Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Politeknik Pariwisata NHI Bandung Sukses Gelar The 5th NHI Tourism Forum 2025

Media Indonesia
14/11/2025 11:43
Politeknik Pariwisata NHI Bandung Sukses Gelar The 5th NHI Tourism Forum 2025
Para pakar pariwisata berbagi pengetahuan pada The 5th NHI Tourism Forum 2025 yang digelar Politeknik Pariwisata NHI Bandung.(ISTIMEWA)

POLITEKNIK Pariwisata NHI Bandung sukses menyelenggarakan The
5th NHI Tourism Forum 2025, sebuah forum akademik yang mengusung tema strategis “Tourism Diplomacy: Soft Power Strategies for Peacebuilding.”

"Kegiatan ini menegaskan peran penting pariwisata sebagai medium diplomasi yang mampu memperkuat saling pengertian, kolaborasi, dan
harmoni global," ungkap Juru Bicara Politeknik Pariwisata NHI Bandung,
Riki Rahdiwansyah, Jumat (14/11)/

Forum tahun ini kembali meneguhkan komitmen Politeknik Pariwisata NHI Bandung terhadap upaya pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) Perserikatan Bangsa-Bangsa, sekaligus memantapkan posisinya sebagai Regional Center for Peace Tourism Research.

Menurut dia, diskusi yang berlangsung menggambarkan betapa pariwisata tidak sekadar industri jasa, melainkan sarana dialog dan interaksi budaya yang berdaya besar dalam mendorong perdamaian.

Sorotan utama diskusi

Riki memaparkan rangkaian sesi menghadirkan para tokoh kunci yang membahas penerapan soft power dalam sektor pariwisata. Beberapa pokok bahasan strategis digelar.

Dalam keynote session peserta ditantang untuk meninjau ulang urgensi aksesibilitas bagi penyandang disabilitas. Topik ini disorot sebagai isu fundamental terkait martabat, penghormatan, serta hak kesetaraan dalam berpartisipasi pada kegiatan pariwisata.

Sementara saat plenary Session dikupas peran pariwisata berbasis komunitas, tata kelola perjalanan yang berkelanjutan, pelestarian warisan budaya, dan pemanfaatan inovasi digital. Diskusi menegaskan
bahwa elemen-elemen ini merupakan instrumen efektif dalam menjadikan pariwisata sebagai sarana merajut perdamaian.

Di parallel sessions memperlihatkan implementasi nyata tema forum melalui studi kasus dari berbagai daerah, mulai dari diplomasi budaya di Pasar Malam Ngarsopuro dan Jalur Rempah, praktik astro-
tourism di Malaysia, agro-ecotourism di Lampung, hingga strategi ketahanan komunitas di Garut dan Jawa Tengah.

Sesi ini menunjukkan bagaimana konsep tourism as a soft power for peacebuilding benar-benar diwujudkan dalam praktik lapangan.


Pariwisata dimulai dari masyarakat


Diskusi dalam forum ini menekankan bahwa diplomasi pariwisata sejatinya tumbuh dari kehidupan sehari-hari masyarakat di destinasi. Dari desa-desa yang hidup dengan tradisinya, kemeriahan festival
rakyat, ekonomi kuliner lokal yang berkembang, konektivitas digital, hingga pelestarian cerita rakyat.

"Pesan yang paling ditekankan adalah bahwa pariwisata harus berangkat dari penghormatan terhadap masyarakat lokal, keberlanjutan lingkungan, serta pembangunan yang adil dan merata," ungkap Riki, yang juga
Kepala Unit Pelayanan Teknologi Informasi dan Komunikasi Publik Poltekpar NHI Bandung itu.

Diplomasi pariwisata tidak hanya hadir dalam skala global. Dia dimulai dari interaksi sederhana antara wisatawan dan komunitas tuan rumah.


Komitmen untuk masa depan pariwisata global


The 5th NHI Tourism Forum 2025 menjadi ruang pengukuhan komitmen bersama dalam membentuk masa depan pariwisata yang damai, inklusif, dan berkelanjutan.

Para peserta didorong untuk menerjemahkan jaringan dan wawasan yang diperoleh ke dalam penelitian lanjutan serta kolaborasi konkret.

"Politeknik Pariwisata NHI Bandung percaya bahwa pariwisata memiliki potensi besar sebagai motor penggerak perdamaian global. Forum ini menjadi langkah penting dalam mewujudkan strategi soft power tersebut melalui pendidikan, praktik, dan kerja sama lintas negara," tegas Riki.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Sugeng
Berita Lainnya

Bisnis

Wisata
Kuliner