Headline

Pesan Presiden ialah efisiensi dimulai dari level atas.

Suku Bunga BI Tetap 4,75%, Ekonom: Upaya Menjaga Stabilitas Rupiah

Ihfa Firdausya
17/3/2026 15:52
Suku Bunga BI Tetap 4,75%, Ekonom: Upaya Menjaga Stabilitas Rupiah
ilustrasi(Antara)

Ekonom PT Bank Danamon Indonesia Tbk Hosianna Evalita Situmorang mengamini keputusan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan BI di 4,75% dilakukan untuk menguatkan stabilitas rupiah. Ia juga melihat sikap kebijakan BI untuk tidak lagi menekankan ruang untuk penurunan suku bunga, tetapi memprioritaskan stabilitas rupiah sebagai jangkar utama di tengah meningkatnya volatilitas global.

“Secara keseluruhan, kalibrasi kebijakan sekarang condong kuat ke arah stabilitas rupiah daripada pelonggaran suku bunga, sambil mempertahankan likuiditas yang cukup untuk mendukung pertumbuhan,” katanya dalam keterangan yang diterima, Selasa (17/3).

Guncangan eksternal tersebut berasal dari konflik Timur Tengah yang memicu kenaikan harga minyak, memperkuat US dolar, dan mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS lebih tinggi. Hal itu memicu arus keluar modal dan tekanan terhadap rupiah.

BI merespons dengan intervensi valuta asing yang intensif (spot, DNDF, NDF luar negeri), perluasan pembelian SBN di pasar sekunder, dan insentif likuiditas yang ditargetkan (KLM) untuk menstabilkan pasar tanpa mengganggu pertumbuhan kredit.

Mulai April 2026, BI akan memperketat regulasi valuta asing: pembelian tunai individu dibatasi hingga US$50.000/bulan (dari US$100.000), ambang batas DNDF/forward dinaikkan menjadi US$10 juta, batas swap digandakan menjadi US$10 juta per transaksi, dan dokumentasi yang lebih ketat untuk transfer keluar di atas US$50.000.

“Langkah-langkah ini bertujuan untuk mengekang aliran spekulatif, memperdalam pasar valuta asing domestik, dan meningkatkan transparansi,” kata Hosianna.

Inflasi melambat menjadi 4,76% yoy pada Februari 2026 (inti: 2,63%), terutama didorong oleh efek basis dan volatilitas harga pangan. BI memperkirakan inflasi akan tetap berada dalam target 2,5%±1, meskipun harga pangan dan pupuk global menimbulkan risiko kenaikan. 


Dari sisi fiskal, SAL diperkirakan akan menurun menjadi Rp175 triliun setelah pembiayaan defisit dan penempatan Rp201 triliun di Himbara. “Berdasarkan skenario harga minyak US$97/bbl; Rp17.300/US$), defisit mungkin melebar menjadi sekitar 3,53% dari PDB (sekitar Rp110 triliun), tetapi tetap terkendali dalam batas cadangan yang ada,” katanya.

“Cadangan devisa (sekitar US$151,9 miliar; 6,1 bulan impor) memberikan bantalan eksternal yang kuat, meskipun defisit transaksi berjalan mungkin melebar menjadi 0,9%–1,0% dari PDB,” pungkasnya. (E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya