Headline

Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.

Surat Ath-Thur Simpan Rahasia Besar di Balik Sumpah Allah

Media Indonesia
25/2/2026 06:05
Surat Ath-Thur Simpan Rahasia Besar di Balik Sumpah Allah
Ilustrasi.(Freepik)

SURAT Ath-Thur adalah surat ke-52 pada juz 27 dalam Al-Qur'an yang terdiri dari 49 ayat. Termasuk dalam golongan Makkiyah, surat ini diturunkan di Mekah sebagai penegas kebenaran wahyu Allah di tengah penolakan kaum kafir Quraisy.

Nama Ath-Thur sendiri diambil dari ayat pertama yang berarti Demi Bukit. Ini merujuk pada Bukit Sinai yang bersejarah. Simak penjelasan lebih lanjut.

Asbabun Nuzul Surat Ath-Thur

Latar belakang atau asbabun nuzul turunnya Surat Ath-Thur berkaitan erat dengan penolakan kaum musyrikin Mekah terhadap kenabian Muhammad SAW. Mereka melontarkan berbagai tuduhan keji, menyebut Rasulullah sebagai tukang tenung, orang gila, hingga penyair yang mencari ketenaran.

Melalui surat ini, Allah SWT membantah tuduhan tersebut secara telak. Allah bersumpah dengan berbagai makhluk-Nya yang agung untuk menyatakan bahwa azab bagi mereka yang mendustakan kebenaran pasti akan terjadi, dan Al-Qur'an adalah kebenaran mutlak yang tidak dapat diganggu gugat.

Kandungan dan Pesan Utama

1. Kepastian Hari Pembalasan

Surat ini dibuka dengan rentetan sumpah Allah demi Bukit Sinai, Kitab yang tertulis pada lembaran yang terbuka, Baitul Ma'mur (kakbah di langit), langit yang ditinggikan, dan laut yang di dalam tanahnya ada api. Inti dari sumpah ini adalah penegasan bahwa azab Allah tidak akan bisa dihindari oleh siapapun yang ingkar.

2. Keadilan Allah bagi Orang Beriman

Salah satu poin menyentuh dalam Surat Ath-Thur adalah janji Allah untuk mengumpulkan orang-orang beriman bersama keturunan mereka di surga, asalkan keturunan mereka juga mengikuti jejak keimanan orangtua mereka. Ini menunjukkan betapa besarnya rahmat Allah bagi keluarga yang taat.

Pesan Kunci Ayat 21: Allah tidak akan mengurangi sedikit pun pahala amal kebaikan seseorang, dan Dia akan menghubungkan anggota keluarga yang beriman di dalam surga-Nya.

3. Tantangan Logika Ketauhidan

Pada ayat 35-36, Allah memberikan tantangan logika kepada manusia, "Apakah mereka diciptakan tanpa ada sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan diri mereka sendiri? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu?" Pertanyaan ini memaksa akal manusia untuk mengakui adanya Sang Pencipta (Khalik).

Baca juga: Prediksi Lailatul Qadar dari Imam Al-Ghazali, Asy-Syadzili, dan Al-Bajuri

Keutamaan Membaca Surat Ath-Thur

  • Menumbuhkan Rasa Takut kepada Allah (Khauf): Memahami ancaman azab dalam surat ini membuat seorang muslim lebih berhati-hati dalam bertindak di dunia.
  • Harapan akan Kenikmatan Akhirat: Penjelasan detail mengenai pelayan surga dan hidangan surgawi memberikan motivasi untuk istikamah dalam ibadah.
  • Mengikuti Sunnah Rasulullah: Rasulullah SAW sesekali membaca surat ini dalam salat wajib, yang menunjukkan betapa pentingnya pesan yang terkandung di dalamnya untuk didengarkan oleh umat.
  • Syafaat di Hari Kiamat: Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa konsistensi membaca surat-surat dalam Al-Qur'an, termasuk Ath-Thur, akan menjadi pembela bagi pembacanya di akhirat kelak.

Baca juga: Rumus Imam Al-Ghazali Puasa Ramadan Mulai Kamis, Kapan Lailatul Qadar

Dilansir dari abusyuja.com, ada sejumlah fadhilah dan khasiat dari Surat Ath-Thur. Berikut penjelasannya.

1. Surat Ath-Thur termasuk Al-Mufashshal yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai tambahan, sehingga beliau diberi keutamaan dibandingkan dengan nabi-nabi yang lain.

2. Wasilah memperoleh kebaikan di dunia dan di akhirat.

Rasulullah SAW pernah bersabda, "Barangsiapa yang membaca Surat Ath-Thur, Allah akan mengumpulkan untuknya kebaikan di dunia dan di akhirat." (Tsawabul A’mal: 145)

Baca juga: Prediksi Lailatul Qadar Menurut Imam As-Syadzili saat Puasa Mulai Kamis

3. Wasilah memperoleh keamanan dari azab Allah, memperoleh kenikmatan di surga, dan kemudahan melepaskan diri dari penjara.

Nabi SAW pernah bersabda, "Barangsiapa yang membaca surat ini (Surat Ath-Thur), hak bagi Allah memberinya keamanan dari azab-Nya, memberinya kenikmatan di surga-Nya. Dan barangsiapa yang membacanya secara terus-menerus, jika ia ditahan, dirantai, dan dipenjara, Allah akan memudahkannya untuk melepaskan diri, meski ia melakukan tindakan kejahatan." (Tafsirul Burhan, Juz 7: 328)

4. Surat Ath-Thur juga baik dijadikan doa ketika sedang dalam perjalanan agar terhindar dari segala sesuatu yang tidak diinginkan (keburukan) serta mengobati luka bekas gigitan kalajengking. Insya Allah, dengan izin Allah.

Baca juga: Asmaul Husna Al-Muakhir Rahasia Allah Menunda Sesuatu demi Kebaikan Hamba

Tabel Informasi Ringkas Surat Ath-Thur

Detail Keterangan
Nomor Surat 52
Arti Nama Bukit / Gunung
Jumlah Ayat 49 Ayat
Klasifikasi Makkiyah

Pertanyaan Sering Diajukan

Apa yang dimaksud dengan Baitul Ma'mur dalam Surat Ath-Thur?

Baitul Ma'mur adalah tempat ibadah para malaikat di langit ketujuh yang posisinya sejajar dengan Kakbah di bumi. Setiap hari, ada 70.000 malaikat yang masuk ke sana untuk beribadah dan tidak pernah kembali lagi (berganti dengan malaikat lain) hingga hari kiamat.

Baca juga: Tujuh Surat dalam Juz 27 dari Adz-Dzariyat Ayat 31 sampai Al-Hadid

Mengapa Bukit Sinai (Ath-Thur) begitu istimewa?

Bukit Sinai adalah tempat Nabi Musa AS menerima wahyu langsung dari Allah SWT (Taurat). Penyebutan bukit ini di awal surat menunjukkan kemuliaan tempat-tempat yang menjadi saksi turunnya wahyu Ilahi.

Apa arti dari Al-Bahrul Masjur dalam Surat Ath-Thur?

Al-Bahrul Masjur secara harfiah berarti laut yang dipanaskan atau laut yang di dalam tanahnya ada api. Secara saintifik, ini sering dikaitkan dengan aktivitas vulkanik di dasar samudera (hydrothermal vents) yang mengeluarkan panas luar biasa.

Baca juga: Urutan 30 Surat Juz Amma Lengkap Arab, Latin, dan Arti

Di mana letak Bukit Ath-Thur?

Bukit Ath-Thur atau Gunung Sinai terletak di Semenanjung Sinai, Mesir. Tempat ini sangat sakral karena menjadi lokasi dialog Nabi Musa AS dengan Allah SWT.

Mengapa Surat Ath-Thur disebut surat Makkiyah?

Karena diturunkan sebelum peristiwa Hijrah. Fokus utamanya adalah penguatan akidah, pembahasan hari kiamat, dan bantahan terhadap kesyirikan kaum Quraisy.

Baca juga: Bacaan Doa Sayyidul Istighfar Arab, Latin, dan Arti

Kesimpulan

Surat Ath-Thur bukan sekadar bacaan ritual, melainkan panduan logika dan spiritual bagi setiap muslim. Dengan memahami asbabun nuzul dan kandungan maknanya, kita diajak untuk memperkuat iman, menjaga keluarga dalam ketaatan, dan selalu bersiap menghadapi hari esok yang abadi di akhirat.

Daftar Tadabbur Surat Ath-Thur

  • Membaca rutin minimal satu kali seminggu (disarankan saat salat Maghrib atau Isya).
  • Memahami arti ayat 35-36 untuk memperkuat logika ketauhidan.
  • Mendoakan keluarga agar bisa berkumpul bersama di surga kelak (sesuai pesan ayat 21). (I-2)

Baca juga: Kumpulan Surat Pendek yang Mudah Dihafal

PENAFIAN

Artikel ini diolah dan disusun oleh kecerdasan buatan (AI) dan telah melalui proses penyuntingan serta verifikasi fakta oleh redaksi.

Surat At-Thur dalam Bahasa Arab, Latin, dan Terjemahan 

وَالطُّوْرِۙ ۝١ 

wath-thûr 

Demi gunung (Sinai),

وَكِتٰبٍ مَّسْطُوْرٍۙ ۝٢ 

wa kitâbim masthûr 

demi Kitab yang ditulis

فِيْ رَقٍّ مَّنْشُوْرٍۙ ۝٣ 

fî raqqim mansyûr 

pada lembaran yang terbuka,

وَّالْبَيْتِ الْمَعْمُوْرِۙ ۝٤ 

wal-baitil-ma‘mûr 

demi Baitulmakmur,

وَالسَّقْفِ الْمَرْفُوْعِۙ ۝٥ 

was-saqfil-marfû‘ 

demi atap yang ditinggikan (langit),

وَالْبَحْرِ الْمَسْجُوْرِۙ ۝٦ 

wal-baḫril-masjûr 

dan demi lautan yang dipanaskan (di dalamnya ada api),

اِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ لَوَاقِعٌۙ ۝٧ 

inna ‘adzâba rabbika lawâqi‘ 

sesungguhnya azab Tuhanmu pasti terjadi.

مَّا لَهٗ مِنْ دَافِعٍۙ ۝٨

mâ lahû min dâfi‘ 

Tidak ada sesuatu pun yang dapat menolaknya.

يَّوْمَ تَمُوْرُ السَّمَاۤءُ مَوْرًاۙ ۝٩ 

yauma tamûrus-samâ'u maurâ 

(Azab Tuhanmu terjadi) pada hari (ketika) langit berguncang sekeras-kerasnya

وَّتَسِيْرُ الْجِبَالُ سَيْرًاۗ ۝١٠ 

wa tasîrul-jibâlu sairâ 

dan gunung-gunung bergerak dengan dahsyat.

فَوَيْلٌ يَّوْمَىِٕذٍ لِّلْمُكَذِّبِيْنَۙ ۝١١ 

fa wailuy yauma'idzil lil-mukadzdzibîn 

Maka, pada hari itu celakalah orang-orang yang mendustakan,

الَّذِيْنَ هُمْ فِيْ خَوْضٍ يَّلْعَبُوْنَۘ ۝١٢ 

alladzîna hum fî khaudliy yal‘abûn 

(yaitu) orang-orang yang bermain-main dalam kebatilan (perbuatan dosa).

يَوْمَ يُدَعُّوْنَ اِلٰى نَارِ جَهَنَّمَ دَعًّاۗ ۝١٣ 

yauma yuda‘‘ûna ilâ nâri jahannama da‘‘â 

(Azab Tuhanmu terjadi) pada hari (ketika) mereka dicampakkan ke neraka Jahanam dengan sekuat-kuatnya.

هٰذِهِ النَّارُ الَّتِيْ كُنْتُمْ بِهَا تُكَذِّبُوْنَ ۝١٤ 

hâdzihin-nârullatî kuntum bihâ tukadzdzibûn 

(Dikatakan kepada mereka,) “Inilah neraka yang dahulu kamu dustakan.”

اَفَسِحْرٌ هٰذَآ اَمْ اَنْتُمْ لَا تُبْصِرُوْنَ ۝١٥

a fa siḫrun hâdzâ am antum lâ tubshirûn

Apakah ini sihir? Ataukah kamu tidak melihat?

اِصْلَوْهَا فَاصْبِرُوْٓا اَوْ لَا تَصْبِرُوْاۚ سَوَاۤءٌ عَلَيْكُمْۗ اِنَّمَا تُجْزَوْنَ مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ۝١٦

ishlauhâ fashbirû au lâ tashbirû, sawâ'un ‘alaikum, innamâ tujzauna mâ kuntum ta‘malûn

Masuklah ke dalamnya (dan rasakan panas apinya)! Baik kamu bersabar atau tidak, sama saja (tidak ada manfaatnya)bagimu. Sesungguhnya kamu hanya diberi balasan atas apa yang telah kamu kerjakan.

اِنَّ الْمُتَّقِيْنَ فِيْ جَنّٰتٍ وَّنَعِيْمٍۙ ۝١٧

innal-muttaqîna fî jannâtiw wa na‘îm

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam surga dan kenikmatan.

فٰكِهِيْنَ بِمَآ اٰتٰىهُمْ رَبُّهُمْۚ وَوَقٰىهُمْ رَبُّهُمْ عَذَابَ الْجَحِيْمِ ۝١٨

fâkihîna bimâ âtâhum rabbuhum, wa waqâhum rabbuhum ‘adzâbal-jaḫîm

Mereka bersuka ria dengan apa yang Tuhan anugerahkan kepada mereka. Tuhan menjaga mereka dari azab (neraka) Jahim.

كُلُوْا وَاشْرَبُوْا هَنِيْۤئًا ۢ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَۙ ۝١٩

kulû wasyrabû hanî'am bimâ kuntum ta‘malûn

(Dikatakan kepada mereka,) “Makan dan minumlah dengan nikmat sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakan!”

مُتَّكِـِٕيْنَ عَلٰى سُرُرٍ مَّصْفُوْفَةٍۚ وَزَوَّجْنٰهُمْ بِحُوْرٍ عِيْنٍ ۝٢٠

muttaki'îna ‘alâ sururim mashfûfah, wa zawwajnâhum biḫûrin ‘în

Mereka bertelekan di atas dipan-dipan yang tersusun dan Kami menganugerahkan kepada mereka pasangan, yaitu bidadari yang bermata indah.

وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِاِيْمَانٍ اَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَآ اَلَتْنٰهُمْ مِّنْ عَمَلِهِمْ مِّنْ شَيْءٍۚ كُلُّ امْرِئٍ ۢ بِمَا كَسَبَ رَهِيْنٌ ۝٢١

walladzîna âmanû wattaba‘at-hum dzurriyyatuhum bi'îmânin alḫaqnâ bihim dzurriyyatahum wa mâ alatnâhum min ‘amalihim min syaî', kullumri'im bimâ kasaba rahîn

Orang-orang yang beriman dan anak cucunya mengikuti mereka dalam keimanan, Kami akan mengumpulkan anak cucunya itu dengan mereka (di dalam surga). Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal (kebajikan) mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya.

وَاَمْدَدْنٰهُمْ بِفَاكِهَةٍ وَّلَحْمٍ مِّمَّا يَشْتَهُوْنَ ۝٢٢

wa amdadnâhum bifâkihatiw wa laḫmim mimmâ yasytahûn

Kami menganugerahkan kepada mereka tambahan (kenikmatan) berupa buah-buahan dan daging dari segala jenis yang mereka inginkan.

يَتَنَازَعُوْنَ فِيْهَا كَأْسًا لَّا لَغْوٌ فِيْهَا وَلَا تَأْثِيْمٌ ۝٢٣

yatanâza‘ûna fîhâ ka'sal lâ laghwun fîhâ wa lâ ta'tsîm

Di dalam (surga) itu mereka saling mengulurkan gelas (yang isinya) tidak (menimbulkan) ucapan atau sikap yang tidak berfaedah dan tidak pula (menimbulkan) perbuatan dosa.

وَيَطُوْفُ عَلَيْهِمْ غِلْمَانٌ لَّهُمْ كَاَنَّهُمْ لُؤْلُؤٌ مَّكْنُوْنٌۚ ۝٢٤

wa yathûfu ‘alaihim ghilmânul lahum ka'annahum lu'lu'um maknûn

Di sekitar mereka ada anak-anak muda belia berkeliling untuk (melayani) mereka, seakan-akan (anak muda belia) itu bagaikan mutiara yang tersimpan.

وَاَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلٰى بَعْضٍ يَّتَسَاۤءَلُوْنَ ۝٢٥

wa aqbala ba‘dluhum ‘alâ ba‘dliy yatasâ'alûn

Sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain saling bertegur sapa.

قَالُوْٓا اِنَّا كُنَّا قَبْلُ فِيْٓ اَهْلِنَا مُشْفِقِيْنَ ۝٢٦

qâlû innâ kunnâ qablu fî ahlinâ musyfiqîn

Mereka berkata, “Sesungguhnya kami dahulu, sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami, adalah orang yang takut (ditimpa azab Allah).

فَمَنَّ اللّٰهُ عَلَيْنَا وَوَقٰىنَا عَذَابَ السَّمُوْمِ ۝٢٧

fa mannallâhu ‘alainâ wa waqânâ ‘adzâbas-samûm

Allah menganugerahkan karunia kepada kami dan menjaga kami dari azab neraka.

اِنَّا كُنَّا مِنْ قَبْلُ نَدْعُوْهُۗ اِنَّهٗ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيْمُ ۝٢٨

innâ kunnâ ming qablu nad‘ûh, innahû huwal-barrur-raḫîm

Sesungguhnya kami menyembah-Nya sejak dahulu. Sesungguhnya hanya Dialah Yang Mahaluas kebajikan-Nya lagi Maha Penyayang.”

فَذَكِّرْ فَمَآ اَنْتَ بِنِعْمَتِ رَبِّكَ بِكَاهِنٍ وَّلَا مَجْنُوْنٍۗ ۝٢٩

fa dzakkir fa mâ anta bini‘mati rabbika bikâhiniw wa lâ majnûn

(Wahai Nabi Muhammad,) teruslah menyampaikan peringatan karena berkat nikmat Tuhanmulah, engkau bukan seorang tukang tenung dan bukan pula orang gila!

اَمْ يَقُوْلُوْنَ شَاعِرٌ نَّتَرَبَّصُ بِهٖ رَيْبَ الْمَنُوْنِ ۝٣٠

am yaqûlûna syâ‘irun natarabbashu bihî raibal-manûn

Bahkan, mereka (orang musyrik Makkah) berkata, “Dia (Nabi Muhammad) adalah seorang penyair yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menimpanya.”

قُلْ تَرَبَّصُوْا فَاِنِّيْ مَعَكُمْ مِّنَ الْمُتَرَبِّصِيْنَۗ ۝٣١

qul tarabbashû fa innî ma‘akum minal-mutarabbishîn

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Tunggulah! Sesungguhnya aku pun termasuk orang yang sedang menunggu bersamamu.”

اَمْ تَأْمُرُهُمْ اَحْلَامُهُمْ بِهٰذَآ اَمْ هُمْ قَوْمٌ طَاغُوْنَۚ ۝٣٢

am ta'muruhum aḫlâmuhum bihâdzâ am hum qaumun thâghûn

Apakah mereka diperintah oleh pikiran-pikiran mereka untuk mengucapkan (tuduhan-tuduhan) ini atau apakah mereka kaum yang melampaui batas?

اَمْ يَقُوْلُوْنَ تَقَوَّلَهٗۚ بَلْ لَّا يُؤْمِنُوْنَۚ ۝٣٣

am yaqûlûna taqawwalah, bal lâ yu'minûn

Bahkan, apakah mereka (juga) berkata, “Dia (Nabi Muhammad) mereka-rekanya?” Tidak! Merekalah yang tidak beriman.

فَلْيَأْتُوْا بِحَدِيْثٍ مِّثْلِهٖٓ اِنْ كَانُوْا صٰدِقِيْنَۗ ۝٣٤ 

falya'tû biḫadîtsim mitslihî ing kânû shâdiqîn 

Cobalah mereka membuat yang semisal dengannya (Al-Qur’an) jika mereka orang-orang benar.

اَمْ خُلِقُوْا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ اَمْ هُمُ الْخٰلِقُوْنَۗ ۝٣٥ 

am khuliqû min ghairi syai'in am humul-khâliqûn 

Apakah mereka tercipta tanpa asal-usul ataukah mereka menciptakan (diri mereka sendiri)?

اَمْ خَلَقُوا السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَۚ بَلْ لَّا يُوْقِنُوْنَۗ ۝٣٦

am khalaqus-samâwâti wal-ardl, bal lâ yûqinûn 

Apakah mereka menciptakan langit dan bumi? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan).

اَمْ عِنْدَهُمْ خَزَاۤىِٕنُ رَبِّكَ اَمْ هُمُ الْمُصَۣيْطِرُوْنَۗ ۝٣٧

am ‘indahum khazâ'inu rabbika am humul-mushaithirûn

Apakah di sisi mereka ada perbendaharaan Tuhanmu ataukah mereka yang berkuasa?

اَمْ لَهُمْ سُلَّمٌ يَّسْتَمِعُوْنَ فِيْهِۚ فَلْيَأْتِ مُسْتَمِعُهُمْ بِسُلْطٰنٍ مُّبِيْنٍۗ ۝٣٨

am lahum sullamuy yastami‘ûna fîh, falya'ti mustami‘uhum bisulthânim mubîn

Apakah mereka mempunyai tangga (ke langit) untuk mendengarkan (hal-hal yang gaib)? Hendaklah orang yang mendengarkan di antara mereka itu datang membawa keterangan yang nyata.

اَمْ لَهُ الْبَنٰتُ وَلَكُمُ الْبَنُوْنَۗ ۝٣٩

am lahul-banâtu wa lakumul-banûn

Apakah (pantas) bagi-Nya anak-anak perempuan, sedangkan untuk kamu anak-anak laki-laki?

اَمْ تَسْـَٔلُهُمْ اَجْرًا فَهُمْ مِّنْ مَّغْرَمٍ مُّثْقَلُوْنَۗ ۝٤٠

am tas'aluhum ajran fa hum mim maghramim mutsqalûn

Apakah engkau (Nabi Muhammad) meminta imbalan kepada mereka sehingga mereka dibebani dengan utang?

اَمْ عِنْدَهُمُ الْغَيْبُ فَهُمْ يَكْتُبُوْنَۗ ۝٤١

am ‘indahumul-ghaibu fa hum yaktubûn

Apakah mereka mempunyai (pengetahuan) tentang yang gaib, lalu mereka menuliskannya?

اَمْ يُرِيْدُوْنَ كَيْدًاۗ فَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا هُمُ الْمَكِيْدُوْنَۗ ۝٤٢

am yurîdûna kaidâ, falladzîna kafarû humul-makîdûn

Apakah mereka hendak melakukan tipu daya? Justru orang-orang yang kufur itulah yang terkena tipu daya.

اَمْ لَهُمْ اِلٰهٌ غَيْرُ اللّٰهِۗ سُبْحٰنَ اللّٰهِ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ ۝٤٣

am lahum ilâhun ghairullâh, sub-ḫânallâhi ‘ammâ yusyrikûn

Apakah mereka mempunyai tuhan selain Allah? Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.

وَاِنْ يَّرَوْا كِسْفًا مِّنَ السَّمَاۤءِ سَاقِطًا يَّقُوْلُوْا سَحَابٌ مَّرْكُوْمٌ ۝٤٤ 

wa iy yarau kisfam minas-samâ'i sâqithay yaqûlû saḫâbum markûm 

Jika mereka melihat gumpalan-gumpalan awan berjatuhan dari langit, mereka berkata, “Itu adalah awan yang bertumpuk-tumpuk (yang akan menurunkan hujan).”

فَذَرْهُمْ حَتّٰى يُلٰقُوْا يَوْمَهُمُ الَّذِيْ فِيْهِ يُصْعَقُوْنَۙ ۝٤٥

fadzar-hum ḫattâ yulâqû yaumahumulladzî fîhi yush‘aqûn

Biarkanlah mereka (dalam kesesatan) hingga mereka menemui hari (yang dijanjikan kepada) mereka yang pada hari itu mereka dibinasakan,

يَوْمَ لَا يُغْنِيْ عَنْهُمْ كَيْدُهُمْ شَيْـًٔا وَّلَا هُمْ يُنْصَرُوْنَۗ ۝٤٦

yauma lâ yughnî ‘an-hum kaiduhum syai'aw wa lâ hum yunsharûn

(yaitu) pada hari (ketika) tipu daya mereka tidak berguna sedikit pun bagi mereka dan mereka tidak akan diberi pertolongan.

وَاِنَّ لِلَّذِيْنَ ظَلَمُوْا عَذَابًا دُوْنَ ذٰلِكَ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ ۝٤٧

wa inna lilladzîna dhalamû ‘adzâban dûna dzâlika wa lâkinna aktsarahum lâ ya‘lamûn

Sesungguhnya bagi orang-orang yang zalim ada azab selain itu, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.

وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَاِنَّكَ بِاَعْيُنِنَا وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ حِيْنَ تَقُوْمُۙ ۝٤٨

washbir liḫukmi rabbika fa innaka bi'a‘yuninâ wa sabbiḫ biḫamdi rabbika ḫîna taqûm

Bersabarlah (Nabi Muhammad) menunggu ketetapan Tuhanmu karena sesungguhnya engkau berada dalam pengawasan Kami! Bertasbihlah seraya bertahmid (memuji) Tuhanmu ketika engkau bangun!

وَمِنَ الَّيْلِ فَسَبِّحْهُ وَاِدْبَارَ النُّجُوْمِࣖ ۝٤٩

wa minal-laili fa sabbiḫ-hu wa idbâran-nujûm

Bertasbihlah kepada-Nya pada sebagian malam dan pada waktu terbenamnya bintang-bintang (waktu fajar).



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik