Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Apakah Malam Isra Mikraj Lebih Baik daripada Lailatul Qadar

Wisnu Arto Subari
18/1/2026 20:21
Apakah Malam Isra Mikraj Lebih Baik daripada Lailatul Qadar
Ilustrasi.(Freepik)

DUA malam istimewa dalam Islam sering disebut berdampingan yaitu Lailatul Qadar dan Lailatul Mi'raj (malam Isra Mikraj). Keduanya sama-sama agung, sama-sama bersejarah, tetapi kemuliaan dan keutamaannya berbeda arah.

Lailatul Qadar adalah malam turunnya wahyu yang mengubah nasib umat manusia. Lailatul Mi'raj adalah perjalanan malam agung Nabi yang mengubah arah ibadah umat Islam.

Memahami perbedaannya bukan untuk membandingkan mana yang lebih 'hebat', tetapi agar kita tahu memuliakan masing-masing malam sesuai kedudukannya. Berikut penjelasannya sebagaimana dilansir @mubtadiatlirboyo di Instagram.

Dari hadis yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam Syu'abul Īmān dari Abān dari Anas dalam Jalaluddin al-Suyuthi, Jami' al-Ahadits hal. 496, vol. 14.

من بقين لثلاث وذلك سنة مائة حسنات فيها للعامل يكتب ليلة رجب فى الكتاب فاتحة ركعة كل فى يقرأ ركعة عشرة اثنتى فيها صلى فمن رجب سبحان يقول ثم آخرهن فى ويسلم ركعتين كل فى يتشهد القرآن من وسورة مرة مائة الله ويستغفر مرة مائة أكبر والله الله إلا إله ولا لله والحمد الله دنياه أمر من شاء ما لنفسه ويدعو مرة مائة - 1 - النبى على ويصلى معصية فى يدعو أن إلا كله دعاءه يستجيب الله فإن صائما ويصبح وآخرته شعب فى البيهقى أخرجه أنس) عن أبان عن الإيمان شعب فى (البيهقى ذكره. ثم أضعف. بإسناد ذلك روى وقال: ٣٨١٢) رقم (٣٧٤/٣، الإيمان

"Di bulan Rajab terdapat satu malam, yang siapa saja beramal pada malam itu akan dituliskan baginya pahala seperti 100 tahun yaitu ketika tersisa tiga hari terakhir dari bulan Rajab (27 Rajab). Barang siapa melaksanakan salat pada malam itu sebanyak 12 rakaat, pada setiap rakaat membaca Al-Fatihah dan satu surat dari Al-Qur'an, bertasyahud pada setiap dua rakaat dan salam pada rakaat terakhir, kemudian membaca Subņanallah, Al-hamdulillah, La ilaha illallah, dan Allahu akbar masing-masing 100 kali, beristighfar 100 kali, berselawat kepada Nabi 100 kali, lalu berdoa untuk dirinya sendiri apa saja yang ia kehendaki dari urusan dunia dan akhirat, kemudian ia berpuasa di pagi harinya, maka Allah akan mengabulkan seluruh doanya, kecuali doa yang mengandung maksiat."

Hadis tersebut menegaskan bahwa beramal pada malam Isra' memperoleh pahala seperti 100 tahun. Sementara itu, Al-Qur'an secara eksplisit (sharih) menyatakan bahwa Lailatul Qadar lebih baik daripada 1.000 bulan. 

Jika dikalkulasikan secara kuantitatif, 1.000 bulan setara dengan 83 tahun 4 bulan. Sedangkan 100 tahun setara dengan 1.200 bulan. Dengan perhitungan matematis semata, keutamaan malam Isra' tampak lebih besar dibandingkan Lailatul Qadar.

Namun, kesimpulan ini bersifat lahiriah dan tidak dapat dijadikan dasar penetapan keutamaan secara syar'i. Pasalnya, keutamaan Lailatul Qadar ditetapkan secara qath'i oleh Al-Qur'an. Sedangkan keutamaan malam Isra' dalam konteks pahala tersebut bersumber dari riwayat yang tidak mencapai derajat sahih.

Baca juga: Mengapa Khadijah Wafat sebelum Isra Mikraj Ini Rahasia Allah

Imam al-Bulqini dalam qasidahnya memuji Nabi sebagai berikut.

أرضاكا الرب فيها القدر ليالي # فضلت ليلة فى رؤيته أولاك

"Engkau dianugerahi perjumpaan pada suatu malam. Malam yang melampaui kemuliaan malam-malam Qadar hingga di dalamnya Tuhanmu pun melimpahkan keridaan-Nya."

Dari bait syair tersebut dapat dipahami bahwa malam Isra' lebih utama daripada Lailatul Qadar. Barangkali hikmahnya sebagaimana disebutkan dalam kitab al-Istifta, karena malam tersebut mencakup peristiwa ru'yah (penglihatan) yang merupakan paling utamanya perkara.

Baca juga: Kisah Abu Thalib Wafat sebelum Isra Mikraj, Perisai Dakwah Berpulang

Oleh sebab itu, malam Isra' tidak dijadikan sebagai balasan atas suatu amal tertentu secara mutlak, melainkan Allah menganugerahkannya kepada hamba-hamba-Nya yang beriman pada hari Kiamat sebagai bentuk karunia semata dari-Nya.

Bagaimana maknanya yang benar? Ibnu Hajar (yang menukil dari al-Mahdawi) menjelaskan hal itu. 

"Jika yang dimaksud dengan lebih utama daripada Lailatul Qadar adalah malam Isra' beserta peringatannya yang berulang setiap tahun, sehingga beribadah dan berdoa pada malam tersebut dianggap lebih utama daripada Lailatul Qadar, pendapat ini batil dan tidak pernah diucapkan oleh seorang pun dari kalangan kaum muslimin."

Baca juga: Ujian Keimanan setelah Isra Mikraj, Belajar dari Abu Bakar

Namun, lanjut Ibnu Hajar, apabila yang dimaksud lebih utama di sini adalah malam tertentu ketika Nabi diisrä'kan, bukan malam-malamnya yang berulang setiap tahun, pada malam itu beliau memperoleh anugerah yang tidak beliau peroleh pada malam-malam lain tanpa disyariatkan pengkhususan qiyam atau bentuk ibadah tertentu, pemahaman itu dapat diterima, apabila terdapat dalil bahwa anugerah Allah kepada Nabi pada malam Isrä' lebih agung daripada anugerah-Nya berupa penurunan Al-Qur'an pada malam Lailatul Qadar. Akan tetapi, hal tersebut tidak dapat diketahui kecuali melalui wahyu dan tidak dibenarkan bagi seseorang berbicara tentangnya tanpa dasar ilmu. 

Ditambah lagi, ulama pun berbeda pendapat tentang waktu terjadi Isra' Mikraj, di antaranya Rabi'ul Awal, Ramadan, dan Syawal. Imam an-Nawawi dalam Raudhatut Thälibin memilih pendapat bahwa peristiwa tersebut terjadi pada bulan Rajab.

Baca juga: Alasan Allah Perjalankan Nabi Muhammad SAW dalam Isra Mikraj

Tidak pula diketahui ada seorang sahabat pun yang mengkhususkan malam Isra' dengan amalan tertentu. Meskipun peristiwa Isrā' termasuk di antara keutamaan terbesar Nabi SAW, beliau tidak mengistimewakan Gua Hirä' (tempat turunnya wahyu) dan tidak pula mengkhususkan hari dimulainya wahyu dengan suatu amalan tertentu.

Makna lahir dari penjelasan itu menunjukkan bahwa perselisihan hanya berkisar pada perbandingan antara malam tertentu terjadinya Isra' Nabi SAW dan malam Lailatul Qadar ketika Al-Qur'an diturunkan, sebagaimana ditunjukkan oleh perkataan, "Jika terdapat dalil bahwa anugerah Allah pada malam Isrā' lebih agung daripada anugerah-Nya berupa penurunan Al-Qur'an pada Lailatul Qadar."

Baca juga: Tafsir Ayat Isra Mikraj dari Ath-Thabari, Ibnu Katsir, Wahbah Zuhaili

Abu Umamah bin an-Naqqasy berkata:

أفضلُ القدر وليلة ، النبى حق فى القدر ليلة من أفضل الإسراء ليلة كان ممن سنةً ثمانين من أكثر عمل من خيرٌ لهم لأنها الأمة حق فى حديثٌ فيها العمل أرجحية فى يأت فلم الإسراء ليلة وأما ، قبلهم النبيّ. يبيّنها لم ولذلك ضعيف، ولا صحيح

"Malam Isra'--malam ketika Nabi SAW diisra'kan--lebih utama daripada Lailatul Qadar bagi Nabi. Sedangkan Lailatul Qadar lebih utama bagi umat, karena Lailatul Qadar bagi mereka lebih baik daripada amal lebih dari 80 tahun umat-umat sebelum mereka.

Adapun malam Isra', tidak terdapat satu pun hadis-baik sahih maupun lemah yang menunjukkan keutamaan beramal pada malam tersebut. Oleh karena itu, Nabi tidak menjelaskan secara khusus tentang malam itu."

Baca juga: Pendapat yang Menguatkan Isra Mikraj pada Malam 27 Rajab

Kesimpulan

Anggapan bahwa malam Isra' yang diperingati setiap tahun lebih utama daripada Lailatul Qadar adalah batil. Adapun keutamaan malam Isra' hanya berlaku pada malam khusus terjadinya peristiwa Isrā' bagi Nabi, tanpa ada pensyariatan ibadah tertentu, sehingga Lailatul Qadar tetap merupakan malam paling utama bagi umat Islam.

Referensi: Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani, Wahuwa bi al-Ufuqi al-A'la hal. 27-28.

Begitulah dua malam istimewa. Satu pesan utama Isra’ Mi’raj mengajarkan makna ketaatan, Lailatul Qadar menghadirkan keutamaan ibadah. Bukan untuk dibandingkan, tetapi dipahami agar setiap malam bernilai di sisi-Nya. Semoga bermanfaat dan barakah. Aamiin. (I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik