Headline
Semua hasil kejahatan yang rugikan negara harus dirampas.
Semua hasil kejahatan yang rugikan negara harus dirampas.
Kumpulan Berita DPR RI
Ramadan tidak hanya menjadi momentum peningkatan ibadah secara individual, tetapi juga memiliki dimensi sosial dalam memperkuat kerukunan dan persatuan. Bulan suci ini dinilai sebagai waktu yang tepat untuk membangun ukhuwah Islamiyah sekaligus mempererat persatuan bangsa atau ukhuwah wathaniyah. Pesan tersebut disampaikan Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Abdul Mu’ti saat memberikan kuliah Tarawih di Masjid Al Falah, Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, Senin (23/2/).
Menurut Mu’ti, Ramadhan merupakan kesempatan bersama untuk menjadi pribadi yang lebih baik melalui berbagai amalan ibadah sesuai tuntunan syariat. Ia menjelaskan bahwa Ramadhan kerap disebut sebagai syahru maghfirah atau bulan ampunan. Hal itu merujuk pada hadis riwayat Imam Bukhari dari Abu Hurairah, di mana Rasulullah bersabda:
"Man shoma romadhona imanan wahtisaban ghufiro lahu maa taqoddama min dzanbih."
"Barang siapa yang menunaikan puasa Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu" (HR. Bukhari no. 2014).
Karena itu, umat Islam dianjurkan memperbanyak istighfar serta doa, salah satunya:
“Allāhumma innaka 'afuwwun tuḥibbul 'afwa fa'fu 'annī.”
Selain sebagai bulan ampunan, Ramadhan juga dikenal sebagai syahru shiyam, yakni bulan diwajibkannya puasa sebagaimana ditegaskan dalam Al-Baqarah ayat 184. Mu’ti menekankan bahwa pelaksanaan puasa menjadi lebih ringan karena dilakukan secara bersama dalam lingkungan sosial yang mendukung.
“Di tempat kerja semua teman berpuasa, kita akan memiliki semangat untuk berpuasa. Begitu pula dalam keluarga semuanya berpuasa, maka semangat kita berpuasa menjadi semakin kuat,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa dalam perspektif sosiologi agama, hal ini disebut sebagai kesalehan sosial, yakni praktik keagamaan yang dipengaruhi oleh lingkungan. Ramadan juga dikenal sebagai syahru Quran, bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagaimana dijelaskan dalam Al-Baqarah ayat 185.
“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia…”
Selain dimensi historis, Mu’ti menekankan pentingnya memperbanyak membaca Al-Qur’an selama Ramadhan, mengikuti teladan Rasulullah yang bertadarus bersama Malaikat Jibril. Ia menegaskan bahwa memperbanyak membaca Al-Qur’an bukan semata dari sisi kuantitas, tetapi lebih pada kualitas penghayatan dengan membaca secara tartil.
“Banyak membaca Al Quran dengan pelan-pelan, dengan penuh penghayatan dan penuh harapan agar mendapatkan hidayat dan mendapatkan kebaikan dalam kehidupan kita,” jelasnya.
Ramadan juga disebut sebagai syahru sadaqah, bulan di mana umat dianjurkan meningkatkan kepedulian sosial melalui sedekah. Lebih jauh, Mu’ti menyebut Ramadhan sebagai syahru ukhuwah, bulan persaudaraan yang memperkuat solidaritas sosial. Salah satu tradisi yang berkembang adalah buka puasa bersama.
Ia mengaitkan tradisi ini dengan hadis Nabi:
“Barang siapa yang memberi makan orang yang berbuka, dia mendapatkan pahala sama dengan mereka yang berbuka tanpa mengurangi pahala.”
Di Indonesia, tradisi buka bersama bahkan diikuti oleh masyarakat lintas agama.
“Bahkan buka bersama itu menjadi momen dimana semua orang bahagia,” ucap Mu’ti.
Ia juga mengingatkan hadis Nabi tentang dua kebahagiaan bagi orang yang berpuasa:
“Lish-shoo'imi farhatani yafra-huma: idzaa afthara fariha bifithrihi, wa idzaa laqiya Rabbahu fariha bishawmihi.”
Bagi orang yang berpuasa akan meraih dua kegembiraan: kegembiraan ketika berbuka puasa, dan kegembiraan ketika bertemu Tuhannya (HR. Bukhari dan Muslim).
Mu’ti menilai Ramadhan menjadi ruang persatuan yang melampaui perbedaan.
“Saya kira kalau berbuka bersama itu tidak ada pertanyaan misalnya kelompok rukyat atau hisab, itu tidak ada perdebatan siapa yang berbuka duluan, semuanya sama,” selorohnya.
Dalam kesempatan tersebut, Abdul Mu’ti juga menyaksikan lomba mewarnai bagi anak-anak serta meresmikan Kantor Layanan Lazis Muhammadiyah di Masjid Al Falah. Usai shalat Tarawih, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah itu turut menandatangani tugas Ramadhan para siswa yang hadir. (E-3)
ROJALI-ROHANA dalam tulisan ini bukanlah nama orang. Bukan pula pasangan suami istri. Rojali-Rohana hanyalah akronim. Rojali: rombongan jarang beli.
Abdul Mu’ti menukil buku Tom Nichols Matinya Kepakaran (The Death Of Expertise) yang menggambarkan ilmuwan itu semakin tersaingi oleh berbagai teknologi.
Pemerintah menerbitkan Surat Edaran Bersama (SEB) tentang Pembelajaran di Bulan Ramadan Tahun 1447 Hijriah/2026 Masehi.
KEMENTERIAN Kesehatan (Kemenkes) memperkuat pelaksanaan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di lingkungan sekolah dengan menekankan pentingnya kesadaran kesehatan sejak dini.
Jika seorang ibu menyusui merasa mampu dan kondisi kesehatan diri serta bayinya tetap terjaga, ia tetap diperbolehkan berpuasa.
Secara medis, perut kembung disebabkan oleh penumpukan gas di saluran pencernaan.
Untuk menyiasati agar THR lebih bermanfaat, Aliyah menyarankan pembagian pos pengeluaran berdasarkan persentase yang ideal.
Di tengah antusiasme menjalankan ibadah puasa, masyarakat diingatkan untuk tetap memperhatikan pola makan, khususnya dalam mengonsumsi asupan manis saat berbuka.
OpenAI meluncurkan serangkaian panduan berupa prompt praktis yang dirancang untuk membantu pengguna mengelola keseharian mereka agar tetap terarah selama bulan Ramadan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved