PERISTIWA Isra Mikraj sering kali dibahas sebagai mukjizat besar tentang perjalanan malam dan perintah salat lima waktu. Namun, jika kita melihat urutan sejarahnya (sirah), peristiwa agung ini terjadi tepat setelah Nabi Muhammad SAW mengalami duka beruntun.
Wafatnya Khadijah al-Kubra bukan sekadar kebetulan waktu. Ini merupakan bagian dari skenario ilahi untuk mempersiapkan jiwa Rasulullah menerima pertemuan tertinggi.
1. Amul Huzni: Titik Terendah dalam Perjuangan Nabi
Tahun ke-10 kenabian adalah masa yang sangat sulit. Setelah tiga tahun menderita akibat boikot ekonomi dari kaum kafir Quraisy, Nabi harus kehilangan Abu Thalib, benteng perlindungan politiknya.
Hanya berselang beberapa hari atau bulan (menurut perbedaan riwayat), Khadijah, pilar kekuatan emosional dan rumah tempat Nabi pulang, juga wafat.
Kehilangan ini membuat Nabi merasa sangat terasing. Tekanan kaum Quraisy semakin menjadi-jadi karena mereka merasa Nabi tidak lagi memiliki pelindung.
Di sinilah letak kemanusiaan Rasulullah. Beliau bersedih, tetapi tetap dalam koridor rida terhadap takdir Allah.
2. Khadijah: Sosok tidak Tergantikan di Hati Rasul
Mengapa kepergian Khadijah begitu memukul Nabi? Khadijah bukan sekadar istri, melainkan menteri penasihat dan pendukung finansial utama. Saat semua orang mendustakan Nabi, Khadijah-lah yang membenarkan. Saat orang lain menjauh, Khadijah-lah yang mendekat.
Wafatnya Khadijah membuat Nabi kehilangan tempat berbagi duka di dunia. Hal ini secara psikologis menempatkan Nabi pada kondisi beliau hanya memiliki Allah sebagai satu-satunya tempat bergantung sepenuhnya.
Baca juga: Cerita Rasulullah Dilempar Batu di Thaif Menjelang Isra Mikraj
3. Mengapa Isra Mikraj Terjadi setelah Khadijah Wafat?
Apakah Isra Mikraj adalah hiburan (Tasliyah) bagi Nabi?
Ya, para ulama menyebut Isra Mikraj sebagai Tasliyah atau hiburan dari Allah SWT. Setelah Nabi ditolak oleh penduduk Ta'if dengan lemparan batu dan kehilangan orang-orang tercinta di Mekah, Allah seolah ingin menunjukkan bahwa jika penduduk bumi menolakmu dan orang-orang tercintamu pergi, penduduk langit yaitu para malaikat dan nabi terdahulu menyambutmu dengan kemuliaan yang tak tertandingi.
Mengapa Allah tidak membiarkan Khadijah hidup sampai Isra Mikraj?
Ada hikmah mendalam di balik ini. Allah ingin memurnikan hati Rasulullah agar hanya bergantung kepada-Nya. Dengan wafatnya Abu Thalib (pelindung lahir) dan Khadijah (pelindung batin), Nabi Muhammad benar-benar dalam kondisi Inqitha' ilallah (terputus dari selain Allah). Dalam kondisi spiritual yang murni inilah, Nabi dipanggil menembus Sidratul Muntaha.
Baca juga: Mengapa Isra Mikraj Terjadi pada Malam Hari Ini Penjelasannya
4. Hubungan Duka Dunia dan Kemuliaan Langit
Isra Mikraj adalah bukti bahwa setelah kesulitan (kesedihan ditinggal Khadijah) pasti ada kemudahan (bertemu Allah). Allah ingin memperlihatkan kepada Nabi ayat-ayat kebesaran-Nya agar hati beliau menjadi tenang dan kuat kembali. Perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu naik ke langit tujuh, adalah pesan bahwa dakwah Islam akan melampaui batas-batas geografi dan kesedihan manusiawi.
Baca juga: Ujian Keimanan setelah Isra Mikraj, Belajar dari Abu Bakar
5. Hikmah bagi Umat Islam Masa Kini
Kisah ini mengajarkan kita bahwa ujian berat yang kita alami, termasuk kehilangan orang dicintai, sering kali merupakan persiapan untuk hadiah besar yang sedang Allah siapkan. Allah tidak pernah membiarkan hamba-Nya larut dalam duka tanpa memberikan jalan keluar yang lebih mulia.
Pelajaran dari Wafatnya Khadijah & Peristiwa Isra Mikraj
- Kesedihan adalah hal manusiawi, bahkan Nabi pun mengalaminya (Amul Huzni).
- Allah adalah satu-satunya pelindung sejati saat semua dukungan manusia hilang.
- Setiap kesulitan yang sangat menghimpit biasanya diikuti oleh mukjizat atau pertolongan besar.
- Isra Mikraj mengajarkan pentingnya menjaga hubungan dengan langit (salat) saat bumi terasa sempit.
- Setia mendampingi pasangan dalam dakwah adalah teladan utama dari Sayyidah Khadijah.
Baca juga: Tafsir Ayat Isra Mikraj dari Ath-Thabari, Ibnu Katsir, Wahbah Zuhaili
Pertanyaan Seputar Khadijah dan Isra Mikraj
- 1. Berapa usia Khadijah saat meninggal dunia?
- Sayyidah Khadijah wafat pada usia 65 tahun, setelah mendampingi Rasulullah selama kurang lebih 25 tahun masa pernikahan.
- 2. Berapa lama jarak antara wafatnya Khadijah dengan Isra Mikraj?
- Terdapat perbedaan pendapat di kalangan sejarawan, namun mayoritas menyebutkan Isra Mikraj terjadi sekitar satu tahun atau beberapa bulan setelah wafatnya Khadijah di tahun ke-10 kenabian.
- 3. Di mana Sayyidah Khadijah dimakamkan?
- Beliau dimakamkan di pemakaman Al-Ma'la, Mekkah. Rasulullah sendiri yang turun ke liang lahat untuk memakamkan beliau.
- 4. Apakah Nabi menikah lagi sebelum Isra Mikraj?
- Nabi Muhammad SAW menikah dengan Saudah binti Zam'ah tak lama setelah wafatnya Khadijah untuk membantu mengurus rumah tangga dan anak-anak beliau.
- 5. Apa pesan utama dari peristiwa Isra Mikraj terkait duka Nabi?
- Pesan utamanya adalah bahwa Allah selalu menyertai hamba-Nya yang bersabar dan bahwa kemuliaan di sisi Allah jauh lebih besar daripada penderitaan di dunia.
Baca juga: Urutan 30 Surat Juz Amma Lengkap Arab, Latin, dan Arti
Kesimpulan
Wafatnya Khadijah sebelum Isra Mikraj bukanlah sebuah kebetulan sejarah. Itu adalah proses pembersihan jiwa dan penguatan tauhid bagi Rasulullah SAW. Allah mengambil cinta dunia yang paling berharga dari Nabi agar beliau siap menerima cinta langit yang paling agung. Bagi kita, kisah ini adalah pengingat bahwa di balik setiap tetes air mata duka, ada undangan Allah untuk mendekat kepada-Nya melalui sujud dan doa.
PENAFIAN
Artikel ini diolah dan disusun oleh kecerdasan buatan (AI) dan telah melalui proses penyuntingan serta verifikasi fakta oleh redaksi.
