Headline

Kemantapan jalan nasional sudah mencapai 93,5%

Jalur Belum Pulih imbas Banjir 2025, Mudik ke Gayo Lues Habiskan 24 Jam via Sumut

Amiruddin Abdullah Reubee
12/3/2026 14:05
Jalur Belum Pulih imbas Banjir 2025, Mudik ke Gayo Lues Habiskan 24 Jam via Sumut
Jalur Peureulak-Lokop, Aceh Timur- Pining- Blang Kejeren, Gayo Lues, yang hancur rusak parah. Karena badan jalan rusak total tergerus banjir, warga terpaksa memasang jembatan darurat dari papan.(MI/Amiruddin Abdullah Reubee)

PENYINTAS banjir bandang di Kabupaten Gayo Lues, Aceh, masih belum baik-baik saja. Sudah 3 bulan lebih, yaitu sejak 24-27 November 2025 dilanda bencana alam, jalur transportasi ke beberapa lokasi pedalaman  Aceh itu masih terganggu cukup parah. 

Sesuai penelusuran Media Indonesia, Rabu (11/3) di antara kondisi jalan darat yang belum selesai diperbaiki adalah Jalur Lokob, Kecamatan Serba Jadi, Kabupaten Aceh Timur- Blang Kejeren, Kabupaten Gayo Lues. Akibatnya arus lalu lintas yang menghubungkan wilayah Pantai Antara, Timur dan wilayah Tengah Tenggara Aceh masih putus total. 

Ironisnya ratusan mahasiswa, perantau, dan santri pesantren yang menuntut ilmu di Aceh Timur atau Kota Langsa yang hendak mudik Lebaran 1447 H terganggu total. Biasanya mereka pulang ke Gayo Lues dengan minibus angkutan umum melalui jalur Peureulak, Aceh Timur-Blang Kejeren, Gayo Lues. 

Sedangkan sekarang harus memutar haluan lewat Medan-Kutacane, Aceh Tenggara. Dari waktu tempuh sebelumnya 5 jam, sekarang bisa mencapai 24 jam. 

"Biasanya mudik dari Kota Langsa dan Kabuten Aceh Timur naik minibus melalui jalur Lokop-Pining ongkosnya berkisar Rp180.000 hingga Rp250.000. Kali ini harus mengeluarkan Rp800.000 hingga Rp1 juta," kata Kepala Desa Pasir Putih, Kecamatan Pining, Gayo Lues, Kamaruddin, kepada Media Indonesia, Rabu (11/3). 

Dikatakan Kamaruddin, di tengah kondisi ekonomi pascabanjir sekarang, untuk ongkos tranportasi mudik Lebaran sebesar itu sangat sulit. Apalagi para mahasiswa asal Gayo Lues yang kuliah pada berbagai universitas di Langsa, baru sebulan lalu berangkat ke kampus, yaitu setelah libur semester ganjil. 

Ditambah lagi roda perekonomian orang tua mereka di Gayo Lues masih belum pulih. Ribuan hektare (ha) lahan sawah, kebun kopi, kemiri, kakao, pisang dan lainnya rusak tertutup longsor atau tertimbun lumpur. 

"Berharap dari hasil panen raya durian dua bulan lalu, itupun terkendala jalan rusak sehingga tidak bisa diangkut ke Blang Blang Kejeren Ibukota Kabupaten Gayo Lues. Apalagi mengeluarkan ke Aceh Timur dan Langsa yang badan jalannya hingga sekarang masih belum selesai di perbaiki," tutur Kamaruddin. 

Budayawan dari Universitas Syiah Kuala (USK) Aceh M Adli Abdullah mengatakan, ratusan kilometer badan jalan dan belasan jembatan di jalur provinsi Lokop, Aceh Timur-Blang Kejeren, Gayo Lues, masih hancur dan tidak dapat dilintasi. Hal itu tidak saja mengganggu arus mudik Lebaran, tapi ribuan ton hasil bumi atau produksi panen tanaman perkebunan dan pertanian dari Gayo Lues gagal didistribusikan ke kawasan pesisir Timur, Utara Aceh hingga pasar domestik Sumatra Utara. 

"Padahal Jalur Peureulak-Lokop, Aceh Timur-Pining-Blang Kejeren, Gayo Lues adalah urat nadi perekonomian masyarakat pedalaman dua wilayah itu. Kalau jalur itu tidak segera selesai, berakibat buruk terhadap pasokan bahan pangan, sumber ekonomi," ucapnya.

"Hal itu juga akan berimbas pada keberlanjutan pendidikan anak mereka pada berbagai perguruan tinggi di Banda Aceh, Aceh Timur, Medan hingga Pulau Jawa," tutur M Adli Abdullah yang juga Dosen Senior USK. (MR/E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya