peluang berikutnya di bulan Maret dan April.
Artemis 2 merupakan misi berawak pertama dari program Artemis NASA yang bertujuan untuk membangun kehadiran manusia secara permanen di Bulan dan sekitarnya tahun 2030. Jika misi ini berhasil, Artemis 3 direncanakan akan mendaratkan astronot di permukaan Bulan pada 2028.
Misi-misi ini dirancang bukan sekadar untuk kembali ke Bulan, melainkan sebagai batu loncatan untuk membangun pangkalan di sana yang nantinya akan memfasilitasi perjalanan manusia menuju Mars. Bagi para awak Artemis 2, keberhasilan mereka bukan diukur dari ketenaran, melainkan dari seberapa jauh manusia bisa melangkah setelah misi mereka selesai. (Space/Z-2)
NASA memulai uji coba teknologi sayap CATNLF menggunakan jet F-15B. Inovasi ini dirancang untuk mengurangi hambatan udara dan menekan biaya bahan bakar pesawat komersial.
NASA ungkap tantangan teknis di balik terbatasnya jadwal peluncuran Artemis 2. Simak mengapa misi berawak pertama ke Bulan dalam 50 tahun ini sangat bergantung pada mekanika orbital dan cuaca.
Melalui Teleskop Luar Angkasa James Webb (JWST), para ilmuwan menemukan bahwa planet raksasa gas ternyata memiliki kapasitas pertumbuhan yang jauh melampaui teori-teori sebelumnya.
Analisis terbaru data Voyager 2 mengungkap mengapa sabuk radiasi Uranus sangat kuat. Ternyata, ada peristiwa cuaca antariksa langka saat misi berlangsung.
Ilmuwan temukan cara melacak jalur jatuh sampah antariksa menggunakan sensor seismik monitor gempa. Metode ini diklaim lebih akurat dibanding radar tradisional.
Peneliti berhasil mengidentifikasi struktur mirip terowongan vulkanik di bawah permukaan Venus melalui data radar NASA. Apakah planet ini masih aktif secara geologi?
Empat astronaut misi Artemis 2 resmi memulai karantina. NASA targetkan peluncuran ke Bulan paling awal Februari 2026.
Tiongkok melakukan uji coba darat roket Long March-10 sebagai persiapan misi berawak ke Bulan sebelum 2030.
Empat astronot kru Artemis 2 NASA menjalani latihan intensif, termasuk simulasi darurat malam hari di Kennedy Space Center.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved