Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
BERGULIRNYA program pemerintah untuk mengurangi tenaga honorer melalui
program cleansing mendapat tanggapan beragam dari dunia Pendidikan di Bandung, Jawa Barat.
Seperti yang dikatakan Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan
Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Prof Didi Sukyadi menilai program cleansing yang dilakukan demi ketertiban cukup bagus.
Pasalnya, saat ini banyak guru dari latar belakang beragam yang bekerja tanpa adanya seleksi perekrutan pengajar.
"Bukan salah sekolahnya. Ini karena kemampuan anggaran yang
terbatas yang akhirnya diangkat menjadi honorer. Paling tepat ya melalui kualifikasi semisal proses CPNS atau PPPK. Namun, kalau yang diangkat oleh kepsek, saya pikir itu kurang ketat dibanding proses CPNS atau PPPK," tandasnya.
Baca juga : Cleansing Guru Honorer, DPR RI Minta Solusi Adil Pemerintah
Selain itu, lanjut dia, pemerintah perlu mencarikan solusi terbaik untuk pemenuhan kebutuhan guru. Anggaran besar perlu dialokasikan untuk CPNS dan PPPK, sehingga tak perlu lagi lewat jalan lain.
Namun, honorer yang sudah ada dan mengabdi tak bagus jika langsung di-PHK begitu saja. "Harus ada cara-cara yang baik, misal memberikan penahapan. Lalu, kepala sekolah dan kepala dinas pendidikan perlu diberikan teguran kalau melanggar. Jika menangani masalah ini tidak tegas maka tak akan selesai masalah honorer dan itu pun berlaku untuk status sekolah negeri," tambahnya.
Diskriminatif
Baca juga : PDIP Tolak Kebijakan Pemprov DKI Jakarta Cleansing Guru Honorer
Sementara itu pengamat pendidikan UPI, Prof Cecep Darmawan menilai
program cleansing guru honorer sangat diskriminatif. "Saya mengutuk
program tersebut yang memang sangat diskriminatif dan tidak
berperikemanusiaan."
Cecep turut prihatin terhadap keputusan penghapusan guru honorer oleh
pemerintah. Jelas kebijakan ini memiliki kelemahan signifikan, terutama
karena pemerintah belum secara menyeluruh menyisir dan mendata para guru honorer.
Namun pada kenyataannya, masalah yang terjadi pemerintah belum
menyisir honorer karena sekolah tidak boleh mengangkat honorer.
Baca juga : Langkah Awal Mengubah Dunia
"Sisanya ini, ada yang terdata, ada yang belum (terdaftar). Kasihan ini
yang belum terdaftar, akhirnya mereka harus mengundurkan diri. Hemat
saya, pemberhentian yang dilakukan oleh pemerintah ini, tidak jelas
ujung pangkalnya. Ini benar-benar merendahkan profesi guru," tegasnya.
Cecep menegaskan, pemerintah harus tanggung jawab bila mengeluarkan guru honorer. Dengan artian, sekolah akan kekurangan guru dan ini sangat tidak adil.
Pertama, dari sisi yang bersangkutan, kedua dari sisi sekolahnya. "Saya meminta pemerintah membatalkan program cleasning bagi guru honorer dan mengangkat guru honorer jadi ASN," sambungnya.
Penguatan UMKM harus dimulai dari komitmen pemerintah daerah sendiri melalui kebijakan belanja yang berpihak kepada pelaku usaha lokal.
Pengemudi dum truk melarikan diri setelah insiden kecelakaan.
Dari 2.772 kios di pasar itu, masih tersisa 1.772 kios yang bertahan berjualan.
Pelaku mengincar harta benda milik korban yang merupakan mantan Pekerja Migran Indonesia (PMI).
Keberhasilan program pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada kebijakan di tingkat kota, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif dari kelurahan hingga RW.
Penerimaan pajak dari sektor pariwisata tercatat jauh lebih tinggi dibandingkan sektor pertambangan yang hanya menyumbang Rp3,073 miliar.
Kepercayaan masyarakat terhadap gerakan filantropi harus bersinergi dan dimanfaatkan untuk bersama-sama mewujudkan kemakmuran masyarakat
Pendidikan karakter harus ditonjolkan, untuk membentuk budaya baik bagi generasi masa depan.
GUNA mendorong kemandirian para ibu rumah tangga, Yayasan Indonesia Setara (YIS) bersama Rumah Zakat menggelar Pelatihan Tata Boga Pembuatan Talam Singkong dan Muffin Pisang.
Pemerintah daerah selama ini terus mendorong kawasan objek wisata agar menjadi primadona bagi para pelancong, baik dari dalam maupun luar daerah.
Masalah terbesar Kota Bandung saat ini adalah sampah. Setiap hari ada sekitar 1.500 ton timbulan sampah baru. Ini tidak mungkin dibiarkan begitu saja.
PIP sangat membantu untuk memenuhi kebutuhan sekolah anaknya, mulai dari tas, sepatu, seragam hingga buku pelajaran.
Petugas PT Kereta Api Indonesia sudah menawarkan untuk pengembalian bea pembelian tiket atau menukar jadwal keberangkatan
Serangan hama terjadi di lahan sawah yang berada di Kampung Pasirangin, Babakan, Pasirmalaka, Pasirkunci, dan Pasirsasaungan.
Rekayasa pola operasi tersebut dilakukan karena kondisi genangan air menyebabkan kelambatan perjalanan kereta api yang sangat tinggi
Kegiatan ini diikuti oleh 2.500 peserta yang terdiri dari prajurit TNI, Polri serta masyarakat umum
Upaya tersebut dilakukan untuk menghidupkan kembali nilai sejarah sekaligus mendorong pemanfaatan budaya sebagai kekuatan pembangunan daerah.
Kehadiran ratusan alumni menjadi bukti bahwa semangat persaudaraan masih terjaga dengan kuat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved