Headline

Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.

Sesal Kemudian masih Berguna

Abdul Mu'ti
13/3/2026 05:05
Sesal Kemudian masih Berguna
Abdul Mu’ti Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah; Sekretaris Umum PP Muhammadiyah(MI/Seno)

DALAM bahasa Inggris ada ungkapan: It's no use crying over split milk. Tak ada gunanya menangisi susu yang telah tumpah. Dalam pepatah Melayu disebutkan: Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tidak berguna. Dalam bahasa Indonesia ada peribahasa: nasi sudah menjadi bubur. Semua ungkapan pepatah, peribahasa tersebut mengandung makna yang senada bahwa yang sudah terjadi tidak bisa diperbaiki. Karena itu, hendaknya berhati-hati sebelum melangkah. Camkan dengan matang sebelum mengambil keputusan.

Dalam kehidupan sehari-hari, demikianlah adanya. Akan tetapi, dalam masalah agama, tidaklah demikian halnya. Sebagaimana diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Abu Said al-Khudri RA, Rasulullah SAW berkata bahwa pada masa dahulu ada seorang dari Bani Israil yang membunuh 99 orang. Kemudian ia hendak bertobat. Ia bertanya, adakah orang alim yang bisa membantunya.

Sang pembunuh disarankan untuk bertemu seorang alim (rahib). Kepadanya sang pembunuh bertanya, apakah dosanya bisa diampuni. Sang rahib menjawab: tidak bisa. Mendengar jawaban itu, sang pembunuh membunuh sang rahib. Ia pun genap membunuh 100 orang.

Namun, sang pembunuh tetap ingin bertobat. Ia bertanya, adakah orang alim yang bisa membantunya bertobat. Ia disarankan bertemu seorang alim di sebuah negeri. Ia pun menuju ke negeri dimaksud menemui sang alim. Kepada sang alim, sang pembunuh menyampaikan bahwa ia telah membunuh 100 orang dan bertanya apakah bisa bertobat. Sang alim menjawab bahwa ia bisa bertobat. Sang alim menunjukkan nama orang lain dan negeri tempat tinggalnya.

Sang pembunuh pergi ke tempat orang alim yang dimaksud. Akan tetapi, ia mati sebelum sampai tujuan. Datanglah malaikat azab dan malaikat rahmat. Malaikat azab hendak menghukum karena sang pembunuh belum berbuat baik sama sekali. Malaikat rahmat melarang karena ia sudah berniat bertobat.

Untuk menyelesaikan perselisihan, diutuslah malaikat yang berwujud manusia. Sang malaikat menyarankan untuk memutuskan siapa malaikat yang berhak, malaikat rahmat atau malaikat azab, diukur jarak dari tempat berangkat (asal) dengan tempat tujuan. Kedua malaikat setuju. Setelah diukur, ternyata jarak sang pembunuh ke tempat tujuan lebih dekat. Akhirnya diputuskan tobatnya diterima. Sang pembunuh dibawa malaikat rahmat.

Kisah dalam hadis di atas mengandung dua makna. Pertama, bahwa Allah adalah Tuhan Maha Pengampun. Allah berfirman: "Tuhanmu telah menetapkan sifat kasih sayang kepada diri-Nya. Barangsiapa yang berbuat kejahatan di antara kamu karena kebohongan, kemudian ia bertobat setelah itu, dan memperbaiki diri, maka Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang," QS Al-Anam [6]: 54). Sejalan dengan ayat di atas, Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya rahmat-Ku melebihi murka-Ku," (HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).

Kedua, manusia diberikan oleh Allah kesempatan untuk memperbaiki diri, bertobat, sebelum ajal menjemput. Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Tirmidzi dan Ibnu Majah, Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya Allah menerima tobat seorang hamba sebelum nyawanya sampai ghar-ghar."

Kesempatan untuk menjadi baik dan memperbaiki diri selalu ada. Pintu tobat selalu terbuka. Sesal kemudian masih berguna, selagi nyawa masih di dalam raga.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Riky Wismiron
Berita Lainnya
Renungan Ramadan
Cahaya Hati
Tafsir Al-Misbah