Headline
Pemudik diminta manfaatkan kebijakan WFA.
Kumpulan Berita DPR RI
MATA Uang Rupiah menunjukkan tren pelemahan pada pembukaan perdagangan hari ini, Rabu, 25 Maret 2026. Berdasarkan data pasar spot, Rupiah melemah 22 poin atau sekitar 0,13% ke posisi Rp16.920 per dolar Amerika Serikat (AS) dibandingkan dengan penutupan sebelumnya di level Rp16.898 per dolar AS.
Pelemahan ini menempatkan Rupiah dalam tekanan besar, mengingat posisi harga jual di sejumlah bank besar nasional kini telah melampaui ambang psikologis Rp17.000 per dolar AS.
Ringkasan Pasar: Rupiah tertekan oleh kebijakan suku bunga The Fed yang tetap tinggi dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga minyak dunia.
Berdasarkan pantauan data perbankan pagi ini, terdapat selisih yang cukup lebar antara kurs beli dan kurs jual. Berikut adalah rincian kurs di beberapa bank utama:
| Bank | Kurs Beli (Rp) | Kurs Jual (Rp) |
|---|---|---|
| BCA (e-Rate) | 16.915 | 17.105 |
| BNI | 16.898 | 17.103 |
| BRI | 16.838 | 17.139 |
| Bank Mandiri | 16.950 | 16.980 |
Data di atas menunjukkan bahwa bagi masyarakat atau pelaku usaha yang ingin membeli dolar AS, biaya yang harus dikeluarkan rata-rata sudah berada di atas Rp17.100 per dolar AS.
Ekonom menilai pelemahan ini dipicu oleh kombinasi sentimen global dan kondisi fiskal domestik pasca-libur panjang. Berikut adalah poin-poin utamanya:
Bank Sentral AS (The Fed) dalam pertemuan terbarunya memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5 persen hingga 3,75 persen. Sikap hawkish ini membuat aliran modal asing kembali terserap ke pasar keuangan Amerika Serikat, yang memicu capital outflow dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran masih menjadi beban berat bagi pasar global. Ketidakpastian ini mendorong investor untuk beralih ke aset aman (safe haven) seperti dolar AS dan emas. Selain itu, penutupan Selat Hormuz menyebabkan harga minyak dunia tetap tinggi, yang berdampak pada membengkaknya beban impor energi Indonesia.
Dari sisi internal, pasar merespons negatif proyeksi pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 yang diperkirakan melampaui batas 3 persen. Sentimen ini diperburuk dengan penurunan outlook surat utang negara oleh beberapa lembaga pemeringkat internasional.
Menanggapi volatilitas yang tinggi, Bank Indonesia (BI) dipastikan terus berada di pasar untuk melakukan intervensi, baik di pasar spot maupun Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Gubernur BI sebelumnya menegaskan bahwa otoritas moneter akan menggunakan seluruh instrumen yang tersedia untuk memastikan Mata Uang Rupiah tetap bergerak sesuai dengan fundamentalnya.
Pelaku pasar diprediksi akan tetap dalam posisi hati-hati (wait and see) sepanjang hari ini, dengan proyeksi pergerakan Rupiah berada di rentang Rp16.850 hingga Rp17.075 per dolar AS.
PENAFIAN
Artikel ini diolah dan disusun oleh kecerdasan buatan (AI) dan telah melalui proses penyuntingan serta verifikasi fakta oleh redaksi.
Nilai tukar mata uang Rupiah hari ini 20 Maret 2026 bergerak di zona merah, mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar AS akibat tekanan global.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hari ini 19 Maret 2026 bergerak fluktuatif di level Rp16.900-an. Cek juga harga emas Antam yang menguat hari ini.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diprediksi fluktuatif pada 18 Maret 2026 usai BI menahan suku bunga di 4,75%. Cek harga kurs terbaru di sini.
Nilai tukar rupiah ditutup stagnan Rp16.997 per dolar AS hari ini (17/3). Cek hasil RDG Bank Indonesia terkait BI-Rate dan dampak pernyataan dovish Gubernur BI.
Sejumlah ekonom memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan mempertahankan BI-Rate di level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Maret 2026.
Kurs rupiah hari ini 17 Maret 2026 menguat ke Rp16.965 per dolar AS. Pasar menanti pengumuman BI Rate di tengah tensi geopolitik Timur Tengah.
IHSG ditutup anjlok 1,61% ke level 7.022 pada Senin (16/3/2026). Investor khawatir defisit fiskal melebar di atas 3% akibat tensi geopolitik & harga minyak.
Ia memaparkan depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sejak perang Israel-AS vs Iran tercatat sebesar 0,3%.
Sikap risk-off investor disebabkan oleh eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah, serta tingginya yield US Treasury akibat ekspektasi suku bunga The Fed yang tertahan tinggi.
ESKALASI konflik di Timur Tengah antara Iran dan Israel yang juga melibatkan Amerika Serikat dinilai berpotensi memberi tekanan tambahan
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved