Headline

Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.

Fokus Kelola Sampah dari Sumbernya, Pemkot Bandung Rekrut 1.596 Petugas Gaslah

Naviandri
26/1/2026 20:32
Fokus Kelola Sampah dari Sumbernya, Pemkot Bandung Rekrut 1.596 Petugas Gaslah
Pemkot Bandung meluncurkan program Petugas Pemilah dan Pengolah Sampah (Gaslah)(MI/NAVIANDRI)

PEMERINTAH Kota Bandung  meluncurkan program Petugas Pemilah dan Pengolah Sampah (Gaslah) yang dipusatkan di Alun-Alun Kecamatan Ujungberung, Senin (26/1).

Melalui program ini, Pemkot Bandung merekrut sebanyak 1.596 petugas Gaslah yang akan ditempatkan dengan skema satu orang satu RW.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyatakan, peluncuran Gaslah dipercepat karena kondisi darurat pengelolaan sampah. Apalagi setelah insinerator dilarang, pemkot merespon dengan meluncurkan Gaslah yang fokus memilih  sampah dari sumbernya, yakni rumah tangga dan tingkat RW.

Para petugas memiliki tugas utama memastikan sampah rumah tangga telah terpilah antara organik dan non-organik sejak dari sumbernya.

“Setiap pagi petugas Gaslah akan mengetuk pintu rumah warga untuk memastikan sampah sudah terpilah. Sampah organik akan dibawa dan diolah di titik-titik pengolahan yang telah ditentukan di tingkat kelurahan,” ungkapnya.

Menurut Farhan dari 1.600-an yang mendaftar, 400 sudah gugur. Jadi yang telah direkrut menjadi petugas Gaslah sekitar 900 petugas, dan masih dalam proses ada sekitar 300 petugas lagi.

Dia menambahkan, peran kelurahan menjadi sangat krusial dalam program ini. Setiap kelurahan ditargetkan mampu mengolah minimal 25 kilogram sampah organik per hari.

Dengan rata-rata satu kelurahan memiliki sekitar 10 RW, maka kapasitas pengolahan ditargetkan mencapai 250 kilogram per hari.

“Saya titip tugas berat kepada para lurah untuk memastikan di setiap kelurahan tersedia tempat pengolahan sampah organik,” ujarnya.

Sementara sampah non-organik yang telah dipilah, lanjut dia, akan diangkut oleh petugas pengangkut sampah. Pengelolaan Tempat Penampungan Sementara (TPS) di tingkat kecamatan juga menjadi perhatian serius agar proses pengangkutan oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) berjalan lebih tertib dan teratur.


TPA Sarimukti kritis


Farhan mengungkapkan, kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti saat ini berada dalam status sangat kritis. Peringatan tersebut disampaikan langsung oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

“Karena itu, upaya Gaslah ini bukan hanya soal mengangkut sampah, tetapi juga mengedukasi masyarakat agar persoalan sampah selesai di level RW,” tuturnya.

Dari sisi pembiayaan setiap petugas Gaslah mendapatkan honor sebesar Rp1.250.000 per orang per bulan. Total anggaran yang dialokasikan Pemkot Bandung untuk program ini mencapai sekitar Rp27 miliar per tahun.

Nantinya sampah organik yang diolah akan dimanfaatkan menjadi berbagai produk, seperti kompos dan maggot. Hasil pengolahan tersebut nantinya dapat dimanfaatkan untuk mendukung program kewilayahan, termasuk ketahanan pangan di tingkat kelurahan.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Sugeng
Berita Lainnya

Bisnis

Wisata
Kuliner