Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Dari Bandung, Gerakan ILS Disambut Aktivis Sosial Papua

Sugeng Sumariyadi
25/11/2025 08:16
Dari Bandung, Gerakan ILS Disambut Aktivis Sosial Papua
Yerry A Nawipa, penggerak ILS di Papua, melakukan upaya budi daya perikanan untuk menggerakkan budaya cinta pangan lokal.(ISTIMEWA)

INDONESIA Locavore Society (ILS) merupakan gerakan budaya cinta pangan lokal, yang didirikan di Bandung awal November lalu. Gerakan ini bergema dan telah mendapat respon masyarakat Indonesia hingga ke Provinsi Papua.

Seorang di antara mereka ialah Yerry A Nawipa, Penggerak ILS di Papua. Dia mengaku merespon dan percaya ILS karena gerakan ini tak semata urusan perut, tapi juga mencakup urusan kesehatan, energi, dan regenerasi kepemimpinan.

“Saya ingin menjadikan Provinsi Papua Tengah sebagai pionir gerakan locavore. Desa-desa menjadi pusat pangan dan kebun obat, generasi muda tumbuh sehat dari tanahnya sendiri, dan koperasi menjadi motor ekonomi yang terintegrasi teknologi digital,” katanya, Selasa (25/11).

Sebagaimana diketahui, ILS didirikan di Kota Bandung dengan inisiator merangkap Pembina yakni Syarif Bastaman. Dia didampingi pembina lainnya seperti Erry Riyana Hardjapamekas (Wakil Ketua KPK 2003-2007).

Selain itu, bertindak sebagai pengawas ialah Ayi Vivananda (Wakil Walikota Bandung 2008-2013 serta Ketua Umum Eep S Maqdir (aktivis sosial di HKTI, MMS, Muslim Bikers United).

ILS didirikan, antara lain, berangkat dari keprihatinan kian meningkatnya impor pangan Indonesia terutama pada periode 2014-2024.  


Kedaulatan pangan dan inovasi lokal


Yerry melanjutkan, pengalaman pribadinya membuktikan bahwa kedaulatan pangan dan inovasi lokal bisa berjalan bersama. Dari kampung ke forum nasional, semangat Locavore adalah spirit bahwa tanah kita bukan hanya memberi makan, tetapi juga memberi daya hidup.

“Jadi, bagi saya, ILS adalah cara agar suara kampung dan gerakan Locavore dari Papua bisa ikut mewarnai percakapan nasional. Di Papua, saya melihat langsung bagaimana petani, nelayan, dan komunitas bisa melahirkan inovasi mulai dari fermentasi pakan lokal, kebun obat kampung, kebun pakan lokal, sampai ekosistem digital komunitas,” sambung Wakil Ketua Kadin Kabupaten Mimika ini.

Karenanya, gerakan Locavore akan makin menjembatani fakta kesenjangan pengetahuan di masyarakat Indonesia. Agar yang disebut “pintar” tidak hanya terbatas di ruang akademik, tapi juga diakui dari kearifan lokal dan praktik lapangan.

Menurut dia, ILS juga penting sebagai salah satu opsi menghadapi tantangan kekinian di Papua Tengah yakni minat driver komunitas yang terbatas, cashflow yang harus dijaga, hingga adopsi teknologi energi bersih yang masih mahal. Dari tantangan itu lahirlah inovasi modular, cara kerja bertahap, efisien, dan bisa disesuaikan kondisi kampung.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Sugeng
Berita Lainnya

Bisnis

Wisata
Kuliner