Headline
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Kumpulan Berita DPR RI
SURAT Ath-Thur adalah surat ke-52 pada juz 27 dalam Al-Qur'an yang terdiri dari 49 ayat. Termasuk dalam golongan Makkiyah, surat ini diturunkan di Mekah sebagai penegas kebenaran wahyu Allah di tengah penolakan kaum kafir Quraisy.
Nama Ath-Thur sendiri diambil dari ayat pertama yang berarti Demi Bukit. Ini merujuk pada Bukit Sinai yang bersejarah. Simak penjelasan lebih lanjut.
Latar belakang atau asbabun nuzul turunnya Surat Ath-Thur berkaitan erat dengan penolakan kaum musyrikin Mekah terhadap kenabian Muhammad SAW. Mereka melontarkan berbagai tuduhan keji, menyebut Rasulullah sebagai tukang tenung, orang gila, hingga penyair yang mencari ketenaran.
Melalui surat ini, Allah SWT membantah tuduhan tersebut secara telak. Allah bersumpah dengan berbagai makhluk-Nya yang agung untuk menyatakan bahwa azab bagi mereka yang mendustakan kebenaran pasti akan terjadi, dan Al-Qur'an adalah kebenaran mutlak yang tidak dapat diganggu gugat.
Surat ini dibuka dengan rentetan sumpah Allah demi Bukit Sinai, Kitab yang tertulis pada lembaran yang terbuka, Baitul Ma'mur (kakbah di langit), langit yang ditinggikan, dan laut yang di dalam tanahnya ada api. Inti dari sumpah ini adalah penegasan bahwa azab Allah tidak akan bisa dihindari oleh siapapun yang ingkar.
Salah satu poin menyentuh dalam Surat Ath-Thur adalah janji Allah untuk mengumpulkan orang-orang beriman bersama keturunan mereka di surga, asalkan keturunan mereka juga mengikuti jejak keimanan orangtua mereka. Ini menunjukkan betapa besarnya rahmat Allah bagi keluarga yang taat.
Pada ayat 35-36, Allah memberikan tantangan logika kepada manusia, "Apakah mereka diciptakan tanpa ada sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan diri mereka sendiri? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu?" Pertanyaan ini memaksa akal manusia untuk mengakui adanya Sang Pencipta (Khalik).
Baca juga: Prediksi Lailatul Qadar dari Imam Al-Ghazali, Asy-Syadzili, dan Al-Bajuri
Baca juga: Rumus Imam Al-Ghazali Puasa Ramadan Mulai Kamis, Kapan Lailatul Qadar
Dilansir dari abusyuja.com, ada sejumlah fadhilah dan khasiat dari Surat Ath-Thur. Berikut penjelasannya.
1. Surat Ath-Thur termasuk Al-Mufashshal yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai tambahan, sehingga beliau diberi keutamaan dibandingkan dengan nabi-nabi yang lain.
2. Wasilah memperoleh kebaikan di dunia dan di akhirat.
Rasulullah SAW pernah bersabda, "Barangsiapa yang membaca Surat Ath-Thur, Allah akan mengumpulkan untuknya kebaikan di dunia dan di akhirat." (Tsawabul A’mal: 145)
Baca juga: Prediksi Lailatul Qadar Menurut Imam As-Syadzili saat Puasa Mulai Kamis
3. Wasilah memperoleh keamanan dari azab Allah, memperoleh kenikmatan di surga, dan kemudahan melepaskan diri dari penjara.
Nabi SAW pernah bersabda, "Barangsiapa yang membaca surat ini (Surat Ath-Thur), hak bagi Allah memberinya keamanan dari azab-Nya, memberinya kenikmatan di surga-Nya. Dan barangsiapa yang membacanya secara terus-menerus, jika ia ditahan, dirantai, dan dipenjara, Allah akan memudahkannya untuk melepaskan diri, meski ia melakukan tindakan kejahatan." (Tafsirul Burhan, Juz 7: 328)
4. Surat Ath-Thur juga baik dijadikan doa ketika sedang dalam perjalanan agar terhindar dari segala sesuatu yang tidak diinginkan (keburukan) serta mengobati luka bekas gigitan kalajengking. Insya Allah, dengan izin Allah.
Baca juga: Asmaul Husna Al-Muakhir Rahasia Allah Menunda Sesuatu demi Kebaikan Hamba
| Detail | Keterangan |
|---|---|
| Nomor Surat | 52 |
| Arti Nama | Bukit / Gunung |
| Jumlah Ayat | 49 Ayat |
| Klasifikasi | Makkiyah |
Baitul Ma'mur adalah tempat ibadah para malaikat di langit ketujuh yang posisinya sejajar dengan Kakbah di bumi. Setiap hari, ada 70.000 malaikat yang masuk ke sana untuk beribadah dan tidak pernah kembali lagi (berganti dengan malaikat lain) hingga hari kiamat.
Baca juga: Tujuh Surat dalam Juz 27 dari Adz-Dzariyat Ayat 31 sampai Al-Hadid
Bukit Sinai adalah tempat Nabi Musa AS menerima wahyu langsung dari Allah SWT (Taurat). Penyebutan bukit ini di awal surat menunjukkan kemuliaan tempat-tempat yang menjadi saksi turunnya wahyu Ilahi.
Al-Bahrul Masjur secara harfiah berarti laut yang dipanaskan atau laut yang di dalam tanahnya ada api. Secara saintifik, ini sering dikaitkan dengan aktivitas vulkanik di dasar samudera (hydrothermal vents) yang mengeluarkan panas luar biasa.
Baca juga: Urutan 30 Surat Juz Amma Lengkap Arab, Latin, dan Arti
Bukit Ath-Thur atau Gunung Sinai terletak di Semenanjung Sinai, Mesir. Tempat ini sangat sakral karena menjadi lokasi dialog Nabi Musa AS dengan Allah SWT.
Karena diturunkan sebelum peristiwa Hijrah. Fokus utamanya adalah penguatan akidah, pembahasan hari kiamat, dan bantahan terhadap kesyirikan kaum Quraisy.
Baca juga: Bacaan Doa Sayyidul Istighfar Arab, Latin, dan Arti
Surat Ath-Thur bukan sekadar bacaan ritual, melainkan panduan logika dan spiritual bagi setiap muslim. Dengan memahami asbabun nuzul dan kandungan maknanya, kita diajak untuk memperkuat iman, menjaga keluarga dalam ketaatan, dan selalu bersiap menghadapi hari esok yang abadi di akhirat.
Baca juga: Kumpulan Surat Pendek yang Mudah Dihafal
PENAFIAN
Artikel ini diolah dan disusun oleh kecerdasan buatan (AI) dan telah melalui proses penyuntingan serta verifikasi fakta oleh redaksi.
wath-thûr
Demi gunung (Sinai),
wa kitâbim masthûr
demi Kitab yang ditulis
fî raqqim mansyûr
pada lembaran yang terbuka,
wal-baitil-ma‘mûr
demi Baitulmakmur,
was-saqfil-marfû‘
demi atap yang ditinggikan (langit),
wal-baḫril-masjûr
dan demi lautan yang dipanaskan (di dalamnya ada api),
inna ‘adzâba rabbika lawâqi‘
sesungguhnya azab Tuhanmu pasti terjadi.
mâ lahû min dâfi‘
Tidak ada sesuatu pun yang dapat menolaknya.
yauma tamûrus-samâ'u maurâ
(Azab Tuhanmu terjadi) pada hari (ketika) langit berguncang sekeras-kerasnya
wa tasîrul-jibâlu sairâ
dan gunung-gunung bergerak dengan dahsyat.
fa wailuy yauma'idzil lil-mukadzdzibîn
Maka, pada hari itu celakalah orang-orang yang mendustakan,
alladzîna hum fî khaudliy yal‘abûn
(yaitu) orang-orang yang bermain-main dalam kebatilan (perbuatan dosa).
yauma yuda‘‘ûna ilâ nâri jahannama da‘‘â
(Azab Tuhanmu terjadi) pada hari (ketika) mereka dicampakkan ke neraka Jahanam dengan sekuat-kuatnya.
hâdzihin-nârullatî kuntum bihâ tukadzdzibûn
(Dikatakan kepada mereka,) “Inilah neraka yang dahulu kamu dustakan.”
a fa siḫrun hâdzâ am antum lâ tubshirûn
Apakah ini sihir? Ataukah kamu tidak melihat?
ishlauhâ fashbirû au lâ tashbirû, sawâ'un ‘alaikum, innamâ tujzauna mâ kuntum ta‘malûn
Masuklah ke dalamnya (dan rasakan panas apinya)! Baik kamu bersabar atau tidak, sama saja (tidak ada manfaatnya)bagimu. Sesungguhnya kamu hanya diberi balasan atas apa yang telah kamu kerjakan.
innal-muttaqîna fî jannâtiw wa na‘îm
Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam surga dan kenikmatan.
fâkihîna bimâ âtâhum rabbuhum, wa waqâhum rabbuhum ‘adzâbal-jaḫîm
Mereka bersuka ria dengan apa yang Tuhan anugerahkan kepada mereka. Tuhan menjaga mereka dari azab (neraka) Jahim.
kulû wasyrabû hanî'am bimâ kuntum ta‘malûn
(Dikatakan kepada mereka,) “Makan dan minumlah dengan nikmat sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakan!”
muttaki'îna ‘alâ sururim mashfûfah, wa zawwajnâhum biḫûrin ‘în
Mereka bertelekan di atas dipan-dipan yang tersusun dan Kami menganugerahkan kepada mereka pasangan, yaitu bidadari yang bermata indah.
walladzîna âmanû wattaba‘at-hum dzurriyyatuhum bi'îmânin alḫaqnâ bihim dzurriyyatahum wa mâ alatnâhum min ‘amalihim min syaî', kullumri'im bimâ kasaba rahîn
Orang-orang yang beriman dan anak cucunya mengikuti mereka dalam keimanan, Kami akan mengumpulkan anak cucunya itu dengan mereka (di dalam surga). Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal (kebajikan) mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya.
wa amdadnâhum bifâkihatiw wa laḫmim mimmâ yasytahûn
Kami menganugerahkan kepada mereka tambahan (kenikmatan) berupa buah-buahan dan daging dari segala jenis yang mereka inginkan.
yatanâza‘ûna fîhâ ka'sal lâ laghwun fîhâ wa lâ ta'tsîm
Di dalam (surga) itu mereka saling mengulurkan gelas (yang isinya) tidak (menimbulkan) ucapan atau sikap yang tidak berfaedah dan tidak pula (menimbulkan) perbuatan dosa.
wa yathûfu ‘alaihim ghilmânul lahum ka'annahum lu'lu'um maknûn
Di sekitar mereka ada anak-anak muda belia berkeliling untuk (melayani) mereka, seakan-akan (anak muda belia) itu bagaikan mutiara yang tersimpan.
wa aqbala ba‘dluhum ‘alâ ba‘dliy yatasâ'alûn
Sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain saling bertegur sapa.
qâlû innâ kunnâ qablu fî ahlinâ musyfiqîn
Mereka berkata, “Sesungguhnya kami dahulu, sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami, adalah orang yang takut (ditimpa azab Allah).
fa mannallâhu ‘alainâ wa waqânâ ‘adzâbas-samûm
Allah menganugerahkan karunia kepada kami dan menjaga kami dari azab neraka.
innâ kunnâ ming qablu nad‘ûh, innahû huwal-barrur-raḫîm
Sesungguhnya kami menyembah-Nya sejak dahulu. Sesungguhnya hanya Dialah Yang Mahaluas kebajikan-Nya lagi Maha Penyayang.”
fa dzakkir fa mâ anta bini‘mati rabbika bikâhiniw wa lâ majnûn
(Wahai Nabi Muhammad,) teruslah menyampaikan peringatan karena berkat nikmat Tuhanmulah, engkau bukan seorang tukang tenung dan bukan pula orang gila!
am yaqûlûna syâ‘irun natarabbashu bihî raibal-manûn
Bahkan, mereka (orang musyrik Makkah) berkata, “Dia (Nabi Muhammad) adalah seorang penyair yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menimpanya.”
qul tarabbashû fa innî ma‘akum minal-mutarabbishîn
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Tunggulah! Sesungguhnya aku pun termasuk orang yang sedang menunggu bersamamu.”
am ta'muruhum aḫlâmuhum bihâdzâ am hum qaumun thâghûn
Apakah mereka diperintah oleh pikiran-pikiran mereka untuk mengucapkan (tuduhan-tuduhan) ini atau apakah mereka kaum yang melampaui batas?
am yaqûlûna taqawwalah, bal lâ yu'minûn
Bahkan, apakah mereka (juga) berkata, “Dia (Nabi Muhammad) mereka-rekanya?” Tidak! Merekalah yang tidak beriman.
falya'tû biḫadîtsim mitslihî ing kânû shâdiqîn
Cobalah mereka membuat yang semisal dengannya (Al-Qur’an) jika mereka orang-orang benar.
am khuliqû min ghairi syai'in am humul-khâliqûn
Apakah mereka tercipta tanpa asal-usul ataukah mereka menciptakan (diri mereka sendiri)?
am khalaqus-samâwâti wal-ardl, bal lâ yûqinûn
Apakah mereka menciptakan langit dan bumi? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan).
am ‘indahum khazâ'inu rabbika am humul-mushaithirûn
Apakah di sisi mereka ada perbendaharaan Tuhanmu ataukah mereka yang berkuasa?
am lahum sullamuy yastami‘ûna fîh, falya'ti mustami‘uhum bisulthânim mubîn
Apakah mereka mempunyai tangga (ke langit) untuk mendengarkan (hal-hal yang gaib)? Hendaklah orang yang mendengarkan di antara mereka itu datang membawa keterangan yang nyata.
am lahul-banâtu wa lakumul-banûn
Apakah (pantas) bagi-Nya anak-anak perempuan, sedangkan untuk kamu anak-anak laki-laki?
am tas'aluhum ajran fa hum mim maghramim mutsqalûn
Apakah engkau (Nabi Muhammad) meminta imbalan kepada mereka sehingga mereka dibebani dengan utang?
am ‘indahumul-ghaibu fa hum yaktubûn
Apakah mereka mempunyai (pengetahuan) tentang yang gaib, lalu mereka menuliskannya?
am yurîdûna kaidâ, falladzîna kafarû humul-makîdûn
Apakah mereka hendak melakukan tipu daya? Justru orang-orang yang kufur itulah yang terkena tipu daya.
am lahum ilâhun ghairullâh, sub-ḫânallâhi ‘ammâ yusyrikûn
Apakah mereka mempunyai tuhan selain Allah? Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.
wa iy yarau kisfam minas-samâ'i sâqithay yaqûlû saḫâbum markûm
Jika mereka melihat gumpalan-gumpalan awan berjatuhan dari langit, mereka berkata, “Itu adalah awan yang bertumpuk-tumpuk (yang akan menurunkan hujan).”
fadzar-hum ḫattâ yulâqû yaumahumulladzî fîhi yush‘aqûn
Biarkanlah mereka (dalam kesesatan) hingga mereka menemui hari (yang dijanjikan kepada) mereka yang pada hari itu mereka dibinasakan,
yauma lâ yughnî ‘an-hum kaiduhum syai'aw wa lâ hum yunsharûn
(yaitu) pada hari (ketika) tipu daya mereka tidak berguna sedikit pun bagi mereka dan mereka tidak akan diberi pertolongan.
wa inna lilladzîna dhalamû ‘adzâban dûna dzâlika wa lâkinna aktsarahum lâ ya‘lamûn
Sesungguhnya bagi orang-orang yang zalim ada azab selain itu, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.
washbir liḫukmi rabbika fa innaka bi'a‘yuninâ wa sabbiḫ biḫamdi rabbika ḫîna taqûm
Bersabarlah (Nabi Muhammad) menunggu ketetapan Tuhanmu karena sesungguhnya engkau berada dalam pengawasan Kami! Bertasbihlah seraya bertahmid (memuji) Tuhanmu ketika engkau bangun!
wa minal-laili fa sabbiḫ-hu wa idbâran-nujûm
Bertasbihlah kepada-Nya pada sebagian malam dan pada waktu terbenamnya bintang-bintang (waktu fajar).
Zakat adalah instrumen penting dalam Islam yang berfungsi membersihkan harta sekaligus menumbuhkan solidaritas sosial.
Pelajari makna mendalam, asbabun nuzul, kandungan pokok, dan keutamaan luar biasa membaca Surat Ash-Shaffat untuk perlindungan diri dan penguat iman.
Cek urutan surat Juz 21 sampai Juz 30 Al-Quran. Panduan batas ayat dan tips manajemen tilawah untuk target khatam Al-Quran hari ketiga.
Cek rincian daftar surat Juz 11 sampai Juz 20 Al-Quran. Panduan praktis batas ayat untuk target khatam Al-Quran dalam 3 hari.
Cek daftar lengkap surat Al-Quran mulai dari Juz 1 sampai Juz 10. Panduan rincian nama surat dan batas ayat untuk memudahkan tadarus dan hafalan Anda serta khatam tiga hari.
Ingin khatam Al-Quran dalam 3 hari? Simak metode pembagian juz harian, dalil hadits, serta teladan para sahabat dan generasi salaf di sini.
Pelajari makna mendalam, asbabun nuzul, kandungan pokok, dan keutamaan luar biasa membaca Surat Ash-Shaffat untuk perlindungan diri dan penguat iman.
Pelajari makna mendalam Surat Shad, sejarah asbabun nuzul penolakan kaum Quraisy, pesan kesabaran, hingga keutamaannya untuk keberkahan rezeki.
Pelajari makna mendalam Surat Az-Zumar, asbabun nuzul ayat 53 tentang rahmat Allah, pesan utama tauhid, serta keutamaan membacanya sebelum tidur.
Temukan makna mendalam Surat Ghafir, sejarah asbabun nuzul, pesan utama tentang tauhid, hingga keutamaan membacanya sebagai pelindung dan pembuka pintu doa.
Pelajari makna mendalam Surat Fushshilat, kisah asbabun nuzul Utbah bin Rabi'ah, pesan tentang istikamah, serta keutamaan membacanya bagi umat Muslim.
Pelajari makna mendalam Surat Asy-Syura, mulai dari sejarah asbabun nuzul, pokok kandungan tentang tauhid, hingga keutamaan membacanya bagi umat Muslim.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved