Headline

Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.

Alasan Allah Perjalankan Nabi Muhammad SAW dalam Isra Mikraj

Wisnu Arto Subari
16/1/2026 08:34
Alasan Allah Perjalankan Nabi Muhammad SAW dalam Isra Mikraj
Ilustrasi.(Freepik)

PERISTIWA Isra Mikraj merupakan salah satu tonggak sejarah paling agung dalam perjalanan dakwah Rasulullah SAW. Terjadi pada malam 27 Rajab, perjalanan melampaui dimensi ruang dan waktu ini sering kali dipandang hanya sebagai proses turunnya perintah salat.

Namun, jika kita menggali lebih dalam, terdapat alasan-alasan teologis, psikologis, dan strategis Allah SWT memilih momen tersebut untuk memperjalankan hamba-Nya yang paling mulia.

1. The Divine Healing: Menghibur Nabi di Tahun Kesedihan (Amul Huzni)

Alasan pertama dan yang paling menyentuh sisi kemanusiaan adalah sebagai bentuk hiburan langsung dari Allah SWT. Sebelum peristiwa ini terjadi, Rasulullah SAW berada dalam fase terberat hidupnya yang dikenal sebagai Amul Huzni atau Tahun Kesedihan.

Beliau kehilangan dua pilar pendukung utamanya yaitu Khadijah binti Khuwailid, istri tercinta yang menjadi pendukung finansial dan emosional, serta Abu Thalib, paman yang menjadi pelindung politik dari intimidasi kaum Quraisy.

Tak hanya itu, upaya dakwah Nabi ke Thaif juga disambut dengan lemparan batu dan penghinaan. Dalam kondisi psikologis yang tertekan inilah, Allah mengundang Nabi ke Sidratul Muntaha untuk menunjukkan bahwa meski penduduk bumi menolaknya, penduduk langit sangat memuliakannya.

2. Memperlihatkan Tanda-Tanda Kebesaran Allah (Li Nuriyahu min Ayatina)

Sebagaimana termaktub dalam Al-Qur'an Surah Al-Isra ayat 1, tujuan eksplisit dari perjalanan ini adalah agar Allah memperlihatkan sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya kepada Nabi Muhammad SAW.

"Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa... agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami." (QS. Al-Isra: 1)

Dalam perjalanan ini, Nabi diperlihatkan surga, neraka, serta keajaiban alam malakut yang tidak bisa dijangkau oleh panca indra manusia biasa. Hal ini bertujuan meningkatkan level keyakinan Nabi dari 'Ilmul Yaqin (keyakinan berdasarkan ilmu) menjadi 'Ainul Yaqin (keyakinan karena melihat langsung).

3. Menerima Perintah Salat Lima Waktu

Berbeda dengan syariat lain yang diturunkan melalui perantara Malaikat Jibril di bumi, ibadah salat diberikan langsung oleh Allah kepada Nabi di Sidratul Muntaha. Hal ini menunjukkan betapa istimewanya kedudukan salat dalam Islam.

Salat bukan sekadar kewajiban, melainkan mikraj-nya orang beriman. Ibadah ini menjadi sarana bagi hamba untuk berkomunikasi langsung dengan Sang Pencipta.

Baca juga: Tafsir Ayat Isra Mikraj dari Ath-Thabari, Ibnu Katsir, Wahbah Zuhaili

4. Menegaskan Universalitas Risalah Kenabian

Saat berada di Masjidil Aqsa, Nabi Muhammad SAW mengimami salat para nabi terdahulu. Peristiwa ini bukan sekadar simbolitas. 

Itu menjadi penegasan bahwa Nabi Muhammad adalah Khataman Nabiyyin (Penutup para Nabi) dan risalah yang dibawanya menyempurnakan ajaran-ajaran sebelumnya.

Hubungan antara Masjidil Haram di Mekkah dan Masjidil Aqsa di Palestina juga menyatukan mata rantai sejarah para nabi utusan Allah.

Baca juga: Pendapat yang Menguatkan Isra Mikraj pada Malam 27 Rajab

5. Persiapan Mental Menuju Fase Hijrah

Isra Mikraj terjadi sekitar satu tahun sebelum peristiwa Hijrah ke Madinah. Secara strategis, perjalanan spiritual ini menjadi bekal energi bagi Nabi dan para sahabat.

Setelah melihat kekuasaan Allah yang mutlak di langit, intimidasi kaum Quraisy di bumi terasa kecil dan tidak berarti. Ini penguatan mental sebelum Nabi memulai fase baru pembangunan negara Islam di Madinah.

Baca juga: Mandi Wajib tidak Boleh Pakai Sabun dan Sampo Ini Penjelasannya

Kesimpulan

Alasan Allah memperjalankan Nabi Muhammad SAW dalam Isra Mikraj mencakup aspek yang sangat luas, mulai dari penyembuhan luka hati (healing), pembuktian kekuasaan Ilahi, hingga penetapan pilar ibadah utama.

Bagi umat Islam modern, peristiwa ini mengajarkan bahwa di balik setiap kesulitan yang menghimpit, selalu ada 'undangan' dari Allah untuk mendekat dan melihat gambaran besar dari kekuasaan-Nya.

Baca juga: Sering Salah Kaprah, Benarkah Juz Amma Berarti Juz 30 Ini Penjelasan Asal-usulnya

Pertanyaan seputar Isra Mikraj

  1. Kapan terjadinya peristiwa Isra Mikraj? Sebagian besar ulama berpendapat terjadi pada malam 27 Rajab tahun ke-10 atau ke-11 kenabian.
  2. Apa perbedaan Isra dan Mikraj? Isra adalah perjalanan horizontal dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, sedangkan Mikraj adalah perjalanan vertikal ke langit ketujuh hingga Sidratul Muntaha.
  3. Apa itu Amul Huzni? Tahun Kesedihan, yaitu tahun istri Nabi (Khadijah) dan pamannya (Abu Thalib) wafat.
  4. Berapa waktu salat yang awalnya diperintahkan? Awalnya 50 waktu, kemudian diringankan menjadi 5 waktu atas saran Nabi Musa AS.
  5. Kendaraan apa yang digunakan Nabi? Buraq, makhluk yang langkahnya sejauh mata memandang.
  6. Siapa saja Nabi yang ditemui saat Mikraj? Di antaranya Nabi Adam, Isa, Yahya, Yusuf, Idris, Harun, Musa, dan Ibrahim AS.
  7. Mengapa Nabi harus ke Masjidil Aqsa dulu? Untuk menunjukkan keterhubungan risalah Islam dengan para nabi terdahulu yang banyak diutus di tanah Palestina.
  8. Apa hikmah Isra Mikraj bagi umat Islam saat ini? Pentingnya menjaga salat dan keyakinan bahwa pertolongan Allah selalu ada di tengah kesulitan.
  9. Apakah Nabi melihat Allah secara langsung? Terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama, namun mayoritas berpendapat Nabi melihat cahaya (nur) kebesaran-Nya.
  10. Apa bukti Isra Mikraj secara logis? Bagi orang beriman, bukti utamanya adalah Al-Qur'an. Secara sains, ini menunjukkan konsep ruang-waktu yang relatif di hadapan Sang Pencipta.

Baca juga: Urutan 30 Surat Juz Amma Lengkap Arab, Latin, dan Arti

Implementasi Hikmah Isra Mikraj

  • Perbaiki kualitas salat sebagai sarana Mikraj pribadi kepada Allah.
  • Jadikan zikir dan ibadah sebagai penyembuh (healing) saat menghadapi masalah hidup.
  • Tingkatkan literasi terhadap sejarah perjuangan Rasulullah SAW.
  • Jaga persaudaraan sesama muslim (Ukhuwah Islamiyah) sebagaimana Nabi menyatukan para nabi.

PENAFIAN

Artikel ini diolah dan disusun oleh kecerdasan buatan (AI) dan telah melalui proses penyuntingan serta verifikasi fakta oleh redaksi.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik