Headline

Pesan Presiden ialah efisiensi dimulai dari level atas.

Suku Bunga Acuan Diprediksi Tetap 4,75 Persen di Tengah Tekanan Global

Andhika Prasetyo
17/3/2026 10:44
Suku Bunga Acuan Diprediksi Tetap 4,75 Persen di Tengah Tekanan Global
ilustrasi(Antara)

Sejumlah ekonom memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan mempertahankan BI-Rate di level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Maret 2026. Prediksi itu muncul seiring masih kuatnya tekanan eksternal terhadap nilai tukar rupiah.

Kepala Ekonom BCA David Sumual mengatakan stabilitas rupiah menjadi pertimbangan utama dalam penentuan suku bunga acuan.

“Tekanan eksternal masih cukup kuat dan daya tarik aset rupiah perlu dipertahankan,” ujarnya.

Menurut David, tekanan terhadap rupiah masih sangat dipengaruhi oleh perkembangan konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, serta prospek sovereign rating Indonesia ke depan.

Sementara itu, Department Head of Macroeconomic and Financial Market Research Permata Bank Faisal Rachman menilai konflik yang berkepanjangan berpotensi mendorong kenaikan harga minyak global dan inflasi, sehingga mempersempit ruang penurunan suku bunga. Ia menyebut pasar kini memperkirakan The Federal Reserve (The Fed) hanya akan memangkas suku bunga satu kali pada 2026, kemungkinan pada akhir tahun.

“Jika The Fed hanya memangkas suku bunga satu kali, kemungkinan BI juga hanya akan melakukan hal serupa,” katanya.

Namun, Faisal mengingatkan jika ketegangan geopolitik meningkat dan harga minyak bertahan di atas 100 dolar AS per barel, maka peluang pemangkasan suku bunga semakin kecil, bahkan bisa berbalik menjadi kebijakan yang lebih ketat (hawkish).

Pandangan serupa disampaikan Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M Rizal Taufikurahman yang menilai peluang penguatan rupiah masih ada, namun dalam jangka pendek tetap dibayangi faktor eksternal. Menurutnya, stabilitas nilai tukar akan lebih kuat jika kondisi global membaik serta fundamental domestik seperti fiskal, inflasi, dan kredibilitas kebijakan tetap terjaga.

Di sisi lain, Ekonom LPEM FEB UI Teuku Riefky mencatat adanya arus keluar modal asing sebesar US$0,63 miliar dalam 30 hari terakhir hingga 12 Maret 2026, serta US$0,75 miliar sejak konflik AS-Iran pecah. Seiring itu, imbal hasil obligasi pemerintah juga meningkat, baik untuk tenor pendek maupun panjang, mencerminkan meningkatnya ketidakpastian pasar.

Riefky menjelaskan kenaikan yield tersebut menunjukkan pasar mulai mengantisipasi risiko terhadap prospek ekonomi Indonesia dalam jangka pendek, terutama akibat tekanan nilai tukar dan potensi memburuknya kondisi fiskal karena lonjakan harga minyak.

Hingga 13 Maret 2026, rupiah tercatat melemah sekitar 1,6% secara year to date (ytd) dan sekitar 3,64% secara tahunan (yoy) terhadap dolar AS. Meski demikian, depresiasi rupiah dinilai masih relatif moderat dibandingkan sejumlah negara berkembang lain, mencerminkan langkah aktif Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar.

Riefky juga mengingatkan bahwa pemangkasan suku bunga dalam kondisi saat ini berisiko memperlebar tekanan terhadap rupiah serta meningkatkan risiko inflasi, terutama dari kenaikan harga energi. (Ant/E-3)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik