Headline

Kemantapan jalan nasional sudah mencapai 93,5%

Ramadan Mempersatukan

19/2/2026 05:00

SEPERTI pada 2022 dan 2024, juga pada banyak tahun sebelumnya, perbedaan jatuhnya 1 Ramadan kembali terjadi di Indonesia dan sejumlah negara lain. Sebagian umat Islam telah memulai puasa sejak kemarin, sebagian lagi hari ini. Perbedaan itu hadir nyaris rutin, seiring ragam metode penetapan awal bulan Kamariah yang dianut ormas dan otoritas keagamaan.

Namun, seperti pula tahun-tahun sebelumnya, perbedaan tersebut tidak menjelma menjadi persoalan sosial. Di negeri yang keberagamannya mendarah daging ini, kedewasaan dalam menyikapi khilafiah telah teruji. Ukhuwah Islamiah tidak runtuh hanya karena perbedaan satu hari. Bangsa ini, boleh dikata, telah lama selesai dengan soal perbedaan awal Ramadan.

Yang belum selesai justru substansinya.

Dari Ramadan ke Ramadan, ibadah di bulan suci ini kerap tergelincir menjadi seremoni simbolis. Puasa berubah menjadi ajang pamer kemewahan berbuka, festival diskon konsumtif, hingga parade citra kesalehan di ruang publik. Pada saat yang sama, keserakahan tetap berjalan, dari kerakusan meja makan hingga praktik korupsi yang menggerogoti hak rakyat.

Puasa pun terancam menjadi gimik spiritual. Jangankan melahirkan perbaikan diri, memahami puasa sebagai jalan empati dan solidaritas terhadap kaum papa saja sering kali kita gagal. Padahal, inti puasa ialah menahan diri, tidak hanya dari lapar dan dahaga, tetapi juga dari ketamakan dan ketidakpedulian.

Ramadan 1447 Hijriah ini harus menjadi titik balik.

Kondisi di berbagai daerah mendesakkan solidaritas yang nyata, bukan retorika. Di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, sekitar 13 ribu korban banjir menjalani puasa di pengungsian. Di Cisarua, Bandung Barat, sekitar 60 kepala keluarga masih menunggu relokasi setelah tanah longsor merenggut rumah mereka, Januari lalu. Di Tegal, ratusan keluarga kehilangan tempat tinggal akibat tanah bergerak. Belum lagi kelompok masyarakat marginal di berbagai kota dan desa yang saban hari berjuang memenuhi kebutuhan dasar.

Bagi mereka, Ramadan bukan hanya soal sahur dan berbuka. Ramadan adalah ujian bertahan hidup. Karena itu, semangat gotong royong nasional yang menguat pada masa awal tanggap darurat harus kembali dihidupkan sesuai kebutuhan lapangan saat ini. Solidaritas sosial tidak boleh berhenti setelah sorot kamera meredup. Bantuan logistik, percepatan pembangunan hunian sementara dan tetap, hingga pemulihan ekonomi warga terdampak harus menjadi prioritas bersama.

DPR dalam Rapat Satgas Pemulihan Pascabencana telah mengingatkan agar Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Alam Sumatra memastikan kebutuhan masyarakat terdampak terpenuhi, baik selama di pengungsian maupun dalam proses menuju hunian tetap.

Untuk beberapa daerah, pemenuhan kebutuhan itu didesak rampung sebelum Idul Fitri 2026. Target tersebut bukan sekadar angka tenggat, melainkan komitmen moral negara. Pemerintah pusat dan daerah wajib membuktikan bahwa negara hadir secara nyata, bukan administratif belaka.

Ramadan sejatinya mempersatukan bukan lantaran kita memulai puasa di hari yang sama, melainkan karena kita merasakan lapar yang sama, dan dari sana tumbuh empati yang sama. Persatuan itu menemukan maknanya ketika yang kuat menopang yang lemah, ketika yang berpunya berbagi tanpa pamrih, dan ketika negara bekerja cepat untuk warganya yang paling rentan.

Di saat yang sama, Ramadan kali ini juga mengetuk nurani global. Di Gaza, Sudan, dan Yaman, umat Islam menjalani bulan suci dalam bayang-bayang konflik dan krisis kemanusiaan. Mereka membutuhkan lebih dari sekadar ucapan simpati. Mereka membutuhkan solidaritas dunia dan perjuangan nyata menuju perdamaian.

Karena itu, Ramadan 1447 H harus menjadi momentum memperluas makna persaudaraan, dari lingkup keluarga dan bangsa hingga kemanusiaan universal. Kita berpuasa bukan untuk merayakan perbedaan, melainkan demi menyatukan kepedulian.

Jika lapar yang kita rasakan tidak melahirkan kepekaan sosial, jika ibadah tidak menumbuhkan keberpihakan kepada yang lemah, maka Ramadan tinggal ritual tahunan tanpa roh.

Sudah saatnya Ramadan benar-benar mempersatukan, tidak hanya dalam penanggalan, tetapi juga dalam tindakan.

 



Berita Lainnya
  • Napas Panjang Antisipasi Perang

    11/3/2026 05:00

    Stok BBM untuk 21 hari yang selama ini disebut sebagai standar buffer operasional semestinya tidak dipandang sebagai zona aman.

  • Menajamkan Sistem Pengawasan

    10/3/2026 05:00

    LAILA Fathiah, dengan nama panggung Fadia Arafiq, menjadi kepala daerah kedelapan hasil pilkada serentak pada 2024 lalu yang ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

  • Menjaga Tunas Bangsa

    09/3/2026 05:00

    NEGARA akhirnya menunjukkan taringnya di jagat digital yang kian sulit dikendalikan.

  • Cegah Panik Amankan Mudik

    07/3/2026 05:00

    TEPAT sepekan lalu, negara superpower Amerika Serikat (AS) bersama sekondannya, Israel, membombardir Iran.

  • Sanksi Korupsi yang Menjerakan

    06/3/2026 05:00

    PENANGKAPAN Bupati Pekalongan Fadia Arafiq oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menegaskan satu hal, bahwa praktik korupsi di daerah bukanlah peristiwa tunggal

  • Rapatkan Barisan Hadapi Guncangan

    05/3/2026 05:00

    DUNIA kembali berdiri di tepi pusaran krisis. Ketidakpastian global menjelma menjadi badai yang sulit diprediksi arahnya.

  • Menyiasati Krisis Energi

    04/3/2026 05:00

    PERANG di Timur Tengah telah berlangsung selama lebih dari tiga hari. Dampaknya mulai dirasakan oleh berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia.

  • Mobil Mewah bukan Penentu Muruah

    03/3/2026 05:00

    SETELAH menjadi polemik, Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud akhirnya mengembalikan mobil dinas mewah seharga Rp8,5 miliar ke kas daerah.

  • Saatnya Semua Menahan Diri

    02/3/2026 05:00

    SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

  • Menambal Defisit tanpa Bebani Rakyat

    28/2/2026 05:00

    PROGRAM Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ia adalah oase bagi jutaan rakyat untuk mengakses layanan kesehatan.

  • Menata Ulang Efektivitas Demokrasi

    27/2/2026 05:00

    PEMBAHASAN revisi Undang-Undang Pemilu kembali menghadirkan satu isu strategis, yakni ambang batas parlemen.

  • Krisis Ruang Digital Anak

    26/2/2026 05:00

    RUANG digital yang semula digadang-gadang sebagai wahana belajar dan berkreasi bagi generasi muda kini berubah menjadi medan yang semakin berbahaya bagi anak-anak.

  • Ungkap Otak Sindikat Narkoba

    25/2/2026 05:00

    FANDI Ramadhan adalah potret dari petaka yang disebabkan oleh narkoba.

  • Menagih Imbal Hasil Investasi Pendidikan

    24/2/2026 05:00

    Para awardee ini dibiayai miliaran rupiah untuk mendapatkan kemewahan bersekolah ke luar negeri agar mereka pulang sebagai agen perubahan yang ikut membereskan ketidakidealan tersebut.

  • Sigap Membaca Perubahan Amerika

    23/2/2026 05:00

    DUNIA sedang menyaksikan titik balik luar biasa dalam lanskap perdagangan internasional.

  • Hasil Gemilang Negosiasi Dagang

    21/2/2026 05:00

    Pemerintah perlu memastikan harmonisasi regulasi, mempercepat layanan perizinan, serta memperkuat lembaga pengawas mutu agar tidak terjadi kasus penolakan produk di pelabuhan tujuan.