Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Gelar Simulasi Gempa, Siswa SMP di Lembang Dilatih Hadapi Sesar Lembang

Depi Gunawan
21/1/2026 19:26
Gelar Simulasi Gempa, Siswa SMP di Lembang Dilatih Hadapi Sesar Lembang
Siswa dan guru SMP Negeri I Lembang, Kabupaten Bandung Barat, mengikuti simulasi menghadapi gempa bumi.(MI/DEPI GUNAWAN)

KEPANIKAN melanda ratusan siswa dan guru SMPN 1 Lembang, Kabupaten Bandung Barat, saat guncangan gempa terasa di dalam ruang kelas, Rabu (21/1). Suasana belajar mengajar pun mendadak berubah mencekam.

Di tengah kepanikan, guru dan petugas sekolah bertindak sigap. Seorang guru memukul kentungan sebagai tanda peringatan agar siswa segera menyelamatkan diri.

Para siswa pun serentak berlindung di bawah meja sebelum akhirnya dievakuasi keluar kelas menuju titik kumpul. Setelah guncangan berhenti, ratusan siswa dikumpulkan di lapangan sekolah.

Namun kepanikan belum sepenuhnya mereda, sebab masih terdapat siswa yang terjebak di dalam kelas. Petugas bersama beberapa siswa segera melakukan evakuasi menggunakan tandu.

Bahkan, seorang siswa harus dievakuasi dengan teknik vertical rescue lantaran mengalami cedera di lantai atas gedung sekolah.

Peristiwa tersebut bukanlah bencana yang sesungguhnya. Seluruh rangkaian kejadian merupakan bagian dari latihan kesiapsiagaan menghadapi gempa bumi yang digelar SMPN 1 Lembang bekerja sama dengan Relawan Penanggulangan Bencana Lembang (RPBL).

Kepala SMPN 1 Lembang, Ai Nurhayati mengatakan, pentingnya simulasi gempa mengingat lingkungan sekolah berada di kawasan rawan gempa Sesar Lembang.

"Kami sudah sering mendengar tentang Sesar Lembang dan potensi bahayanya. Dengan jumlah siswa sekitar 1.200 orang, paling tidak anak-anak tidak panik ketika terjadi bencana dan tahu bagaimana melindungi diri," ungkapnya.


Praktik langsung


Dalam kegiatan tersebut, siswa dan guru tidak hanya menerima materi tentang berbagai jenis kebencanaan, tetapi juga mengikuti praktik langsung di lapangan. Tujuannya agar mereka memiliki pengalaman nyata dan tidak menjadi korban ketika bencana benar-benar terjadi.

"Harapannya, sekolah memiliki kesiapan yang lebih baik sehingga jika sewaktu-waktu terjadi bencana, risiko yang timbul dapat diminimalisir," jelasnya.

Ai menambahkan, kegiatan mitigasi bencana rutin dilaksanakan setiap tahun, bahkan bisa dilakukan hingga dua kali dalam setahun. Dengan begitu, siswa, guru, dan tenaga kependidikan memahami langkah-langkah penyelamatan diri secara mandiri.

"Edukasi ini juga diharapkan bisa disampaikan siswa kepada orangtua, adik, dan keluarga di rumah masing-masing," tuturnya.

Sementara itu, Ketua RPBL Anna Joestiana menilai, edukasi kebencanaan sangat penting diberikan sejak usia sekolah guna membentuk generasi yang tangguh menghadapi bencana.

"Sekolah merupakan wilayah rentan gempa, apalagi jarak dari pusat Sesar Lembang ke sekolah ini hanya sekitar satu kilometer," ungkapnya.

Ia mengaku bangga melihat antusiasme seluruh siswa yang terlibat aktif dalam simulasi tersebut. Pemahaman dasar tentang kebencanaan sangat penting dalam meminimalisir risiko korban.

"Kegiatan ini akan terus dilaksanakan ke sekolah-sekolah lain. Dengan meningkatkan kewaspadaan, risiko timbulnya korban dapat ditekan semaksimal mungkin," pungkasnya.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Sugeng
Berita Lainnya

Bisnis

Wisata
Kuliner