Headline
Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.
Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.
Kumpulan Berita DPR RI
DOLAR telah terlalu lama mencengkeram perekonomian global. Data Bank for International Settlements (BIS) menunjukkan bahwa sekitar 90% transaksi valas dunia melibatkan US$, menjadikannya mata uang yang nyaris tak tergantikan dalam perdagangan internasional.
Namun dalam dua dekade terakhir, muncul gelombang dedolarisasi. Tidak dalam bentuk konfrontatif, melainkan lewat pencarian mekanisme transaksi yang lebih efisien dan tidak bergantung pada satu mata uang. Dalam konteks inilah digitalisasi pembayaran lintas batas muncul sebagai peluang strategis. Pertanyaannya, apakah inovasi ini benar-benar mampu membuka jalan menuju dunia pasca-dolar?
Mark Carney, mantan Gubernur Bank Sentral Inggris, pernah mengemukakan pandangan yang kini terdengar jauh lebih relevan: dominasi dolar terlalu besar dan suatu saat dapat digantikan oleh mata uang digital yang didukung stabilitas negara atau konsorsium internasional.
Sementara itu, perkembangan teknologi finansial bergerak cepat. Pada 2024, lebih dari 90% bank sentral di dunia sudah mengeksplorasi atau menguji Central Bank Digital Currency (CBDC). Teknologi ini menjanjikan transaksi lintas negara yang lebih cepat, murah, transparan, dan inklusi. Digadang-gadang mampu mengatasi masalah yang telah lama membayangi pembayaran internasional.
Hingga kini, transaksi lintas batas identik dengan proses berlapis dan biaya tinggi. Pelaku harus melewati jaringan bank koresponden dan sering kali menukar mata uang lokal ke US$ sebelum dikonversi kembali. Friksi ini tidak hanya memicu biaya, tetapi juga memperlambat waktu penyelesaian transaksi dan mengurangi visibilitas status pembayaran.
Skema Local Currency Settlement (LCS) menjadi alternatif penting karena memungkinkan pertukaran langsung antarmata uang lokal. Dengan LCS, pelaku dapat memangkas biaya konversi, mengurangi eksposur terhadap fluktuasi US$, serta memperdalam pasar keuangan regional yang lebih mandiri.
Indonesia adalah salah satu negara yang paling progresif dalam agenda ini. Bank Indonesia tengah mengeksplorasi pemanfaatan Distributed Ledger Technology (DLT) dan Instant Payment System (IPS) untuk membangun kanal pembayaran lintas negara yang lebih efisien dan berbasis mata uang lokal. Apabila CBDC dirancang dengan konektivitas antarbank sentral, tak ayal akan berpotensi memangkas perantara, mempercepat proses kliring, dan menurunkan biaya transaksi.
BIS menekankan bahwa interoperabilitas antar-CBDC adalah kunci menghilangkan friksi dalam pembayaran internasional, sementara IMF menyoroti bahwa penggunaan uang bank sentral digital dapat mengurangi risiko penyelesaian dan meningkatkan keandalan transaksi.
Namun demikian, implementasi CBDC tidak serta-merta. Banyak yurisdiksi masih menimbang aspek privasi data, kesiapan infrastruktur digital, potensi gangguan terhadap intermediasi perbankan, hingga dampak terhadap transmisi kebijakan moneter. Karena itu, pendekatan bertahap yang memanfaatkan infrastruktur yang sudah matang menjadi pilihan realistis saat ini. Project Nexus hadir sebagai salah satu jalur pragmatis tersebut.
Project Nexus, yang difasilitasi BIS Innovation Hub, menawarkan sebuah 'simpul' untuk menghubungkan berbagai sistem pembayaran cepat di banyak negara. Dengan koneksi ke Nexus, sebuah IPS dapat langsung berinteraksi dengan jaringan negara lain dalam hitungan detik. Standarisasi pesan internasional, automasi konversi mata uang, dan keseragaman pengalaman pengguna menjadi pilar utamanya. Bagi kawasan Asia Tenggara yang tengah memperkuat integrasi ekonomi, termasuk upaya menggunakan mata uang lokal dalam transaksi regional, model ini menawarkan pintu masuk yang efisien.
Bagi Indonesia, manfaatnya sangat nyata. Negara ini merupakan salah satu koridor remitansi terbesar di kawasan. Pekerja migran Indonesia setiap tahun mengirim miliaran dolar setara rupiah ke tanah air melalui jaringan yang sering kali mahal dan lambat. Dengan integrasi pembayaran lintas batas berbasis IPS, biaya pengiriman uang dapat ditekan dan waktu penyelesaian dipercepat secara signifikan.
Selain itu, UMKM yang aktif berdagang melalui platform digital memerlukan mekanisme pembayaran yang cepat, murah, dan dapat dilacak. Integrasi IPS dan LCS membuka peluang bagi penyelesaian dalam mata uang lokal tanpa harus melewati jalur konversi US$. Ini tidak hanya memperbaiki arus kas pelaku usaha, tetapi juga meningkatkan daya saing ekspor kecil-menengah Indonesia.
Meski potensinya besar, digitalisasi pembayaran lintas batas bukanlah solusi instan. Ada beberapa prasyarat penting yang harus dipenuhi. Pertama, harmonisasi regulasi lintas yurisdiksi. Standar AML/CFT, perlindungan konsumen, tata kelola sengketa, dan mekanisme pengawasan perlu selaras. Tanpa harmonisasi, teknologi tercepat pun dapat terhambat oleh ketidaksesuaian aturan antarnegara.
Kedua, penguatan ketahanan siber. Semakin terhubung sebuah sistem, semakin tinggi pula risiko serangan dan kebocoran data. Arsitektur keamanan berlapis, audit berkala, dan prosedur pemulihan insiden menjadi kebutuhan mendesak.
Ketiga, tata kelola data. Pertukaran data lintas negara harus diatur dengan prinsip kejelasan akses, transparansi pemrosesan, dan perlindungan privasi. Desain kebijakan yang baik mampu menyeimbangkan inovasi dengan kepercayaan publik.
Keempat, koordinasi antarlembaga. Bank sentral, operator IPS, bank komersial, dan regulator sektor keuangan harus bergerak dengan kompas yang sama agar integrasi berjalan mulus dan tidak menimbulkan silo baru.
Pada akhirnya, dedolarisasi bukanlah tentang menggulingkan dominasi satu mata uang, melainkan membangun ekosistem transaksi yang lebih seimbang dan efisien. Digitalisasi pembayaran lintas batas melalui LCS, integrasi IPS seperti Nexus, dan pada waktunya CBDC akan memberikan Indonesia jalur pragmatis menuju transaksi internasional yang lebih cepat, murah, dan inklusif.
Jalan ini mungkin sunyi, tanpa tontonan geopolitik yang dramatis, namun justru di sanalah kekuatannya berada: perubahan yang bekerja senyap, bertahap, dan efektif. Ketika pilihan transaksi antarmata uang lokal tersedia secara luas dan efisien, ketergantungan struktural pada dolar akan bergeser bukan karena kampanye, tetapi karena logika ekonomi yang tak terbantahkan.
Nilai tukar rupiah melemah ke 16.892 per dolar AS dipicu eskalasi konflik Iran dan revisi outlook Fitch Ratings terhadap Indonesia menjadi negatif.
Di tengah meningkatnya ketegangan konflik Timur Tengah, Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Bank Indonesia (BI) mengapresiasi catatan surplus neraca perdagangan Indonesia pada Januari tahun ini.
Bank Indonesia (BI) menyatakan akan terus memantau dinamika pasar keuangan secara cermat dan merespons secara tepat guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah konflik Timur Tengah.
ESKALASI konflik di Timur Tengah pasca serangan Amerika Serikat ke Iran memicu sentimen risk off di pasar keuangan global.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved