Headline
Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.
Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.
Kumpulan Berita DPR RI
SISTEM pemilihan kepala daerah (pilkada) langsung yang telah berjalan dua dekade dinilai gagal mewujudkan demokrasi substansial. Alih-alih menjadi instrumen good governance, pilkada justru berkembang menjadi ajang transaksi politik berbiaya tinggi dengan residu korupsi yang membebani daerah.
Wacana mengembalikan pemilihan ke tangan DPRD pun menguat, meski menuai kekhawatiran akan mundurnya kedaulatan rakyat. Dalam Diskusi Publik Forum Wartawan Politik (FWP) bertajuk Menakar Wacana Perubahan Sistem Pilkada di Makassar, Selasa (10/2), para ahli membeberkan analisis tajam atas dilema sistem pemilihan daerah ini.
Pengamat Kebijakan Publik Universitas Negeri Makassar (UNM), Prof. Risma Niswaty, menyoroti paradoks pilkada langsung. Di satu sisi, legitimasinya kuat karena dipilih rakyat. Namun, praktik di lapangan sarat dengan penyakit transaksional.
"Residu pilkada langsung itu nyata. Istilah mahar politik, serangan fajar, dan 'saksi bayaran' muncul dari persepsi bahwa biaya politik itu mahal dan harus balik modal," tegas Risma, yang juga mantan anggota KPUD Kabupaten Gowa.
Ia mengkritik, mental 'balik modal' ini kemudian berimbas pada kebijakan daerah yang seringkali tidak sebanding dengan dana publik yang dikeluarkan untuk penyelenggaraan pilkada.
"Dari data, anggaran pilkada langsung bisa dipangkas hingga 80% jika dialihkan ke pemilihan oleh DPRD. Tapi, apakah efisiensi anggaran ini sepadan dengan hilangnya akuntabilitas langsung ke rakyat?" tanyanya.
Wacana pemilihan oleh DPRD bukannya tanpa risiko. Para pakar memperingatkan ancaman hilangnya legitimasi dan kembalinya era kepala daerah sebagai boneka partai.
"Risiko legitimasi akan muncul. Jika dipilih DPRD, kepala daerah akan dianggap boneka partai. Ketika rakyat kehilangan kepercayaan, bisa memicu eskalasi sosial," jelas Risma.
Pandangan senada disampaikan Sosiolog UNM, Hasruddin Nur. Menurutnya, mengembalikan pilkada ke DPRD berpotensi menjadi kemunduran demokrasi dan mematikan partisipasi publik.
"'Suara rakyat adalah suara Tuhan' bisa tidak berlaku lagi. Masyarakat akan kehilangan akses langsung untuk memilih dan memantau," ujar Hasruddin.
Konflik horizontal, lanjutnya, justru bisa bergeser menjadi ketegangan antara masyarakat dengan DPRD yang dianggap tidak menyuarakan aspirasi mereka.
Pengamat Komunikasi Politik UIN Alauddin Makassar, Prof. Firdaus Muhammad, menegaskan bahwa Indonesia telah mencoba kedua sistem dan keduanya memiliki cacatnya sendiri.
Pilkada langsung berbiaya tinggi dan rentan politik uang, sementara pilkada oleh DPRD berisiko melemahkan kedaulatan rakyat.
"Yang utama adalah memperbaiki demokrasi kita yang kropos. Jika lemah, kita jadi incaran kepentingan asing. Evaluasi harus menyeluruh, bukan hanya soal langsung atau tidak langsung," serunya.
Firdaus menyarankan sejumlah reformasi mendasar, yaitu menaikkan political threshold untuk membatasi parpol, mereformasi sistem rekrutmen calon, dan yang terpenting, mendorong pendidikan politik untuk mengatasi akar masalah yaitu rendahnya literasi dan kerentanan ekonomi pemilih.
"Demokrasi akan sehat ketika masyarakat sudah 'kenyang' secara ekonomi dan 'pintar' secara politik. Saat ini, banyak yang memilih karena butuh uang, bukan karena program. Itu adalah kejahatan demokrasi," pungkasnya. (LN/E-4)
Direktur IPR, Iwan Setiawan, menyebutkan alokasi anggaran umum untuk Pilkada langsung tahun 2024 saja mencapai Rp38,2 triliun.
Kemendagri mendorong evaluasi rekrutmen politik dan sistem pilkada untuk menekan korupsi kepala daerah yang terus berulang meski pengawasan diperketat.
Pengamat politik Citra Institute Yusak Farchan menilai tingginya biaya politik dalam pilkada menjadi persoalan serius dalam demokrasi Indonesia.
Pilkada tak langsung bertentangan dengan semangat demokrasi lokal dan tidak menyelesaikan persoalan biaya politik tinggi.
Kepala Pusat Riset BRIN Mardyanto Wahyu Tryatmoko menilai wacana pilkada tidak langsung lewat DPRD tidak menjamin hilangnya politik uang dan justru berpotensi lebih mahal.
Kecelakaan yang melibatkan dua armada bus Transjakarta di jalur layang Koridor 13, ruas Swadarma arah Cipulir, pada Senin (23/2), mengakibatkan 23 penumpang mengalami luka ringan.
Polisi telah mengamankan sejumlah barang bukti penting, mulai dari proyektil peluru hingga rekaman CCTV guna mengidentifikasi pelaku penembakan di rumah anggota DPRD Jateng.
Kepala Pusat Riset BRIN Mardyanto Wahyu Tryatmoko menilai wacana pilkada tidak langsung lewat DPRD tidak menjamin hilangnya politik uang dan justru berpotensi lebih mahal.
Sidang pemeriksaan pendahuluan perkara tersebut digelar Kamis (4/2) dan dipimpin Ketua MK Suhartoyo, didampingi Hakim Konstitusi Daniel Yusmic P. Foekh dan M. Guntur Hamzah.
Langkah ini bertujuan untuk melakukan studi komparasi guna memperkaya referensi dalam penyusunan regulasi baru.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved