Headline
Sebagian besar pemandu di Gunung Rinjadi belum besertifikat.
Sebagian besar pemandu di Gunung Rinjadi belum besertifikat.
Senior Associate Integrity Law Firm, Pemohon Judicial Review Blank Vote di MK Muhamad Raziv Barokah menilai partai politik gagal menangkap kehendak rakyat terkait kandidasi pemilihan kepala daerah.
Oleh karena itu, dia menekankan kotak kosong pada pencoblosan saat Pilkada nanti diperlukan, untuk melihat apakah sebenarnya masyarakat menilai ada proses yang salah dalam pencalonan kepala daerah tersebut.
"Partai politik saat ini sama sekali tidak bisa menangkap kehendak rakyat. Terutama di Pilkada ini," kata Raziv, dalam Webinar: Kotak Kosong untuk Semua Daerah. Mungkinkah?, hari ini.
Baca juga : Parpol Lebih Memilih Masuk Kabinet daripada Usung Anies di Pilkada
Padahal Undang-undang Dasar 1945 bahwa kedaulatan berada ditangan rakyat. Sayangnya, rakyat yang diharapkan sebagai pemegang kedaulatan tertinggi, yang kehendaknya disalurkan oleh partai politik untuk ditempatkan dalam bentuk pejabat-pejabat publik yang menjalankan pemerintahan menjalankan negara partai politik saat ini, sama sekali tidak bisa menangkap kehendak rakyat.
Dia katakan para calon kepala daerah yang secara elektabilitas sangat tinggi, dalam hal ini dia mengambil contoh menyampaikan mewakili Kota Jakarta. Dia katakan di Jakarta, ada dua orang yang elektabilitasnya sangat tinggi, yaitu Anies Baswedan dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).
Elektabilitas Anies menyetuh 39,8%, dan Ahok pada sekitar 30%, disusul dengan Ridwan Kamil yang sekian belas persen, serta tokoh-tokoh lainnya.
Baca juga : Anies Disarankan Bikin Parpol untuk Kendaraan Politik
Namun, menurut dia, betapa menyedihkannya ketika sosok-sosok dengan elektabilitas tinggi, yang dia yakini diraih berkat gaya memimpin mereka yang benar-benar ingin memperjuangkan kepentingan rakyat baik itu Ahok ataupun Anies Baswedan, ternyata tidak mendapat ruang untuk berkontestasi dalam pilkada kali ini.
"Partai politik Gagal menangkap kehendak rakyat tersebut, untuk ditaruh dalam surat suara, dipertarungan, sehingga rakyat betul-betul bertarung memilih untuk orang-orang yang ingin dia kehendaki. Tapi tiba-tiba partai politik memiliki orang-orang lain yang tidak terbayang di kepala warga Jakarta," kata Raziv.
Hal ini menimbulkan pertanyaan apa sebetulnya yang diinginkan oleh partai politik ini, dan kebenaran mengenai partai politik yang dibentuk untuk mewujudkan kepentingan masyarakat, bangsa dan negara.
Baca juga : Anies Ingin Bikin Partai untuk Memperjuangkan Gagasan
"Ternyata tidak, terbukti dengan bagaimana cara partai politik memilih kandidat dalam pemilu," kata Raziv.
Ini diperparah, bahwa saat ini kedaulatan partai politik sedang direnggut oleh beberapa oknum. Padahal Indonesia memiliki ratusan juta masyarakat, diambil kewenangannya oleh partai politik dan partai politik diambil juga kekuasaannya oleh segelintir orang, oleh dinasti.
"Itu bisa kita rasakan bagaimana berbagai penjegalan terjadi. Orang-orang yang mengatakan apa buktinya, mereka tidak lebih dari pada segelintir buzzer yang jalan hidupnya mungkin memang untuk seperti itu," kata Raziv. (P-2)
Akankah keduanya bakal memenangi pertandingan? Seberapa besar faktor Anies dan Jokowi dalam ikut menentukan sang kampiun?
Siapa sebenarnya yang menelikung Anies? Seperti apa takdir politik Anies selanjutnya?
Kasus pencatutan KTP dalam Pilkada Jakarta kali ini ialah perkara serius, amat serius.
Partai Golkar Alihkan Dukungan ke Airin-Ade
Rekomendasi Bakal Calon Kepala Daerah PDIP
LSI Denny JA Rilis Exitpool dan Quick Count Pilkada 2024 di Tujuh Provinsi
Penyandang DIsabilitas Gunakan Hak Pilihnya
Copyright @ 2025 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved