Headline

Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.

Rupiah Berpotensi Fluktuatif di Level Rp17.000 Jelang Libur Panjang Lebaran

Basuki Eka Purnama
18/3/2026 06:20
Rupiah Berpotensi Fluktuatif di Level Rp17.000 Jelang Libur Panjang Lebaran
Petugas menunjukkan pecahan mata uang dolar Amerika Serikat dan mata uang Rupiah di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta, Selasa (10/3/2026).(ANTARA/Muhammad Adimaja)

NILAI tukar mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi akan bergerak dinamis dengan kecenderungan melemah terbatas pada perdagangan Rabu, 18 Maret 2026. Pergerakan ini merupakan respons pasar setelah Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) di level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berakhir Selasa kemarin.

Sentimen utama yang membayangi mata uang Garuda adalah ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang telah memasuki minggu ketiga. Konflik ini memicu kekhawatiran gangguan pasokan minyak di Selat Hormuz, yang berpotensi mendongkrak inflasi global dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.

Hasil RDG Bank Indonesia Maret 2026

Berdasarkan data resmi Bank Indonesia per 17 Maret 2026, berikut adalah rincian kebijakan moneter terbaru:

  • BI-Rate: 4,75% (Tetap)
  • Deposit Facility: 3,75% (Tetap)
  • Lending Facility: 5,50% (Tetap)

Keputusan ini diambil sebagai langkah preventif untuk memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah dari dampak memburuknya kondisi global akibat perang di Timur Tengah serta menjaga pencapaian sasaran inflasi 2026-2027 dalam rentang 2,5±1%.

Perbandingan Kurs Rupiah (Data Terakhir 17 Maret 2026)

Indikator Kurs Nilai (Per Dolar AS) Status
Kurs Spot (Penutupan) Rp16.997 Stagnan
Kurs JISDOR BI Rp16.982 Menguat Tipis
Proyeksi 18 Maret 2026 Rp16.950 - Rp17.050 Fluktuatif
Catatan Redaksi: Nilai tukar mata uang Rupiah bersifat fluktuatif dan dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti dinamika pasar global dan domestik.

Faktor Penentu Pergerakan Rupiah Hari Ini

1. Eskalasi Konflik Timur Tengah

Pasar masih mencermati dampak perang terhadap harga minyak mentah dunia. Kenaikan harga energi yang signifikan menjadi beban berat bagi neraca perdagangan Indonesia sebagai importir minyak, yang pada akhirnya menekan cadangan devisa.

2. Penantian Kebijakan The Fed

Pelaku pasar bersikap wait and see terhadap panduan kebijakan bank sentral AS (The Fed). Jika The Fed kembali menegaskan kebijakan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama (higher for longer), maka dolar AS berpeluang melanjutkan penguatannya.

3. Sentimen Domestik & Libur Lebaran

Menjelang libur panjang Idulfitri 2026 yang dimulai akhir pekan ini, aktivitas transaksi di pasar reguler cenderung melandai. Namun, analis memperingatkan adanya potensi volatilitas tinggi karena kebutuhan valas masyarakat untuk keperluan mudik dan liburan meningkat.

PENAFIAN

Artikel ini diolah dan disusun oleh kecerdasan buatan (AI) dan telah melalui proses penyuntingan serta verifikasi fakta oleh redaksi.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik