Headline

Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.

Tekuk Beking Mafia Tambang

17/12/2025 05:00

PENYELUNDUPAN sumber daya alam ke luar negeri yang diduga turut dibekingi aparat nakal dari unsur TNI dan Polri membuat Presiden Prabowo Subianto semakin gerah. Beberapa kali peringatannya rupanya kurang ampuh sehingga Prabowo kembali mengungkit masalah yang sama di Sidang Kabinet Paripurna, Senin (15/12), di Istana Negara, Jakarta.

Kepala Negara mengaku mendapat laporan yang mengungkapkan keterlibatan sejumlah pejabat serta anggota TNI dan Polri dalam aktivitas penyelundupan dan kegiatan ilegal. Prabowo mencontohkan penyelundupan timah dari Bangka Belitung.

Presiden lantas meminta Panglima TNI dan Kapolri benar-benar menindak anggota mereka yang melindungi kegiatan penyelundupan dan aktivitas ilegal.

Dalam beberapa bulan terakhir saja, Presiden Prabowo paling tidak sudah empat kali menyoroti masalah penyelundupan sumber daya alam, khususnya pertambangan. Salah satu yang paling keras ialah saat ia menyampaikan pidato kenegaraan di Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025.

Ketika itu, Prabowo secara spesifik mengultimatum para 'orang kuat' yang menjadi pelindung tambang ilegal. Ia menyebut jenderal, baik TNI maupun Polri, hingga mantan jenderal bakal ditindak atas nama rakyat.

Fakta-fakta di lapangan menunjukkan betapa besarnya kebocoran kekayaan negara akibat praktik-praktik penyelewengan di sektor pengelolaan sumber daya alam. Untuk komoditas timah, misalnya, sekitar 80% produksi timah nasional hilang akibat penyelundupan dan tambang ilegal. Hanya 20% yang dikelola secara resmi oleh PT Timah Tbk selaku badan usaha milik negara atau BUMN.

Menurut Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, 80% timah dibawa ke luar negeri tanpa membayar pajak, menyebabkan hilangnya devisa miliaran dolar Amerika Serikat setiap tahun. Potensi pendapatan negara yang lenyap mencapai Rp20 triliun per tahun.

Itu belum termasuk kerugian ekologis yang bila mengacu pada kasus rasuah di PT Timah Tbk mencapai Rp300 triliun. Kerugian diakibatkan oleh degradasi lingkungan di wilayah Bangka Belitung.

Modus operandi penyelundupan dalam sejumlah kasus yang dapat digagalkan diketahui kian canggih. Pelaku ada yang menggunakan perusahaan boneka untuk memalsukan dokumen asal-usul timah, seolah dari izin usaha pertambangan (IUP) yang sah. Padahal, setelah ditelusuri, timah yang diselewengkan berasal dari tambang liar di lahan negara.

Sederet peraturan perundangan pun dilanggar. Mulai dari Undang-Undang No 3 Tahun 2020 tentang Minerba, Undang-Undang No 17 Tahun 2006 tentang Kepabeanan, serta Undang-Undang No 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor).

Keterlibatan anggota TNI maupun Polri tentu saja membuat pemberantasan penyelundupan menjadi lebih sulit karena yang semestinya menegakkan hukum malah turut bermain. Perlu ketegasan dari pucuk pimpinan kedua institusi untuk menindak sesuai perintah Kepala Negara.

Harus diakui, penyelundupan sumber daya alam yang bisa berlangsung belasan bahkan puluhan tahun disebabkan oleh lemahnya penegakan hukum dan pengawasan. Keterlibatan aparat nakal, seperti disebut Prabowo, menunjukkan perlunya reformasi di tubuh TNI dan Polri.

Tidak ada toleransi bagi penyelundupan sumber daya alam. Tutup semua celah kebocoran kekayaan negara. Pemerintah harus meningkatkan sinergi antarlembaga, melibatkan masyarakat, dan mendorong hilirisasi timah yang memberi nilai tambah sebesar-besarnya bagi negara.

Dengan begitu, kekayaan alam menjadi berkah yang benar-benar mengangkat kesejahteraan rakyat, bukan hanya menetes dari kantong para cukong.

Negara tidak boleh kalah oleh mafia, sindikat, atau apa pun namanya. Tumpas habis para beking dan berantas penyelundupan sumber daya alam demi kelangsungan masa depan bangsa.

 



Berita Lainnya
  • Kembalikan Hak Sehat Rakyat

    10/2/2026 05:00

    SEBELAS juta jiwa tentu bukan angka yang kecil.

  • Gaji Naik, Moral Menukik

    09/2/2026 05:00

    WAJAH peradilan negeri ini sungguh menyedihkan. Kasus rasuah lagi-lagi memberikan tamparan keras.

  • Timnas Futsal di Titik Awal Menuju Puncak

    07/2/2026 05:00

    KEBERHASILAN tim nasional futsal Indonesia menembus final Piala Asia Futsal 2026 menandai sebuah babak penting dalam sejarah olahraga nasional.

  • Ekonomi Mulai di Zona Terang

    06/2/2026 05:00

    KABAR cerah datang dari Badan Pusat Statistik (BPS), kemarin.

  • Alarm Pengelolaan Sampah

    05/2/2026 05:00

    BALI, kata Presiden Prabowo Subianto, merupakan etalase Indonesia di mata dunia. Etalase itu mestinya bersih, indah, dan sedap dipandang.

  • Jaga Regenerasi Bulu Tangkis Kita

    04/2/2026 05:00

    SEJAK Olimpiade dihidupkan lagi pada 1859, dunia sudah melihat bahwa menang di pertandingan olahraga antarnegara punya arti amat besar.

  • Meneruskan Ambang Batas Parlemen

    03/2/2026 05:00

    KUALITAS demokrasi suatu bangsa selalu berbanding lurus dengan kesehatan partai politik.

  • Tindak Aksi Kemplang Pajak

    02/2/2026 05:00

    DI saat gonjang-ganjing yang terjadi di pasar modal Indonesia belum tertangani secara tuntas, kita kembali disuguhi berita buruk lain di sektor ekonomi.

  • Benahi Bursa Efek Indonesia

    31/1/2026 05:00

    KEPUTUSAN mengundurkan diri Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman, Jumat (30/1), pantas diapresiasi.

  • Jangan Ulangi Kasus Hogi

    30/1/2026 05:00

    DALAM beberapa hari terakhir, ruang publik kembali diharubirukan oleh dua kasus yang melibatkan aparat penegak hukum.

  • Memangkas BBM Subsidi Berbasis Keadilan

    29/1/2026 05:00

    PEMERINTAHAN di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wapres Gibran Rakabuming Raka mulai menyentuh bola panas, yakni mengutak-atik bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.

  • Menunggu Bukti Aksi Purbaya

    28/1/2026 05:00

    BEA cukai dan pajak merupakan tulang punggung penerimaan negara. Dari sanalah roda pemerintahan dan negara mendapatkan bahan bakar untuk bergerak.

  • Gaji Kecil bukan Pembenar Aksi Korup

    27/1/2026 05:00

    Jika dihitung secara sederhana, gaji bupati Rp5,7 juta per bulan selama lima tahun masa jabatan hanya menghasilkan sekitar Rp342 juta.

  • Lalai Mencegah Bencana

    26/1/2026 05:00

    NEGERI ini agaknya sudah berada pada kondisi normalisasi bencana. Banjir setinggi perut orang dewasa? Normal. Tanah longsor menimbun satu kampung? Normal.

  • Akhiri Menyalahkan Alam

    24/1/2026 05:00

    BANJIR lagi-lagi merendam Jakarta dan daerah penyangganya, Bekasi dan Tangerang.

  • Pencabutan Izin bukan Ajang Basa-basi

    23/1/2026 05:00

    PENCABUTAN izin 28 perusahaan membuka peluang bagi pemulihan lingkungan pascabencana Aceh dan Sumatra.