Headline
DPR minta agar dana tanggap darurat bencana tidak dihambat birokrasi berbelit.
DPR minta agar dana tanggap darurat bencana tidak dihambat birokrasi berbelit.
Kumpulan Berita DPR RI
DALAM dunia yang kian terhubung dan kompleks, keberagaman bukan lagi sekadar realitas sosial, melainkan juga sebuah keniscayaan historis dan antropologis. Masyarakat Indonesia, dengan ratusan etnik, bahasa, dan tradisi lokal, menghadirkan suatu miniatur peradaban dunia yang kaya. Meminjam ungkapan Ahmad Syafii Maarif, Indonesia ini seperti taman dengan tumbuhan dan bunga yang beraneka ragam. Atau seperti orkestra dengan ragam suara alat musik yang berpadu dalam keindahan nada dan melodi yang indah.
Namun, keragaman itu acap kali diiringi dengan ketegangan, stereotip, bahkan konflik, yang bermula dari kegagalan memahami dan merangkul perbedaan. Di situlah pendidikan kebinekaan dan kebudayaan menemukan relevansinya yang mendalam, bukan sekadar sebagai program kurikuler, melainkan sebagai jalan kultural dan filosofis membangun manusia Indonesia yang utuh: cerdas, bijak, dan beradab.
Pendidikan pada hakikatnya bukan sekadar transmisi pengetahuan, melainkan juga transformasi manusia. Sebagaimana dikemukakan Paulo Freire dalam Pedagogy of the Oppressed (1970), pendidikan harus membebaskan, yakni menjadikan manusia sadar akan realitas sosialnya dan mampu bertindak secara reflektif.
Dalam konteks kebinekaan, pendidikan tidak boleh hanya menjadi alat reproduksi nilai dominan yang menyingkirkan suara minoritas, tetapi menjadi alat emansipasi, dengan setiap anak, apa pun latar belakang budaya mereka, diberi ruang untuk menjadi subjek aktif dalam mencipta makna dan nilai bersama. Semua diberi ruang peran yang proporsional sesuai dengan minat dan bakat masing-masing, tidak dibedakan-bedakan berdasarkan agama, etnik, atau yang semacamnya.
SENTUHAN KEBUDAYAAN
Memaknai pendidikan sebagai proyek kebudayaan berarti melihat pendidikan sebagai upaya untuk mengembangkan dan melestarikan nilai-nilai, norma, dan tradisi suatu masyarakat atau bangsa. Pendidikan bukan hanya tentang proses belajar-mengajar di sekolah, melainkan juga tentang bagaimana kita membentuk karakter, identitas, dan budaya suatu masyarakat.
Dalam konteks itu, pendidikan menjadi sarana untuk, pertama, melestarikan warisan budaya. Pendidikan membantu mewariskan nilai-nilai, tradisi, dan sejarah suatu masyarakat kepada generasi berikutnya.
Kedua, untuk mengembangkan identitas. Pendidikan membantu membentuk identitas individu dan masyarakat sehingga mereka dapat memahami diri sendiri dan peranan mereka dalam masyarakat.
Dalam konteks itu, pendidikan membantu individu untuk mengenal diri sendiri. Membantu individu memahami kekuatan, kelemahan, minat, dan nilai-nilai yang menjadi bagian dari identitas mereka. Membantu individu mengembangkan nilai-nilai yang positif, seperti kejujuran, tanggung jawab, dan empati. Membantu individu membentuk karakter yang kuat, yang menjadi dasar identitas mereka, dan membantu individu memahami peranannya dalam masyarakat sehingga mereka dapat berkontribusi dan merasa memiliki tempat dalam masyarakat.
Ketiga, untuk membangun karakter. Pendidikan membantu membentuk karakter individu, seperti nilai-nilai moral, etika, dan tanggung jawab sosial. Dalam konteks itu, karakter orangtua, guru, dan para pendidik baik formal maupun informal akan menjadi cermin keteladanan bagi para siswa baik di lingkungan sekolah maupun di tengah-tengah masyarakat secara umum.
Keempat, untuk menciptakan perubahan sosial. Pendidikan dapat menjadi agen perubahan sosial, membantu masyarakat untuk berkembang dan beradaptasi dengan perubahan zaman. Dalam konteks itu kita bisa memahami mengapa kurikulum pendidikan sering kali berubah. Perubahan bukan disebabkan menterinya yang berubah, melainkan karena adanya tuntutan zaman yang terus berubah.
Dengan demikian, pendidikan sebagai proyek kebudayaan menekankan pentingnya memahami dan menghargai keberagaman budaya, serta mengembangkan kemampuan untuk berinteraksi dan berkolaborasi dengan masyarakat yang berbeda-beda.
DARI TEKS MENUJU KONTEKS
Reorientasi pendidikan kebinekaan dan kebudayaan membutuhkan perubahan paradigma dalam kurikulum. Tidak lagi berbasis hafalan teks, tetapi pengalaman kontekstual. Guru tidak cukup menjadi penyampai pengetahuan, tetapi juga harus menjadi pamong budaya, penuntun nilai dan pemantik diskusi lintas perbedaan.
Pendidikan dari teks menuju konteks berarti pergeseran fokus pendidikan dari hanya memahami teks atau materi pelajaran menjadi memahami konteks tempat teks tersebut digunakan dan diterapkan.
Dalam konteks itu, pendidikan berfokus pada, pertama, menghubungkan teks dengan kehidupan nyata. Siswa diajak untuk memahami bagaimana teks atau materi pelajaran dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kedua, mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Siswa tidak dicekoki dengan hafalan-hafalan tentang definisi suatu konsep atau angka-angka seperti tahun kelahiran, kematian, atau yang sejenisnya, tetapi diajak untuk menganalisis dan mengevaluasi teks dalam konteks yang berbeda-beda.
Ketiga, mengembangkan kemampuan pemecahan masalah. Siswa diajak untuk menggunakan teks atau materi pelajaran untuk memecahkan masalah yang ada dalam konteks nyata, bukan dengan cara dibebani sejumlah pekerjaan rumah yang jawabannya sudah ada dalam buku-buku teks atau yang bisa di-copy paste dari internet.
Dengan demikian, pendidikan dari teks menuju konteks menekankan pentingnya bagaimana pengetahuan dapat digunakan untuk memahami dan mengatasi masalah dalam kehidupan nyata, bukan sekadar menghafal teks atau materi pelajaran.
Kasus Pandji Pragiwaksono membuka diskusi publik tentang adat dan budaya Toraja. Mengenal nilai, tradisi, dan makna sakral budaya Toraja di tengah polemik.
Proses pemberian Apresiasi Desa Budaya 2025 dilakukan secara komprehensif melalui tahapan temu-kenali, pendalaman, dan aktivasi.
Lakon kali ini dipilih untuk mengingatkan kita bahwa nilai kepahlawanan berkaitan erat dengan sikap mencintai bangsa dan negara, menempatkan kepentingan publik di atas kepentingan pribadi
WAKIL Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mengatakan, dibutuhkan kolaborasi yang kuat antara para pemangku kepentingan untuk mengakselerasi upaya penguatan sektor kebudayaan nasional.
SEBANYAK 13 negara kawasan Pasifik menghadiri Indonesia Pacific Cultural Synergy (IPACS) 2025 yang digelar di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), mulai 11-13 November 2025.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved