Headline

DPR minta agar dana tanggap darurat bencana tidak dihambat birokrasi berbelit.

Ramadan Mempersatukan

19/2/2026 05:00

SEPERTI pada 2022 dan 2024, juga pada banyak tahun sebelumnya, perbedaan jatuhnya 1 Ramadan kembali terjadi di Indonesia dan sejumlah negara lain. Sebagian umat Islam telah memulai puasa sejak kemarin, sebagian lagi hari ini. Perbedaan itu hadir nyaris rutin, seiring ragam metode penetapan awal bulan Kamariah yang dianut ormas dan otoritas keagamaan.

Namun, seperti pula tahun-tahun sebelumnya, perbedaan tersebut tidak menjelma menjadi persoalan sosial. Di negeri yang keberagamannya mendarah daging ini, kedewasaan dalam menyikapi khilafiah telah teruji. Ukhuwah Islamiah tidak runtuh hanya karena perbedaan satu hari. Bangsa ini, boleh dikata, telah lama selesai dengan soal perbedaan awal Ramadan.

Yang belum selesai justru substansinya.

Dari Ramadan ke Ramadan, ibadah di bulan suci ini kerap tergelincir menjadi seremoni simbolis. Puasa berubah menjadi ajang pamer kemewahan berbuka, festival diskon konsumtif, hingga parade citra kesalehan di ruang publik. Pada saat yang sama, keserakahan tetap berjalan, dari kerakusan meja makan hingga praktik korupsi yang menggerogoti hak rakyat.

Puasa pun terancam menjadi gimik spiritual. Jangankan melahirkan perbaikan diri, memahami puasa sebagai jalan empati dan solidaritas terhadap kaum papa saja sering kali kita gagal. Padahal, inti puasa ialah menahan diri, tidak hanya dari lapar dan dahaga, tetapi juga dari ketamakan dan ketidakpedulian.

Ramadan 1447 Hijriah ini harus menjadi titik balik.

Kondisi di berbagai daerah mendesakkan solidaritas yang nyata, bukan retorika. Di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, sekitar 13 ribu korban banjir menjalani puasa di pengungsian. Di Cisarua, Bandung Barat, sekitar 60 kepala keluarga masih menunggu relokasi setelah tanah longsor merenggut rumah mereka, Januari lalu. Di Tegal, ratusan keluarga kehilangan tempat tinggal akibat tanah bergerak. Belum lagi kelompok masyarakat marginal di berbagai kota dan desa yang saban hari berjuang memenuhi kebutuhan dasar.

Bagi mereka, Ramadan bukan hanya soal sahur dan berbuka. Ramadan adalah ujian bertahan hidup. Karena itu, semangat gotong royong nasional yang menguat pada masa awal tanggap darurat harus kembali dihidupkan sesuai kebutuhan lapangan saat ini. Solidaritas sosial tidak boleh berhenti setelah sorot kamera meredup. Bantuan logistik, percepatan pembangunan hunian sementara dan tetap, hingga pemulihan ekonomi warga terdampak harus menjadi prioritas bersama.

DPR dalam Rapat Satgas Pemulihan Pascabencana telah mengingatkan agar Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Alam Sumatra memastikan kebutuhan masyarakat terdampak terpenuhi, baik selama di pengungsian maupun dalam proses menuju hunian tetap.

Untuk beberapa daerah, pemenuhan kebutuhan itu didesak rampung sebelum Idul Fitri 2026. Target tersebut bukan sekadar angka tenggat, melainkan komitmen moral negara. Pemerintah pusat dan daerah wajib membuktikan bahwa negara hadir secara nyata, bukan administratif belaka.

Ramadan sejatinya mempersatukan bukan lantaran kita memulai puasa di hari yang sama, melainkan karena kita merasakan lapar yang sama, dan dari sana tumbuh empati yang sama. Persatuan itu menemukan maknanya ketika yang kuat menopang yang lemah, ketika yang berpunya berbagi tanpa pamrih, dan ketika negara bekerja cepat untuk warganya yang paling rentan.

Di saat yang sama, Ramadan kali ini juga mengetuk nurani global. Di Gaza, Sudan, dan Yaman, umat Islam menjalani bulan suci dalam bayang-bayang konflik dan krisis kemanusiaan. Mereka membutuhkan lebih dari sekadar ucapan simpati. Mereka membutuhkan solidaritas dunia dan perjuangan nyata menuju perdamaian.

Karena itu, Ramadan 1447 H harus menjadi momentum memperluas makna persaudaraan, dari lingkup keluarga dan bangsa hingga kemanusiaan universal. Kita berpuasa bukan untuk merayakan perbedaan, melainkan demi menyatukan kepedulian.

Jika lapar yang kita rasakan tidak melahirkan kepekaan sosial, jika ibadah tidak menumbuhkan keberpihakan kepada yang lemah, maka Ramadan tinggal ritual tahunan tanpa roh.

Sudah saatnya Ramadan benar-benar mempersatukan, tidak hanya dalam penanggalan, tetapi juga dalam tindakan.



Berita Lainnya