Headline

Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa. 

Swasembada Energi semata demi Rakyat

13/2/2026 05:00

SWASEMBADA pangan dan energi, itu dua janji Prabowo Subianto saat membacakan pidato pelantikannya sebagai presiden pada 2024 lalu. Sebuah janji yang teramat berat, tetapi juga bukan hal yang mustahil untuk direalisasikan.

Untuk pangan, kita patut mengapresiasi kerja keras pemerintah yang sepanjang 2025 tidak mengimpor satu butir pun beras. Sebuah capaian yang luar biasa mengingat Indonesia terakhir mencapai status swasembada beras pada 2008 dan 1984.

Target Presiden, tiga tahun dari sekarang, Indonesia akan mencapai status swasembada untuk semua komoditas pangan, bukan cuma beras. Sebuah target yang juga sangat berat. Namun, keberhasilan swasembada beras pada 2025 menjadi bukti target tersebut bisa diupayakan dicapai. Lagi-lagi, itu bukan hal yang mustahil.

Untuk energi, swasembada juga bukan sesuatu yang tidak mungkin untuk dicapai. Modalnya sama seperti pencapaian swasembada beras, yakni kemauan dan kerja keras mengingat beratnya upaya yang harus dilakoni. Disebut berat karena mulai 2004 Indonesia sudah jadi importir bersih minyak bumi, utamanya minyak mentah.

Selama lebih dari dua dekade bangsa ini konsisten berharap pada pasokan dari negara-negara produsen minyak. Indonesia juga tak dapat berbuat banyak ketika harga dan kuota minyak yang diimpor ditentukan sepenuhnya oleh negara eksportir. Ya, meski juga berstatus produsen, Indonesia masih 'tersandera' oleh impor minyak yang dalam berbagai kesempatan Presiden kerap menyebut ada mafianya di situ.

Dalam catatan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Indonesia kini hanya mampu memproduksi minyak bumi sekitar 600.000 barel per hari. Sementara itu, 1 juta barel per hari atau dua pertiga dari kebutuhan nasional dipenuhi lewat impor.

Kabar baiknya, untuk gas bumi, pada 2025 produksinya masih lebih besar daripada konsumsi nasional. Alhasil, sepanjang tahun lalu negara ini tak mengimpor gas sama sekali. Kita juga perlu mengapresiasi keberhasilan pemerintah menekan impor solar. Pemerintah bahkan secara bertahap akan menghentikan impor solar mulai tahun ini.

Banyak importir yang bakal sakit gigi, begitu celetukan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Maklum saja, dari kebutuhan solar nasional 38 juta–39 juta kiloliter tiap tahunnya, Indonesia masih mengimpor 15 juta–16 juta kiloliter per tahun. Hampir separuhnya.

Sebaliknya, berkurangnya impor solar itu membuat 'sakit gigi' pemerintah mereda. Pemerintah akan memasifkan proyek-proyek bioenergi dengan kelapa sawit sebagai bahan bakunya. Limbah sawit akan diolah menjadi energi terbarukan. Perluasan lahan sawit pun akan dikebut mulai tahun ini.

Luar biasa jika membaca peta jalan yang telah dibuat pemerintah dalam program hilirisasi kelapa sawit. Program biodiesel B40 (campuran 40% minyak sawit dan 60% solar) saat ini akan ditingkatkan menjadi B50. Begitu juga dengan hilirisasi di sektor tambang dan mineral yang begitu diprioritaskan pemerintah saat ini untuk memberi nilai tambah yang signifikan terhadap hasil sumber daya alam Nusantara.

Namun, pemerintah tak boleh lupa, segala proyek besar atas nama kemandirian energi dan hilirisasi itu tentu harus tetap menempatkan kesejahteraan rakyat sebagai pegangan utamanya. Kemanfaatan terhadap masyarakat harus menjadi tujuan akhir dan utama, bukan tujuan sampiran.

Kalau kita menengok contoh di sektor biofuel, menurut laporan Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi), pada 2025 program B40 mampu melibatkan 1,9 juta tenaga kerja dari hulu hingga hilir. Dari sini jelas terlihat, proyek transisi mampu membawa efek berganda bukan hanya bagi perekonomian daerah, melainkan juga langsung ke masyarakat.

Efek berganda itu yang menjadikan swasembada energi menjadi motor baru pertumbuhan ekonomi. Ketika industri energi tumbuh, lapangan kerja tercipta, usaha lokal berkembang, pendapatan masyarakat naik, kesejahteraan pun bisa didapat.

Kemajuan di sektor energi kiranya tak sulit untuk dicapai selama negara memiliki kemauan yang kuat, strategi yang terukur, dan keberanian melawan mafia.



Berita Lainnya
  • Makin Puas, makin Tancap Gas

    12/2/2026 05:00

    INGGINYA tingkat kepuasan masyarakat merupakan hal yang diidam-idamkan pemimpin.

  • Mewujudkan Kedaulatan Emas

    11/2/2026 05:00

    LONJAKAN harga emas dunia seharusnya menjadi kabar baik bagi Indonesia.

  • Kembalikan Hak Sehat Rakyat

    10/2/2026 05:00

    SEBELAS juta jiwa tentu bukan angka yang kecil.

  • Gaji Naik, Moral Menukik

    09/2/2026 05:00

    WAJAH peradilan negeri ini sungguh menyedihkan. Kasus rasuah lagi-lagi memberikan tamparan keras.

  • Timnas Futsal di Titik Awal Menuju Puncak

    07/2/2026 05:00

    KEBERHASILAN tim nasional futsal Indonesia menembus final Piala Asia Futsal 2026 menandai sebuah babak penting dalam sejarah olahraga nasional.

  • Ekonomi Mulai di Zona Terang

    06/2/2026 05:00

    KABAR cerah datang dari Badan Pusat Statistik (BPS), kemarin.

  • Alarm Pengelolaan Sampah

    05/2/2026 05:00

    BALI, kata Presiden Prabowo Subianto, merupakan etalase Indonesia di mata dunia. Etalase itu mestinya bersih, indah, dan sedap dipandang.

  • Jaga Regenerasi Bulu Tangkis Kita

    04/2/2026 05:00

    SEJAK Olimpiade dihidupkan lagi pada 1859, dunia sudah melihat bahwa menang di pertandingan olahraga antarnegara punya arti amat besar.

  • Meneruskan Ambang Batas Parlemen

    03/2/2026 05:00

    KUALITAS demokrasi suatu bangsa selalu berbanding lurus dengan kesehatan partai politik.

  • Tindak Aksi Kemplang Pajak

    02/2/2026 05:00

    DI saat gonjang-ganjing yang terjadi di pasar modal Indonesia belum tertangani secara tuntas, kita kembali disuguhi berita buruk lain di sektor ekonomi.

  • Benahi Bursa Efek Indonesia

    31/1/2026 05:00

    KEPUTUSAN mengundurkan diri Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman, Jumat (30/1), pantas diapresiasi.

  • Jangan Ulangi Kasus Hogi

    30/1/2026 05:00

    DALAM beberapa hari terakhir, ruang publik kembali diharubirukan oleh dua kasus yang melibatkan aparat penegak hukum.

  • Memangkas BBM Subsidi Berbasis Keadilan

    29/1/2026 05:00

    PEMERINTAHAN di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wapres Gibran Rakabuming Raka mulai menyentuh bola panas, yakni mengutak-atik bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.

  • Menunggu Bukti Aksi Purbaya

    28/1/2026 05:00

    BEA cukai dan pajak merupakan tulang punggung penerimaan negara. Dari sanalah roda pemerintahan dan negara mendapatkan bahan bakar untuk bergerak.

  • Gaji Kecil bukan Pembenar Aksi Korup

    27/1/2026 05:00

    Jika dihitung secara sederhana, gaji bupati Rp5,7 juta per bulan selama lima tahun masa jabatan hanya menghasilkan sekitar Rp342 juta.

  • Lalai Mencegah Bencana

    26/1/2026 05:00

    NEGERI ini agaknya sudah berada pada kondisi normalisasi bencana. Banjir setinggi perut orang dewasa? Normal. Tanah longsor menimbun satu kampung? Normal.