Headline

Pemudik diminta manfaatkan kebijakan WFA.

Nilai Tukar Rupiah 25 Maret 2026: Melemah ke Rp16.920 per Dolar AS, Kurs Jual Bank Tembus Rp17.000

Basuki Eka Purnama
25/3/2026 10:06
Nilai Tukar Rupiah 25 Maret 2026: Melemah ke Rp16.920 per Dolar AS, Kurs Jual Bank Tembus Rp17.000
Ilustrasi--Petugas menunjukkan pecahan mata uang Rupiah dan Dolar Amerika Serikat (AS) di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta, Kamis (15/1/2026).(ANTARA/Muhammad Adimaja)

MATA Uang Rupiah menunjukkan tren pelemahan pada pembukaan perdagangan hari ini, Rabu, 25 Maret 2026. Berdasarkan data pasar spot, Rupiah melemah 22 poin atau sekitar 0,13% ke posisi Rp16.920 per dolar Amerika Serikat (AS) dibandingkan dengan penutupan sebelumnya di level Rp16.898 per dolar AS.

Pelemahan ini menempatkan Rupiah dalam tekanan besar, mengingat posisi harga jual di sejumlah bank besar nasional kini telah melampaui ambang psikologis Rp17.000 per dolar AS.

Ringkasan Pasar: Rupiah tertekan oleh kebijakan suku bunga The Fed yang tetap tinggi dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga minyak dunia.

Perbandingan Kurs Jual Dolar AS di Bank Nasional

Berdasarkan pantauan data perbankan pagi ini, terdapat selisih yang cukup lebar antara kurs beli dan kurs jual. Berikut adalah rincian kurs di beberapa bank utama:

Bank Kurs Beli (Rp) Kurs Jual (Rp)
BCA (e-Rate) 16.915 17.105
BNI 16.898 17.103
BRI 16.838 17.139
Bank Mandiri 16.950 16.980

Data di atas menunjukkan bahwa bagi masyarakat atau pelaku usaha yang ingin membeli dolar AS, biaya yang harus dikeluarkan rata-rata sudah berada di atas Rp17.100 per dolar AS.

Analisis Faktor Penyebab Tekanan Rupiah

Ekonom menilai pelemahan ini dipicu oleh kombinasi sentimen global dan kondisi fiskal domestik pasca-libur panjang. Berikut adalah poin-poin utamanya:

1. Kebijakan Suku Bunga The Fed

Bank Sentral AS (The Fed) dalam pertemuan terbarunya memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5 persen hingga 3,75 persen. Sikap hawkish ini membuat aliran modal asing kembali terserap ke pasar keuangan Amerika Serikat, yang memicu capital outflow dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

2. Ketegangan Geopolitik Timur Tengah

Konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran masih menjadi beban berat bagi pasar global. Ketidakpastian ini mendorong investor untuk beralih ke aset aman (safe haven) seperti dolar AS dan emas. Selain itu, penutupan Selat Hormuz menyebabkan harga minyak dunia tetap tinggi, yang berdampak pada membengkaknya beban impor energi Indonesia.

3. Kekhawatiran Defisit Anggaran Domestik

Dari sisi internal, pasar merespons negatif proyeksi pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 yang diperkirakan melampaui batas 3 persen. Sentimen ini diperburuk dengan penurunan outlook surat utang negara oleh beberapa lembaga pemeringkat internasional.

Langkah Stabilitasi Bank Indonesia

Menanggapi volatilitas yang tinggi, Bank Indonesia (BI) dipastikan terus berada di pasar untuk melakukan intervensi, baik di pasar spot maupun Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Gubernur BI sebelumnya menegaskan bahwa otoritas moneter akan menggunakan seluruh instrumen yang tersedia untuk memastikan Mata Uang Rupiah tetap bergerak sesuai dengan fundamentalnya.

Pelaku pasar diprediksi akan tetap dalam posisi hati-hati (wait and see) sepanjang hari ini, dengan proyeksi pergerakan Rupiah berada di rentang Rp16.850 hingga Rp17.075 per dolar AS.

PENAFIAN

Artikel ini diolah dan disusun oleh kecerdasan buatan (AI) dan telah melalui proses penyuntingan serta verifikasi fakta oleh redaksi.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya