Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
NATAL tahun ini datang di tengah gemuruh duka yang sedang merundung Ibu Pertiwi. Di saat jutaan umat bersiap menyambut kelahiran Sang Juru Selamat dengan sukacita, di sudut lain Nusantara, ribuan saudara kita masih harus berjibaku dengan lumpur banjir, dengan puing bangunan sisa kedahsyatan bencana, dengan segala kesulitan yang telah memorak-porandakan kehidupan mereka.
Rentetan musibah yang melanda sejumlah daerah di pengujung tahun ini seolah menjadi pengingat keras bahwa alam tengah mengirimkan sinyal kegelisahan. Dalam konteks itulah, Natal tahun ini tidak boleh terjebak dalam sekadar seremoni yang kedap terhadap realitas sosial. Natal kali ini harus diletakkan kembali ke khitahnya, yakni sebuah momentum untuk memperkuat keberagaman dan solidaritas sosial.
Tentu tidak ada satu pihak pun yang ingin 'melarang' kegembiraan. Akan tetapi, mesti disadari bahwa perayaan yang berlebihan di tengah tangis sesama bukan saja terasa tidak etis, melainkan juga mengkhianati esensi spiritualitas itu sendiri. Bukankah watak asli spiritualitas itu sangat menjunjung tinggi kemanusiaan?
Derajat kemuliaan Natal sesungguhnya tidak diukur dari seberapa gemerlap pesta perayaannya atau setinggi dan seindah apa pohon Natal yang dipajang di rumah-rumah kita. Kesederhanaan dan kesahajaan yang lahir dari empatilah yang akan meninggikan derajat Natal. Sebab, dalam kotak kesahajaan itulah sejatinya spirit cinta kasih bersemayam.
Apalagi untuk bangsa yang sedang berduka, cahaya Natal paling terang mungkin bukan berasal dari kilau lampu warna-warni, melainkan dari sinar lilin-lilin solidaritas. Natal akan lebih syahdu dan intim bila mimbar-mimbar gereja tidak sekadar menjadi tempat menggaungkan keimanan, tetapi juga dimaksimalkan untuk menggemakan solidaritas sosial dan mengulurkan tangan demi membantu saudara sebangsa.
Kesalehan ritual dalam perayaan Natal hendaknya dibarengi dengan kesalehan sosial yang memperkuat kohesi sosial, gotong royong, dan menebarkan nilai-nilai kebaikan yang melampaui beragam identitas di masyarakat. Musibah tidak pernah memilih korbannya berdasarkan identitas, maka solidaritas pun tidak boleh dibatasi oleh dogma.
Karena itu, Natal adalah momentum emas untuk mempertebal tenun kebangsaan yang mungkin sempat koyak oleh berbagai hal termasuk bencana. Natal dalam keprihatinan justru memberi peluang bagi kita untuk menemukan makna kelahiran Yesus Kristus yang lebih murni dan membumi.
Editorial ini ingin mengajak kita semua merayakan Natal dengan kepala tertunduk dalam doa dan tangan yang terbuka lebar untuk mendekap mereka yang terluka. Mari kita buktikan bahwa di tengah badai musibah sekalipun, cahaya solidaritas anak bangsa tetap mampu berpijar sehingga mampu meringankan beban saudara-saudara kita yang tengah berduka dan terluka.
Selamat Natal bagi yang merayakan. Jadikanlah momen indah perayaan Natal sebagai jalan dan kesempatan untuk membasuh luka bangsa dengan cinta dan kasih yang nyata.
WAJAH peradilan negeri ini sungguh menyedihkan. Kasus rasuah lagi-lagi memberikan tamparan keras.
KEBERHASILAN tim nasional futsal Indonesia menembus final Piala Asia Futsal 2026 menandai sebuah babak penting dalam sejarah olahraga nasional.
KABAR cerah datang dari Badan Pusat Statistik (BPS), kemarin.
BALI, kata Presiden Prabowo Subianto, merupakan etalase Indonesia di mata dunia. Etalase itu mestinya bersih, indah, dan sedap dipandang.
SEJAK Olimpiade dihidupkan lagi pada 1859, dunia sudah melihat bahwa menang di pertandingan olahraga antarnegara punya arti amat besar.
KUALITAS demokrasi suatu bangsa selalu berbanding lurus dengan kesehatan partai politik.
DI saat gonjang-ganjing yang terjadi di pasar modal Indonesia belum tertangani secara tuntas, kita kembali disuguhi berita buruk lain di sektor ekonomi.
KEPUTUSAN mengundurkan diri Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman, Jumat (30/1), pantas diapresiasi.
DALAM beberapa hari terakhir, ruang publik kembali diharubirukan oleh dua kasus yang melibatkan aparat penegak hukum.
PEMERINTAHAN di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wapres Gibran Rakabuming Raka mulai menyentuh bola panas, yakni mengutak-atik bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.
BEA cukai dan pajak merupakan tulang punggung penerimaan negara. Dari sanalah roda pemerintahan dan negara mendapatkan bahan bakar untuk bergerak.
Jika dihitung secara sederhana, gaji bupati Rp5,7 juta per bulan selama lima tahun masa jabatan hanya menghasilkan sekitar Rp342 juta.
NEGERI ini agaknya sudah berada pada kondisi normalisasi bencana. Banjir setinggi perut orang dewasa? Normal. Tanah longsor menimbun satu kampung? Normal.
BANJIR lagi-lagi merendam Jakarta dan daerah penyangganya, Bekasi dan Tangerang.
PENCABUTAN izin 28 perusahaan membuka peluang bagi pemulihan lingkungan pascabencana Aceh dan Sumatra.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved